Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 36 Toko Bakery (Part II)


__ADS_3

Berkali-kali Nadin menghubungi nomor Ardi namun tetap saja hasilnya nihil, bagaimana tidak nomor yang di hubungi adalah nomor lama Ardi tentu saja tidak akan tersambung sampai kapan pun. Nadin merasa sangat frustasi.


"Din kamu tahu betapa aku menyayangi foto ini" ucap wanita yang hendak berdiri di sebelah Nadin dengan tangan mengengam erat sebuah bingkai foto.


"Iya mbak, Nadin mengerti."


"Hanya foto ini yang tersisa dan dapat aku lihat setiap harinya. Wanita itu menghancurkan semuanya. Toko yang ku rintis dari nol. Kau tahu, toko ini adalah peninggalan terakhir ayahku. Kau tahu betapa berharganya semua ini" berjalan mengelilingi ruangan yang berantakan itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Setelah itu Nadin berinisiatif untuk menghubungi Man. Namun Man tidak menjawab panggilan dari Nadin. Setelahnya Nadin mengirim pesan singkat kepada Man.


Segera ke toko bakery mbak Caca. Airin dan beberapa orang menghancurkan semua isi toko.


Semua orang yang berada dalam toko membersihkan dan menata kembali isi toko yang hancur. Namun tetap saja tak dapat kembali seperti semula. Toko itu harus di renovasi kembali. Nadin menutup toko agar tak ada pengunjung.


"Din, kalian bereskan semuanya dulu, mbak mau istirahat" menaiki anak tangga menuju lantai atas dengan foto di pelukannya.


"Iya mbak, sebaiknya mbak istirahat. Nadin dan semuanya akan melanjutkan membersihkan tempat ini" Nadin mengantar Caca menuju lantai atas dan setelahnya turun kembali.


Ardi yang sibuk meeting di kantornya tak mengetahui ulah yang di lakukan mantan kekasihnya itu.


Setelah beberapa pekerjaannya selesai Man kembali ke ruangannya dan mengambil ponselnya yang berada di saku celananya. Setelahnya membaca sebuah pesan singkat dari Nadin. Man segera kembali ke ruangan Ardi.


"Pak saya mendapatkan pesan singkat dari pegawai nona Caca" menunjukan pesan yang tertera di layar ponselnya.


Ardi segera membuka laptop yang terdapat di atas meja kerjanya itu untuk melihat apa yang terjadi di toko bakery milik Caca. Seketika raut wajah Ardi berubah seperti harimau yang akan menerkam mangsanya.


"Man segera temukan wanita itu. Bawa kehadapanku" suara Ardi terdengar mencengkram dengan langkah yang begitu cepat menuju lantai bawa.


"Baik pak" Man menjawab dengan tegas dan mengikuti langkah Ardi.


Kau akan tamat Airin.

__ADS_1


Ardi dan seketarisnya bergegas menuju tempat parkir. Mereka menuju mobil masing-masing dan melaju dengan berlawanan arah.


Selang beberapa jam Ardi tiba di depan toko. Mata Ardi tertuju melihat pemandangan yang lebih buruk dari yang ia pikirkan.


"Ardi maafkan aku. Aku hanya ingin menemuinya. Tapi wanita ini beserta pegawainya mengamuk hingga membuat tempat ini menjadi hancur. Mereka ingin mencemarkan nama baikku" Airin menatap tajam wajah yang tertunduk dengan mata yang sembab di dalam toko dan kembali menatap wajah Ardi dengan memelas.


Ardi membisu dihadapannya.


"Kau lihat luka ini. Wanita itu dan pegawainya yang melakukan semua ini padaku" menunjukkan bagian-bagian tubuhnya yang terluka dan berceceran darah.


Caca hanya terdiam menyaksikan drama yang dilakukan Airin. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan suaminya dalam keadaan seperti ini. Adakah kepercayaan untuknya atau lebih memilih mempercayai wanita yang beberapa waktu lalu bersama Ardi.


"Pak Ardi wanita itu membuat telah berbohong, sebenarnya......." teriak Nadin yang diikuti pegawai lainnya.


"Diam kalian, tidak puaskah apa yang kalian lakukan ini padaku" Airin menyela dengan berteriak menunjukkan bagian tangannya yang terluka.


Ayo Airin katakanlah kejujuran jika kau ingin selamat.


Ardi bertambah geram menyaksikan tindakan Airin. Ia tak ingin mendekati istrinya sebelum memberikan hukuman terhadap Airin. Ardi merasa sangat bersalah terhadap Caca. Ingin rasanya ia merangkul dan mengusap air mata yang menetes di pipi istrinya.


Bagaimana mungkin suami yang sangat aku sayangi ini lebih mempercayai wanita lain dari pada diriku.


Airin dengan sigap menghubungi polisi, dengan bangga ia mendekati Ardi.


Bagaimana Ardi. Ini hanya rencana kecil yang aku buat. Kau akan memohon ampunan dariku.


"Airin menjauhlah dariku, segera bersihkan lukamu" dengan tenang Ardi menahan amarahnya.


"Aku tidak bisa membersihkannya sendiri" memelas dengan sempurna di hadapan Ardi.


"Caca istriku bantu lah wanita ini membersihkan lukannya. Dan satu lagi berikan pelayanan yang terbaik padanya sebelum polisi datang kemari" perintah Ardi kepada istrinya.

__ADS_1


Maafkan aku sayang. Aku melakukan ini semua untukmu. Aku tak akan mengampuni wanita ini.


Nadin dan semua pegawai merasa aneh dengan sikap yang di lakukan Ardi.


"Maaf pak Ardi. apa ini hukuman untuk seseorang yang sama sekali tidak melakukan kesalahan" ucap Nadin dengan marahnya.


"Nadin, biarkan saja. Mbak akan membersihkan luka Airin" air mata terus mengalir di wajah Caca dengan pelan ia meraih tangan Airin dan membawanya mencari kotak obat.


"Mbak,,,,, Seandainya Nadin tahu akan seperti ini. Nadin tidak akan pernah menghubungi Mansur. Pak Ardi jahat, apa salah mbak Caca" Nadin menangis tersenduh dengan kelakuan Ardi pada Caca.


Caca membersihkan dan mengobati setiap bagian tangan Airin yang luka tanpa sebab. Air matanya yang terus mengalir. Sementara Airin merasa sangat bahagia dengan perlakuan Ardi.


Aku berhasil.


Airin merasa bangga dengan perbuatannya. Ia merasa berhasil menghancurkan Caca. Bukan hanya itu saja ia tertawa bahagia di hadapan Caca dan memberikan ancaman terhadap Caca.


"Setelah ini tinggalkan Ardi. Apa kamu mengerti" berbisik di telinga Caca.


"Airin di atas langit masih ada langit. Ingat lah akan hal itu. Aku bisa saja diam untuk semua yang kau lakukan padaku hari ini bahkan aku tetap diam untuk yang kau lakukan 1 tahun lalu dalam hidupku. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tak akan pernah meninggalkan suamiku" Caca tersenyum.


"Hahahhaha, kau bisa lihat perlakuan Ardi padaku. Itu sebagian kecil yang bisa aku lakukan padamu" jawab Airin dengan sombongnya.


"Kali ini mungkin kau benar. Namun kau juga harus tahu Airin. Hari ini belum berakhir" menghapus air matanya.


Ardi hanya menyaksikan drama yang ia buat di hadapannya itu. Ardi melakukan ini dengan alasan tersendiri setelah ia melihat rekaman CCTV di toko Caca melalui ponselnya yang dipakai untuk memantau istrinya selama di perjalanan. Ia sangat terpukul atas kelalaiannya hari ini. Ia merasa tak sanggup melihat setiap tetesan air mata istrinya namun ia harus melakukannya.


Ardi menghubungi Man agar segera ke toko Caca dengan membawa beberapa orang untuk berjaga-jaga.


Man kau juga akan mendapatkan hukuman. Kau membuat aku sangat sibuk hari ini, hingga aku lupa pertemuan tadi pagi dengan Airin. Istriku yang malang.


***JANGAN LUPA BERIKAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE JUGA YAH....

__ADS_1


TERIMA KASIH DUKUNGAN UNTUK MENAMBAH SEMANGAT AUTHOR BERKARYA....💗💗💗


JANGAN BOSAN DENGAN CERITANYA CACA, BERIKAN KRITIK DAN SARAN POSITIF UNTUK AUTHOR AGAR DAPAT MENJADI LEBIH BAIK***


__ADS_2