
Semuanya menjadi tegang setelah kedatangan Man dan beberapa orang, tak lama kemudian muncul polisi yang di hubungi Airin. Airin yang berada di dalam toko bergegas keluar dan membuat laporan palsu menyudutkan Caca dan beberapa pegawai yang ada, kepada polisi.
"Wanita itu dan pegawainya melukai saya. Bukti di tubuh saya ini sudah sangat jelas" ucap Airin yang diiringi tangisan liciknya.
"Pak, silakan tangkap wanita yang membuat laporan palsu itu, drama yang kau telah berakhir" kecam Ardi.
"Ardi, apa yang kau lakukan. Aku adalah korban, lepaskan aku. Mereka lah yang harus di tangkap" tatapan tajam Airin menuju ke arah Caca dan pegawainya.
"Airin, kamu pikir dapat membodohi ku. Rupanya kau lebih bodoh dari yang aku bayangkan" ucapan Ardi membuat Airin tertekun.
Sebelum Ardi tiba di toko, ia telah melihat semua rekaman CCTV yang ia pasang dan sembunyikan di sekitar toko bakery istrinya. Di samping toko terdapat beberapa orang suruhan Airin yang mengintai. Jika saja Ardi tidak melakukan drama sebelum pertolangan tiba, mungkin salah satu dari mereka akan terluka. Orang suruhan Airin pun melarikan diri.
"Ini bukti kejahatan yang di lakukan wanita ini pada istriku" memberikan rekaman kejahatan Airin beberapa jam yang lalu.
"Apa" dada Airin terasa sesak. Ardi berada selangkah lebih maju di depannya. Airin tertunduk dengan lemah. Airin tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Airin terperangkap ke dalam permainan yang ia buat sendiri.
Tamat sudah diriku.
"Iya Airin, aku selalu memantau kegiatan istriku. Aku memasang semua kamera di setiap sudut toko istriku. Dari tadi aku membiarkanmu bahkan luka yang kau buat sendiri, harus istriku yang membersihkannya. Kau tahu kenapa, aku membiarkan istriku menghapus darah kotor yang ada di dalam tubuhmu dengan air mata tulus milik istriku. Sama sekali tak membuatmu menyesal."
"Sayang,,,," dengan mata yang berkaca-kaca ia mendekati dan mendekap suaminya.
"Bawa ia ke tempat yang pantas untuk dirinya" polisi dengan sigap melaksanakan tugasnya.
"Ardi jangan lakukan itu, Ardi tolong aku. Lihat saja kau Caca permainan ini baru di mulai. Aku akan kembali" tangisannya yang di iringi peringatan.
Ardi kau akan menyesal. Aku akan membuatmu berlutut kepadaku, aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia dan hidup dengan tenang.
"Diam,,, ayo masuk" Polisi membawa Airin pergi.
Sementara Man beserta beberapa orang penjaga mengejar orang suruhan Airin. Orang suruhan Airin langsung pergi setelah melihat polisi yang datang menghampiri toko tersebut. Mereka tidak ingin berurusan dengan Polisi sementara Airin harus menanggung sendiri akibat dari perbuatannya. Nadin dan para pegawai lainnya kembali masuk kembali ke dalam toko untuk membersihkan dan membuang semua pecahan kaca akibat pukulan benda keras. Ardi membawa Caca ke lantai atas, ia menenangkan istrinya yang sedikit terguncang. Perbuatan air yang telah melampaui batas kesabaran Ardi.
"Sayang maafkan aku. Aku datang terlambat. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian di sini. Meeting dikantor membuatku sangat sibuk" memohon ampunan istrinya dan mengusap air mata yang mengalir.
__ADS_1
"Terima kasih untuk hari ini, aku pikir kamu tidak akan mempercayaiku" Caca menangis pilu memeluk suaminya dengan erat.
"Ada apa, aku akan memperbaiki semuanya. Jangan khawatir" Ardi menenangkan namun Caca menambah volume tangisannya.
"Aku akan merenovasi semuanya" tangisan Caca lebih keras dari sebelumnya.
"Sayang apa itu kurang cukup. Baiklah aku akan memperbesar tokomu. Diam lah, bukankah kamu terlihat sangat jelek ketika menangis" Ardi menggoda istrinya.
"Bukan itu, lihat?" Caca memberikan bingkai foto yang hancur kepada Ardi.
"Siapa laki-laki ini, aku tidak pernah melihatnya" mengerutkan dahinya.
"Laki-laki yang ada di dalam foto itu adalah ayahku, ini adalah foto terakhir ayah. Foto ini adalah penyemangat bagiku. Wanita itu menghancurkannya, Aku tidak menyangka dia akan berbuat sekeji itu" teriak Caca.
"Berikan padaku. Biarkan aku menyimpannya" Ardi mengambil foto di tangan Caca setelahnya ia turun ke lantai bawah meninggalkan Caca.
Caca menyandarkan tubuhnya yang lemah di sofa dengan tenang. Mengingat semua kejadian yang baru saja ia alami. Ia tak ingin memberi tahu ibunya semua hal yang terjadi di toko. Caca takut membuat khawatir ibunya. Ibunya pasti akan lebih terluka melihat toko yang hancur seperti sekarang ini.
Sekarang aku bisa tenang. Wanita itu tidak akan kembali untuk menggangguku lagi. Setidaknya aku tidak akan bertemu dengannya sampai ia selesai menjalankan masa hukumannya.
"Maaf pak, apa Nadin boleh menemui mbak Caca" pinta Nadin.
"Silahkan, mungkin ia membutuhkan teman saat ini" Ardi pergi keluar untuk menelpon seseorang.
Nadin segera menaiki tangga menuju lantai atas. Terlihat seseorang yang bersandar di sofa dengan beribu lamunan di mata indahnya.
"Mbak Caca sedang apa.."
"Oh iya Din. Ada apa, mbak tidak mendengar?"
"Mbak baik-baik saja kan" Nadin memeriksa.
"Iya, mbak baik" tersenyum dengan mata yang sembab.
__ADS_1
"Mbak, pak Ardi meliburkan semuanya. Terus Nadin bagaimana."
"Kamu jangan khawatir, kita akan liburan keluarga selama 1 pekan. Semuanya boleh ikut. Bukankah kamu adalah keluarga istriku. Bagaimana" Ardi menyela.
"Sayang, aku harus membenahi toko ini. Mana mungkin liburan disaat genting seperti ini" Caca terlihat sedikit kecewa.
"Masalah toko, serahkan kepadaku. Aku akan mengurus semuannya. Setelah kepulangan kita nanti toko ini sudah kembali seperti semula. Aku berjanji" mengengam erat tangan istrinya.
"Pak, apa Mas Mansur akan ikut" Nadin berteriak dengan girangnya.
"Apa" Ardi terkejut mendengar panggilan yang disebutkan Nadin untuk Man.
"Maksud Nadin,,,Nadin hanya...maaf pak..." dengan terbata-bata.
"Hahahhahahhaa Mansur....." untuk pertama kalinya aku mendengar seseorang memanggilnya dengan nama itu.
Caca dan Nadin melotot melihatnya. Rasanya tidak percaya melihat seorang direktur tertawa dengan terbahak-bahak.
"Dari mana kau tahu namanya. Aku saja tidak pernah memanggil namanya dengan sebutan itu, Mansur adalah nama masa kecilnya. Saat ini dunia mengenalnya dengan nama Man. Itulah identitas yang aku tahu. Sangat lucu."
"Sayang, tu lihat wajah Nadin memerah seperti kepiting rebus. Sudahlah jangan mengganggu nya seperti itu" Caca ikut menyela.
Nadin merasa malu. Iya merasa tidak percaya bahwa dirinya lah yang pertama kali memanggil pria itu dengan sebutan Mansyur.
Nadin apa yang kau katakan. Apa yang akan mereka pikirkan tentangmu nanti.
Visual Nadin
***JANGAN LUPA BERIKAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE JUGA YAH....
TERIMA KASIH DUKUNGAN UNTUK MENAMBAH SEMANGAT AUTHOR BERKARYA....💗💗💗
__ADS_1
JANGAN BOSAN DENGAN CERITANYA CACA, BERIKAN KRITIK DAN SARAN POSITIF UNTUK AUTHOR AGAR DAPAT MENJADI LEBIH BAIK***