
Kebahagiaan Caca kini semakin lengkap, namun tidak selengkap apa yang mereka lihat. Penantiannya terhadap sang buah hati sampai saat ini masih belum ada tanda-tandanya.
Seringkali Caca merenungi semua ini, tuntutan mertua yang selalu membuat ia merasa sedih. Caca dan Ardi telah berusaha sebisa mereka, namun yang kuasa belum menitipkan benih-benih cinta mereka.
Kalau itu Caca merasa sangat bersedih, iya tidak sengaja mendengar keluhan mertuanya kepada suami Caca.
"Sampai kapan mama akan menunggu, ini sudah sangat lama. Mama butuh cucu?" ucap Ratna kepada putranya.
"Ma, Ardi dan Caca pun telah berusaha. Mungkin belum saatnya."
Seseorang memperhatikan mereka dari balik pintu. Dia menangis mendengar ucapan itu.
Ya Tuhan, titipkan satu saja di dalam rahimku ini seorang putra atau pun putri. Berilah aku keturunan.
Dia menjatuhkan air matanya di lantai hingga membasahi lantai. Caca menutup pintu perlahan agar mereka tak mengetahui kehadirannya. Ia hanya mendengarkan pembicaraan itu.
"Ardi, pernikahan kalian sudah menginjak satu tahun. Mana mungkin selama itu? rumah tangga yang tidak lengkap."
" Ma, kebahagian dan keromantisan rumah tangga Ardi tidak terletak pada keturunan saja. Ardi yakin jika waktunya tiba, Ardi akan memilikinya nanti" Ardi merasa sangat geram dengan keluhan mamanya.
"Jika dalam tiga bulan kedepan istri kamu tidak mengandung. Mama sarankan kamu menikah lagi. Apa kamu mengerti?"
Seseorang di balik pintu yang tertutup terduduk kaku. Saat itu tubuhnya terasa sangat berat hingga ia tidak mampu berdiri.
"Apa yang mama katakan, Ardi tidak akan menghianati istri Ardi. Tidak mungkin aku harus kehilangan istriku demi seorang cucu. Itu sngt mustahil. Maaf ma, sepertinya kita berdua di dlm jalur yang berbeda. Entah apa yang merubah diri mama?" Ardi hendak pergi meninggalkan wanita itu.
"Tunggu, mama tidak ingin mendengar apapun dari kamu. Dengar, istri kamu mandul. Apa kamu mendengarnya!" Ratna berdiri dan berjalan keluar mendahului Ardi.
Ardi tidak mengubris ucapan mamanya.
Tuhan apa kesalahanku hingga kau tidak yakin menitipkan seseorang kepadaku.
Mendengar semua itu, seseorang tersenyum licik.
Rasakan itu, ini tidak seberapa di bandingkan perlakuan ayah mu padaku.
Caca berdiri perlahan menghampiri tepi ranjang tempat tidurnya, ia meraba setiap setiap setiap tempat yang pernah ia tiduri.
Bagaimana jika dalam waktu tiga bulan aku tak kunjung hamil. Apakah Ardi akan menikah lagi? Lalu bagaimana dengan ku.
Caca bersandar di pinggiran tempat tidur.
__ADS_1
Ceklek
Seseorang membuka pintu dan Caca menghapus bulir bening yang menetes di pelupuk matanya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan disini?" Ardi melempar sebuah pertanyaan kepada istrinya yang tersandar dengan mata yang masih basah.
Caca membalikkan pandangannya agar Ardi tidak melihat kesedihannya.
"Aku tahu, kamu mendengar semuanya. Percaya lah semua itu tidak akan pernah terjadi, Ibu negaraku" Ardi memeluk istrinya dengan sangat erat. Sebenarnya ia pun ingin menangis tetapi egonya lebih tinggi dari air matanya.
"Apa kamu akan menikah lagi?"
"Sssstttttttt!!" Ardi membungkam mulut istrinya dengan sebuah ciuman.
"Jangan pernah katakan itu, aku hanya milikmu dan kamu hanya miliku. Aku yakin jika tiba saat maka kita akan memiliki putra dan putri yang lucu" Ardi menghibur wanita di pelukannya itu.
"Rumah tang kita tidak lengkap tanpa tangisan seorang bayi" Caca menumpahkan bulir bening itu kembali.
"Jika hanya untuk sebuah tangisan, aku tidak memerlukan seorang bayi. Diri mu saja sudah cukup untuk melakukannya" canda Ardi yang membuat istrinya mulai tersenyum.
"Jahat" Caca memukul bidang datar di hadapannya itu, lalu memeluknya.
Aku akan melakukan apapun demi kebahagian mu.
"Baiklah, terima kasih suamiku" Caca memberikan kecupan ringan di kening suaminya lalu beranjak pergi.
Ibu negara, aku akan melakukan apapun demi senyum itu.
Caca meninggalkan Ardi dan berjalan menuju dapur.
"Bi, bibi" Caca berteriak memanggil seseorang di dapur.
"Iya Bu, maaf. Bibi menerima panggilan telpon dari seseorang di belakang. Ada apa ya Bu?" wanita itu secepat kilat menyimpan ponsel di tangannya.
"Bibi masak yang banyak hari ini, teman Caca akan main ke sini" ucap Caca.
"Baik Bu" jawabnya.
"Oh iya Bi, jangan lupa buat cemilan juga yah" Caca meninggalkan tempat itu.
Dengan sergap wanita itu melakukan apa yang telah di perintahkan.
__ADS_1
Caca kembali ke kamar menyiapkan baju kerja Ardi. Ia mencoba melupakan ucapan ibu mertuanya.
Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku di posisi mama.
Caca melayani suaminya dengan sangat baik. Ardi memandang istrinya sejenak setelah selesai mandi.
"Bagaimana mama mengatakan hal seperti itu? Aku tidak akan pernah menemukan istri seperti dirinya. Di belahan dunia mana pun tidak ada wanita setulus dia. Walau apa pun yang terjadi ia tidak pernah mengeluh, dia lah wanita terbaik ku yang tak akan pernah ada gantinya" ucap Ardi dalam hati, lalu memakai baju yang telah di siapkan istrinya.
"Sekarang bersiaplah dengan cepat aku tidak ingin suamiku terlambat. Pekerjaan di kantor telah menunggumu" Caca membawa tas kerja Ardi keluar.
"Siap ibu negara. Suami mu ini akan menjalankan perintah" kata Ardi tertawa.
Caca tersenyum tipis melirik suaminya sekilas lalu melanjutkan langkah kakinya. Caca berdiri di depan pintu menunggu suaminya.
"Caca" ucap sahabatnya dengan melambaikan tangan setelah memasuki halaman rumah.
"Hei kalian" Caca pun ikut melambaikan tangannya.
"Assalamualaikum" salam dari dua sahabatnya itu setelah mematikan kontak motornya.
"Wa'alaikum salam, kalian sangat cerdas. Kalian mampu kemari tanpa harus aku share alamatnya."
"Bukan cerdas. Mana mungkin sulit mencari pemilik toko bakery terbesar di kota ini, kamu sangat sukses Ca. Toko kecil itu kini berkembang dengan sangat pesat."
Ardi muncul dari balik pintu.
"Hai kalian" Ardi menyapa teman Caca yang sekaligus temannya juga.
"Hai juga. Maaf ya kami kemari tanpa izin darimu."
"Tidak usah sungkan. Kalian dapat kemari kapan pun kalian suka" ucap Ardi lalu berpamitan kepada istrinya.
Setelah keberangkatan Ardi, mereka semua masuk kedalam rumah.
"Rumah kalian luas sekali, ada berapa orang di dalam rumah ini?" ucap Septi setelah menatap sekeliling rumah itu.
"Tiga orang. Aku, Ardi dan bi Yumi."
"Apa? rumah seluas ini hanya di huni tiga orang" ucap Tika berkerak takjub.
"Kalian sangat bahagia, kalian memiliki semuanya. Aku jadi iri ni!"
__ADS_1
"Ini hanya kebahagian semu. Aku memiliki segalanya, namun aku tidak memiliki seorang putra maupun putri. Kebahagian ini kurang lengkap?" Caca tertekun setelah berucap.
Mereka membahas banyak hal hari itu. Caca berbagi kesedihannya kepada dua sahabatnya itu. Kedua sahabatnya itu merasa sangat sedih dengan semua ucapan Caca.