
Sore itu Ardi melaju menuju toko untuk menjemput Caca sementara Man mendatangi asrama di mana Yudha tinggal. Man bukan seorang lelaki bertubuh kekar dan berotot, sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan Yudha yang memiliki bentuk tubuh yang kekar dan berotot idaman para pria namun kelicikannya dapat menghancurkan siapapun. Man ada orang yang sangat dipercaya Ardi melebihi dirinya sendiri. Man datang dengan beberapa orang.
Kedatangan Man tentu membuat Yudha begitu terkejut. Yudha yang berada di depan asrama langsung menyapa Man dengan tatapan sinis.
"Ada apa kamu datang kemari" tanya Yudha.
"Yudha si abdi negara, apa kamu tak mendengar peringatan yang pernah ku katakan" jawab Man.
"Hei, siapa kamu yang berani memerintahku. Jangan pernah mengancam di tempatku. Aku tidak seperti dirimu" jawabnya dengan sombong.
"Yudha, apa kamu lupa dengan semua yang aku katakan. Apa kau tidak perduli dengan seragam yang pakai atau kau telah bosan untuk memakainya" ucap Man dengan nada tinggi.
"Pergilah kamu dari sini. Profesiku tidak ada hubungannya dengan semua ini. Jangan samakan diriku dengan dirimu, aku tidak tunduk kepada siapapun" Yudha menjawab dengan tenang.
"Baiklah, aku hanya memberikan peringan terakhir untukmu. Jika tak ingin menyesal. Bukankah kamu tahu wanita yang kamu temui itu adalah wanita bersuami. Bisa saja kamu ditutut dengan tuduhan mengganggu istri orang lain, dan satu lagi aku bukan tunduk tetapi aku seseorang yang setia bukan penghianat seperti dirimu" kata-kata terakhir yang di bisikkan Man di telinga Yudha dan pergi meninggalkan asrama Yudha.
Yudha terdiam mendengar peringatan Man dan mengenang hal-hal gila yang dapat dilakukan pria yang berada dihadapannya itu.
Apa yang kulakukan, ada apa dengan aku ini, mengapa kurasakan sakit melihat hubungan Caca dan Ardi. Bukankah ini adalah kesalahan yang ku buat sendiri. Tidak.. Tidak.. Semua ini karena kesalahan Airin. Wanita itu harus bertanggung jawab untuk semua hidup yang kualami ini. Aku tidak rela melihat dirinya menjadi istri sahabatku sendiri.
***
Malam itu mobil yang dikendarai seorang wanita menerobos masuk melewati pagar yang dibuka penjaga. Mobil yang melaju sangat kencang itu pun berhenti di depan rumah Ardi. Wanita menuruni mobilnya dan melangkahkan kakinya.
"Ardi... Ardi...Ardi..." teriak wanita itu dengan ketukan pintu yang begitu keras.
Selang beberapa menit seseorang membuka pintu pintu itu dengan tenang.
"Ada keperluan apa kamu datang kemari" ucap Ardi setelah membuka pintu yang diiringi Caca dibelakangnya.
"Ada keperluan apa kamu bilang, setelah apa yang kamu lakukan padaku. Kamu harus bertanggung jawab untuk semua yang kamu lakukan" teriaknya dengan lantang dan menatap sinis wanita yang berada di samping Ardi.
__ADS_1
Caca sedikit binggung dengan adegan yang ada di hadapannya, namun ia tak ingin ambil pusing. Ia hanya menyaksikan hal-hal apa saja yang akan dilakukan wanita itu dirumahnya. Caca tak ingin terlalu memikirkan wanita yang sama sekali tidak penting itu.
"Bukankah itu akibat perbuatanmu sendiri, jangan coba-coba menentang ku jika kamu tidak ingin aku melakukan hal yang lebih dari itu" Ardi menjawabnya dengan tenang.
"Aarrrdiii..." ia mengangkat tangan untuk memberikan tamparan diwajah Ardi.
"Apa kau ingin aku mematahkan tanganmu ini" Ardi menepisnya" Bukankah aku telah memberika peringatan kepadamu. Tapi kau tak menghiraukannya. Jadi terimalah akibatnya, nikmati saja buah dari hasil perbuatan yang kau tanam padaku.
"Kamu yang menyebabkan semua ini. Aku sangat membencimu, apa tidak ada laki-laki lain selain Ardi yang bisa kamu nikahi. Tunggu pembalasan ku, aku tidak akan pernah diam dengan semua ini" Airin menunjuk wajah Caca dengan geramnya namun wanita yang ia tunjuk itu hanya memberikan senyuman. Raut wajah Airin bertambah geram.
"Airin kamu tidak akan mendapatkan ketenangan dengan sikapmu. Belajar lah ikhlas jika kau ingin bahagia. Apapun yang kamu lakukan kepadaku itu akan menyakiti dirimu sendiri. Aku kasian terhadapmu, untuk pertama kalinya aku melihat wanita yang tidak tahu malu seperti dirimu" akhirnya Caca membuka mulut setelah diam terlalu lama.
"Jangan sok mengajari aku. Memangnya siapa kamu. Wanita yang hanya di permainkan laki-laki, apa bedanya aku dengan dirimu" jawab Airin dengan sombong.
"Pak usir wanita ini. Jangan biarkan dia masuk kemari lagi" teriak Ardi kepada penjaga. " ku peringatkan sekali lagi kepadamu. Jauhi hidupku dan istriku jika kau tak ingin kehidupanmu lebih hancur dari sekarang ini."
Penjaga menarik tangan Airin dan membawanya ke dalam mobil.
Mobilnya pun melaju pergi meninggalkan kediaman Ardi.
***
"Ada apa dengan Airin, apa kamu melakukan sesuatu kepadanya?" tanya Caca setelah menutup pintu rumahnya.
"Entah lah sayang, mungkin ia lelah. Aku tidak melakukan apapun, semua itu Man yang melakukannya. Jika air harus marah, maka marah lah kepada Man " ucap Ardi lalu merangkul istrinya menaiki anak tangga menuju kamar atas.
"Lelah bagaimana sayang, bukankah ia sangat marah, yang dilakukan manitou atas perintah mu. Apa aku sebodoh itu sehingga kamu dapat menipu ku" ucapnya.
"Biarkan saja, dia sangat pantas mendapatkan semua itu. Apa kamu tidak marah dengannya?" tanya Ardi.
"Marah, untuk apa sayang. Aku kasian kepadanya" jawab Caca.
__ADS_1
" Itu si Airin datang kemari, Apa kamu tidak marah dan cemburu terus kabur seperti waktu itu" jawabnya menurunkan istrinya yang ia rangkul.
"Untuk apa aku marah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku sangat percaya kepada dirimu" ucapnya berjalan mendahui Ardi.
Aku pun begitu. Aku sangat mempercayaimu lebih dari diriku sendiri.
"Oh iya sayang, tadi Yudha datang ke toko" ungkap Caca lalu berbalik menghadap suaminya.
"Terus apa yang dilakukannya" Ardi berpura-pura tidak tahu dengan kedatangan Yudha.
Aku tahu semua kegiatan yang kamu lakukan di toko, apa kamu tidak melihat kamera yang aku pasang di segala sudut tokomu itu.
"Tidak ada, ia hanya ingin menjelaskan sesuatu. Lalu aku mengusirnya dari tempat itu, entah apa yang ingin ia jelaskan kepadaku. Aku tidak ingin mendengarnya" jelasnya.
"Oh.. Bagus lah, kamu melakukan hal yang benar sayang" jawab Ardi.
"Apa kamu tidak marah?" tanya Caca.
"Tentu tidak. Bukan kah istriku ini telah menjelaskannya" mencium bibir istrinya itu.
"Terima kasih sayang, kamu telah mengerti" ucap Caca.
"Iya. Tapi bukan berarti aku mengizinkan istriku bertemu dengannya lagi. Itu untuk terakhir kalinya, kamu hanya milikku. Aku tak ingin laki-laki lain menyukai istriku terutama Yudha. Jika dia berani mendekatimu, aku akan melupakan kalau dia adalah sahabatku" Ardi memperingatkan.
"Iya sayang" memeluk Ardi untuk mencairkan hati suaminya itu.
"Sepertinya kamu mulai memahami keinginanku.." membalas pelukan istrinya dengan erat.
JANGAN LUPA BERIKAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE NYA JUGA YAH...
TERIMA KASIH TELAH MEMBANTU AUTOR BERKARYA..
__ADS_1
SEMOGA TAK PERNAH BOSAN DENGAN CERITANYA CACA....