Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
episode 6


__ADS_3

Rasa sakit yang di berikan Yudha kepada Caca membuatnya sangat jera mengenal yang namanya cinta. 1 tahun berlalu ia sudah mulai belajar melupakan Yudha, namun bayangan pria itu masih tetap jelas terukir di pelupuk mata Caca bahkan ingatannya. Entah mengapa bayangan itu tak pernah pupus, terutama foto mesra Yudha dengan kekasihnya yang cantik itu. Entah sampai kapan Caca akan selalu mengingat kenangan buruk itu.


Pagi itu Caca melakukan aktivitas seperti biasa, ia dan Nadin sudah berada di toko. Nadin masih menyusun kue di dalam toko sementara Caca masih termenung di depan toko.


Kenapa Bang kamu datang hanya untuk mengukir luka untuk yang kesian kalinya, kamu tahu bang sampai saat ini aku masih merasakan sakit. Jika saja kamu jujur waktu itu mungkin aku tidak akan merasakan hal sesakit ini. Jika kau telah mendapatkan kekasih setidaknya jangan memberikan harapan hampa pada ku, mungkin aku akan mengerti. Caca kamu harus move on, belajar lah melupakan dia kamu pasti bisa Ca.


Semangat.


Tiba- tiba terdengar suara laki-laki hendak menghampirinya.


"Permisi apa toko kue ini sudah buka?" tanya laki-laki yang bertubuh sedang tersebut.


"Ooh iya mas silakan masuk" jawab nya spontan.


"Din ada yang mau cari kue tu" teriaknya pada Nadin.


"Iya mbk..." jawab Nadin.


Nadin pun mempersilakan pria tersebut masuk dan menunjukkan kue apa saja yang ada di toko. Pada saat itu Caca tidak terlalu memperhatikan laki - laki itu. Ia masih diam dengan lamunan masa suramnya di depan toko.


Beberapa saat kemudian laki - laki itu pun keluar dengan membawa satu kantong plastik besar kue yang di belinya. Tiba tiba laki- laki itu mendekati Caca.


"Perkenalkan namaku Rizal Pratama Putra" mengulurkan tangannya di hadapan gadis itu.


"Ohh aku caca" jawabnya singkat.


"Apakah ini toko milikmu?" tanyanya lagi.


"Iya betul, kamu siapa?" jawabnya sembari bertanya.


"Oh aku rizal pelangan kue disini, aku berkerja di Perusahaan XXX yang tidak jauh dari toko kamu" jawab Rizal dengan menunjuk ke arah tempat kerjanya.


"Oohh bukan kah perusahaan itu adalah pelangan setia toko kami yah. Terima kasih ya selalu berlangganan di toko kami. Tapi biasanya orang lain yang yang ambil kuenya."


"Iya yang biasanya ambil kue itu mang Wawan, tapi hari ini mang Wawan tidak masuk kerja. Jadi terpaksa aku yang menggantikannya mengambil kue ini. Terima kasih kuenya enak banget Ca, permisi yah..... Aku masih banyak kerjaan di kantor " masuk ke dalam mobil dan langsung pergi.


"Iya, jangan pernah bosan berlangganan di sini ya" Caca berteriak dengan sangat kencang agar laki-laki di dalam mobil itu mendengarnya.


Tidak berapa lama kemudian ia pun masuk ke dalam toko, saat itu Nadin sangat sibuk dengan pekerjaannya dan Caca membantunya.


"Apa mbak mengenal laki-laki barusan tadi?" tanya Nadin.


"Oohh itu Rizal pegawai dari perusahaan yang sering berlanganan ke toko kita, biasanya yang ambil mang Wawan tapi untuk hari ini, ia mengantikannya. Yang biasa ambil itu loohh Din.." ucap Caca seraya menjelaskan.


"Oh iya mbk. Sepertinya kalian sudah saling mengenal ya. Tadi Nadin melihat sekilas, mbak Caca ngobrol dengannya "tanya Nadin.


"Oh tadi itu dia bertanya dan mbak hanya menjawab setiap pertanyaan yang ia katakan."


"Oh Nadin kira mbk sudah mengenalnya."


"Kenal dari mana Din, toh keseharian kita hanya kue dan kue saja."

__ADS_1


"Heeee... Keren banget mbak orangnya, tinggi, putih, bicaranya saja lembut banget. Sangat sempurna, ia termasuk laki-laki idaman masa kini mbak."


"Masa."


"Iya mbak, memangnya mbak gak tertarik pada Rizal."


"Husss kamu Din.. Ya sudah cepat selesaikan pekerjaan kita dulu" jawab Caca menghindar.


"Eehh sepertinya penglihatan mbak Caca sudah rusak ya..." canda Nadin terkekeh.


"Kamu meledek ya din.." ia pun ikut terkekeh.


" Gitu dong mbak, Nadin kan ikut senang. Kalau lagi tertawa begitu mbak Caca wanita tercantik deh."


"Terima kasih" mencubit manja pipi gadis nakal itu.


"Iya mbak, kan hanya bercanda."


"Ia Din, mbak ngerti kok. Tapi kalau Nadin suka entar mbak bilangin tu."


"No...No... Hati Nadin sudah ada pemiliknya mbak."


"Wah kamu yah, kenapa tidak pernah cerita sama mbak."


"Mbak kan tidak pernah bertanya."


"Mau dong kepo sedikit, Din."


"Kamu sudah berani menyimpan rahasia sama mbak. Ayo cepat katakan siapa orangnya."


"Tidak mbak, Nadin belum mempromosikannya untuk go publik,, heheheh" canda Nadin pada Caca.


"Dasar aneh, awas ya nanti mbak akan cari tahu sendiri" jawabnya pada Nadin.


"Nanti tunggu waktu yang tepat pasti Nadin bawa ke toko buat di kenalkan sama mbak, gimana?"


"Ya setuju tu, nanti kenalin ya sama mbak."


"Iya mbak pasti" jawab Nadin.


...


Hari ini pengunjung yang datang ke toko begitu ramai sekali, membuat Caca dan Nadin begitu lelah. Mereka pun istirahat sejenak sebelum pulang. Setelah selesai menutup toko, ia dan Nadin duduk di depan toko sambil berbincang- bincang menghilangkan sedikit penat dipikiran mereka.


"Hari ini ramai ya mbk. Nadin sampai lelah" ucap Nadin yang memulai perbincangan.


"Iya Din, mbk juga merasa begitu" jawab nya singkat.


"Setiap harinya pengunjung kita bertambah mbak."


"Alhamdulillah kalau begitu, toko ramai gaji kamu juga bisa naik Din" senyum pada Nadin.

__ADS_1


"Yang benar mbak, terima kasih ya mbk" ucap nya pada dengan sumringah.


"Kamu kan juga sudah lama bekerja disini Din. Kamu juga ikut merintis semuanya dari nol."


"Iya mbak, Nadin tidak menyangka toko ini bisa seperti sekarang ini."


"Iya kita wajib bersyukur Din."


"Iya mbak kalo di ingat dulu, toko ini begitu kecil dan sempit ya. Sekarang sudah besar dan bertingkat lagi, oh ya mbak kenapa gak buka cabang lagi aja. Kan lumayan untuk tambahan."


"Toko yang ini saja melelahkan Din, apa lagi membuka cabang di tempat lain. Tapi nanti lah jika ada rejeki lebih kita akan coba buka cabang ditempat lain."


"Mbak Caca yang semangat ya jangan sedih lagi, Caca ikut sedih loh mbk."


"Iya Din, ni mbak tersenyum" menunjukkan senyum terlebar ku versi Caca.


"Hahhaha... Mbak bisa aja, tidak selebar itu juga kali" ia tertawa terbahak-bahak.


"Husss,,,, kondisikan tawamu Din."


...


Merekapun berbincang - bincang hingga 1 jam lamanya.


"Eehh Din sepertinya sudah mulai sore ni kita cepat pulang agar cepat istirahat" ucapnya pada Nadin.


"Iya mbk ayo kita pulang" jawabnya.


...


Caca dan Nadin pun pulang ke rumah untuk melepaskan rasa letih mereka hari ini.


Seperti biasa ia mengantar Nadin pulang kerumahnya disaat Nadin tidak membawa sepeda motornya, lagipula jalan pulang rumah mereka satu arah.


Selang beberapa menit akhirnya sampai juga di rumahnya Nadin.


"Terima kasih mbak Caca,," ucap Nadin membuka pintu mobil.


"Iya din" balasnya yang masih bersandar di belakang kemudi.


"Hati hati ya mbak, assalamualaikum."


"Iya Din, wa'alaikum salam" melambaikan tangannya kepada gadis itu.


Setelah menurunkan Nadin di rumahnya, Caca pun melanjutkan perjalanan pulangnya kembali. Seperti biasa ia menikmati setiap suasana di sepanjang jalan. Pandangannya sedikit terusik pada dua sejoli yang duduk di kursi bawah pohon.


Betapa bahagianya hubungan mereka, tawa canda mereka juga membuat ku bahagia walaupun hanya melihat tanpa merasakan kebahagiaan itu.


Caca, tak semua hal yang terlihat itu adalah kenyataan pikirku saat itu. Tapi benar juga yang kelihatan tulus juga bisa mengecewakan. Sudah ahh pusing memikirkannya..


(Melanjutkan laju mobil)

__ADS_1


__ADS_2