Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 53


__ADS_3

Mata Caca merasa takjub dengan apa yang ia lihat dihadapannya. Toko sederhana yang semulanya hanya dua lantai, kini telah terlihat begitu megah. Bukan hanya itu saja tetapi di toko itu telah disiapkan beberapa pegawai yang akan mengurus semua kebutuhan toko itu. pegawai yang ada di sana telah disibukkan dengan beberapa pekerjaan.


Apakah aku hanya bermimpi?


Caca berkali-laki mengusap kedua matanya.


Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko itu. Matanya nanar tanpa berkedip memandang sebuah lukisan indah yang ada di dalam tokonya itu. Foto yang dulunya di dalam bingkai kecil yang telah usang kini menjadi sebuah lukisan besar yang indah. Caca perlahan meneteskan air matanya untuk kebahagiaan yang tiada tara.


"Terima kasih, kamu adalah lelaki terbaikku!" Caca memeluk laki-laki yang berada di sampingnya.


"Kamu memang pantas untuk mendapatkannya."


"Semua ini terlalu mahal untukku. kamu pasti mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk semua ini."


"Tidak begitu besar, aku hanya mengeluarkan beberapa lembar uang di dalam kantong ku. Hitung-hitung untuk ganti rugi diskon waktu itu" kata Ardi, lalu tertawa dan berjalan meninggalkan istrinya yang sedang konsentrasi mengamati seisi tokonya.


Caca hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Caca tiada henti memandang lukisan besar yang tertempel di dinding toko itu.


"Ayah, dia telah mengabulkan semua keinginan Ayah yang sempat tertunda. Apakah Ayah melihatnya, toko ayah yang kecil dulu kini telah menjadi Megah. Caca sangat beruntung telah memiliki laki-laki seperti Ardi" ucap Caca dalam hati kepada lukisan besar yang ada di hadapannya.


"Mbak Caca, apa benar ini toko bakery itu?" ucap seseorang yang memecah keheningan nya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam. Maaf Mbak, toko ini membuat Nadin melupakannya.Toko ini bakery sangat megah mbak, Nadin rasa tidak percaya dengan semua ini" ucap wanita itu itu.

__ADS_1


"Mbak pun merasa begitu."


"Oh iya mbak, pegawainya banyak sekali lalu apa yang akan kita lakukan lagi. Semuanya telah mereka selesaikan, lalu Nadin bagaimana?"


"Kamu yang akan menangani toko ini, sementara istri ku akan istirahat dirumah. Aku tidak ingin membebani dirinya dengan apapun" seseorang menyela pembicaraan mereka.


"Apa? sayang, aku ingin bekerja. Jangan lakukan itu padaku, aku tidak mungkin hanya berdiam diri di rumah" ucap Caca untuk meminta keadilan kepada suaminya itu.


"Keputusan ku sudah bulat, kamu harus mematuhinya. Jika kamu ikut bekerja, bagaimana dengan Nadin? apa yang akan ia lakukan" Ardi memberi alasan.


Benar sekali. Kasian Nadin, aku takut ia akan merasa tersisih.


Setelah berpikir jernih, Caca pun menyetujui keputusan suaminya itu.


"Baiklah pak direktur. Tapi kamu harus memenuhi syaratnya, Bagaimana?"


"Kapan pun aku ingin kemari, kamu tidak boleh melarangnya sedikit pun" ucap Caca.


"Baiklah, aku akan mengizinkannya. Kamu tenang saja, aku tidak akan mengambil senyum yang terukir di wajah istriku yang cantik ini."


"Oh iya Din, mulai sekarang kamu yang akan ngurus dan mengawasi toko. Mbak mempercayakan semuannya kepadamu. Apa kamu setuju?" Caca hampir melupakan seseorang yang berada di sampingnya itu.


"Apapun keputusannya, Nadin selalu setuju mbak. Nadin permisi sebentar mbak, masih ingin melihat ruangan yang lainnya" ia berjalan melangkahkan kakinya mengecek setiap ruangan.


Toko yang sangat megah.

__ADS_1


Nadin berjalan terus hingga ke lantai atas. Ia sontak terkejut dengan pintu yang telah dipasang di lantai atas. bukan hanya pintu, tetapi disana ada lagi sebuah tangga menuju lantai akhir.


"Mbak Caca, apa mbak sudah melihat disini?" kata Nadin berteriak.


Caca segera berlari menuju lantai atas. Lalu naik lagi ke lantai selanjutnya.


"Apa yang terjadi?" ucapnya sambil berlari. Langkahnya terhenti setelah masuk dan melihat ruangan itu seperti di sebuah hotel, ranjang besar dengan fasilitas mewah didalamnya. Bukan hanya tempat tidur namun disana disediakan semua peralatan memasak dan lainnya.


"Sayang, cepat kemari."


Hanya dengan sebuah teriakan, suaminya itu telah berada di hadapannya.


"Apa kamu menyukainya?" ucap Ardi.


"Semua ini sangat luar biasa" Caca menggeleng-gelengkan kepalanya dengan rasa tidak percaya.


"Aku sengaja membuatnya seperti ini, kamu pasti membutuhkannya jika berkunjung kemari. Di lantai kedua aku khususkan untuk siapa pun yang akan menghuninya" ucap Ardi dengan santainya.


"Pak Ardi, apakah Nadin boleh tinggal di lantai dua?" ia bertanya.


"Tentu."


Dilantai dua juga sama, namun sedikit berbeda. Di sana tidaklah semegah lantai akhir, Namun bagi Nadin itu lebih mewah dari rumahnya.


"Nadin, mbak akan sering datang kemari nantinya."

__ADS_1


"Iya mbak, Nadin akan tinggal disini. Jadi Nadin tidak perlu bolak balik lagi. Terima kasih pak Ardi" ucap nya pada Caca. Lalu menundukkan kepalanya kepada laki-laki yang berada di ruangan itu.


__ADS_2