
Teriakan tangis seorang wanita muda terdengar sangat jelas disebuah toko bakery. Sementara pegawai yang lainnya hanya lalu lalang saja melintasinya dan melanjutkan aktivitas mereka karena tak berani mengucapkan sedikit kata pun.
"Jangan lakukan itu padaku pak, maafkan atas semua ucapan ku tanpa sengaja itu" ucap wanita muda dalam tangisnya.
"Pandailah berterima kasih untuk setiap apapun kebaikan yang di lakukan seseorang. Bukan hanya sekali ini kau melukai hati istriku, hanya karena itu dirimu. Jika orang lain mungkin kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu" jawaban seorang laki-laki dengan sangat tegas.
"Aku hanya terhanyut dengan amarah ku, pak Ardi. Mohon maafkan aku?" wanita itu kembali memohon kepada laki-laki yang di hadapannya.
Apa bedanya diriku dan kalian. Kalian egois, lihat saja nanti. Apa yang akan aku lakukan pada kalian.
"Meminta maaf lah pada istriku" Ardi meninggalkannya yang masih terisak tangis.
Aku harus mendengar penjelasan Man. Laki-laki itu membuat ku sangat gila, jika kau hadirkan Nadin dalam luka istriku maka Risa harus tahu apa yang kau lakukan di belakangnya.
"Pak Ardi, aku akan lakukan semua yang bapak katakan!" kata Nadin berteriak.
__ADS_1
Ardi tak mengubris teriakan itu, ia terus berjalan dan masuk ke dalam mobilnya. Perlahan ia menginjak pedas gas dan melajukan mobil dengan sangat kencang.
Setelah kepergian Ardi wanita itu dengan cepat menghapus air matanya.
Rasa sakit ku tak sebanding dengan ucapan yang aku lontarkan padanya. Kalian tidak akan mengerti bagaimana jadi diriku, hidup hanya sebatang kara karena ulah keluarga kalian. Maafkan aku mbak Caca. Mbak harus ikut bagian dari sakit hatiku. Aku sangat egois membawa dia yang tidak bersalah dalam amarahku. Jika mbak bukan bagian dari hidup keluarga Ardi, Nadin tidak akan membuat Mbak seperti ini.
Walaupun ia telah melakukan apapun kepada Caca, namun Nadin pun ikut terluka saat melukai hati Caca. Entah apa yang di sembunyikan Nadin sebenarnya. Hanya Nadin lah yang mengetahui semuanya.
**
"Man, Man" Ardi terus berteriak mencari keberadaan laki-laki itu.
Ardi berjalan terus tak menghiraukan siapa pun yang menyapanya. Ardi masuk ke dalam ruangannya, tidak begitu lama seseorang yang ia cari masuk ke dalam ruangan itu.
Ardi terlihat sangat marah, Man duduk dengan tenang di hadapannya. Ia mulai bercakap-cakap dengan Ardi dan Ardi mendengarkanya dengan seksama. Kali ini Ardi terlihat sangat tenang dan ia mendengarkan Man dengan tenang.
__ADS_1
Setelah berbicara panjang lebar, mereka berdua keluar dari ruang itu. Mereka terlihat sangat santai setelah melakukan pembicaraan yang panjang lebar.
"Man, pergilah" tugas Ardi pada seketarisnya itu.
"Baik pak, apakah ada yang lain pak?" jawabnya.
"Tidak, kamu selesaikan semua itu. Lalu segeralah kembali."
"Baik pak."
Man mengeluarkan benda pipih yang ada di saku kanan celana nya lalu menekan kontak seseorang dan berbicara kepadanya. Ia segera pergi setelah mengakhiri panggilan itu.
Man berjalan dengan sangat cepat menuju tempat parkir dan segera masuk ke dalam mobilnya hingga melaju dengan pelan
Untuk semua yang aku lakukan demi kebaikan mu, pak. Aku akan merasa bersalah jika kehancuran menimpa keluargamu. Semua yang kau lakukan untukku dan Risa, tidak mungkin aku lupakan. Untuk itu akan akan melakukan apapun demi kebahagian rumah tangga bapak.
__ADS_1