
Waktu berputar dengan cepat, malam telah usai, kini telah berganti menjadi pagi. Kedua insan masih terlelap tidur, siapa lagi kalau bukan Ardi dan Caca. Semalam adalah kenangan yang tidak akan mereka lupakan, dimana saat itu mereka membuat keromantisan dan kebahagiaan dengan menyatukan cinta mereka. Mungkin dengan penyatuan mereka, tidak akan ada lagi rintangan dalam hubungan mereka, dan mungkin sewaktu waktu, kebahagiaan selalu datang pada mereka.
Tak lama, Ardi membuka kelopak matanya dan melihat ponselnya, terdapat jam pukul 04.00 pagi, kemudian, ia melihat ke samping.
Ia melihat tangan kekar miliknya masih melingkar di bagian perut istrinya. Ia menatap sang Istri yang masih terlelap tidur nyenyak di sampingnya. Sejenak ia menyunggingkan senyuman kecil, ia tersenyum bahagia ketika mengingat kejadian semalam. Dimana mereka menjadi satu sama lain, pengungkapan isi hati, penyatuan, ia ingat segalanya saat itu.
Selanjutnya, Ardi mengangkat tangannya dari atas perut Caca secara perlahan, takutnya Caca akan terbangun. Setelahnya, langsung beranjak dari tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi.
Selang beberapa menit kemudian Ardi keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Ia menatap Istrinya yang masih tertidur.
Mata Ardi tertuju pada ponsel yang berada di atas laci. Segera mungkin dia menghubungi seketarisnya.
Tidak membutuhkan waktu lama panggilan itu pun tersambung.
"Bagaimana dengan Airin" ucap Ardi. Dia merasa terganggu dengan wanita itu.
"Tidak usah khawatir wanita itu sudah diatasi" jawabnya setelah menjelaskan panjang kali lebar lamanya.
"Jangan biarkan wanita itu mendekati istriku Man atau aku akan menghancurkannya dengan tangan ku sendiri" Ardi menaikkan nada suaranya dan menekankan kalimat demi kalimat yang ia ucapkan.
"Baik pak.Aku akan membuat Airin menyesali perbuatanya" sambung Man. Man tidak ingin berbicara terlalu banyak, ia sangat mengerti pada akhirnya ia yang akan menerima kemarahan Ardi.
Tut Tut Tut
Ardi memutuskan sambungan telpon.
Ardi pun berbaring kembali melanjutkan tidurnya.
Man sedikit lega setelah Ardi memutus sambungan telponnya.
Akhirnya aku dapat bernapas dengan nyaman, setelah aktivitas yang aku lakukan. Airin sangat merepotkan ku, aku harap wanita itu segera menyingkir dari kehidupan Ardi.
Berkali-kali pria itu menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Dia dapat mengurus masalah seberat apapun, namun tidak dengan soal wanita. Bagi Man, wanita sangat merepotkan. Man mencoba memikirkan kembali hal-hal yang akan ia lakukan selanjutnya. Semenjak kedatangan Airin membuat Man sulit mengatur tidur dengan tenang.
__ADS_1
***
Pukul 06.30...
Matahari pagi yang bersinar terang masuk melalui celah-celah jendela kamar villa. Caca terbangun sembari mengucek matanya. Dengan rambut kusut khas orang baru bangun sambil mengeliat mengikuti cuaca yang begitu dingin, ia beranjak dari tempat tidurnya.
Ia melangkah perlahan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Tapi sebelum itu Caca berdiri di depan cermin memandang wajahnya dengan seksama melihat tanda merah yang melekat di bagian lehernya.
"Caca akan membuka lembaran baru bersama Ardi. Melupakan kenangan buruk di masa lalu. Membangun keluarga yang harmonis. Caca bahagia karena memiliki Ardi. Sungguh, ini di luar dugaanku" gumamnya.
Aku kira, kisahku dengan Ardi akan berakhir. Aku kira, Ardi telah menghianati janji yang pernah di ucapkannya di waktu pernikahan. Tapi, dugaanku itu semua, hanyalah pikiran negatifku saja. Kenyataannya, Ardi mencintaiku. Airin hanya masa lalu baginya. Dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini.
Melirik kembali ke arah tempat tidur dimana Ardi masih tertidur dengan pulas dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
15 menit kemudian, Caca keluar dari dalam kamar mandi. Dia melangkah kan kakinya perlahan.
"Selamat pagi, sayang" sapa Ardi. Caca sangat terkejut mendengarnya hingga ia berlari kecil.
"Siapa suruh mandi sepagi ini, itu coba lihat di dalam lemari. Aku sudah membawa baju ganti untukmu" ketusnya.
"Apakah aku harus izin terlebih dulu padamu untuk mandi pagi? Oh iya, bukankah semalam kamu bilang tidak membawa baju ganti untuk ku" tanya Caca lagi. Dia mulai mengerti dengan apa yang di lakukan suaminya itu.
"Maaf sayang, aku harus membohongimu. Terkadang kita harus melakukan kebohongan demi sebuah kebahagiaan" ucap Ardi dengan sangat simpel. Dia tersenyum tipis melihat istrinya.
"Kamu telah berhasil menipuku. Ternyata aku menikah dengan seorang pembohong dan penjahat seperti diri mu" ucap Caca.
"Iya aku penjahat. Kamu harus berhati-hati, bisa saja aku lebih jahat dari yang aku lakukan semalam" jawab Ardi dengan terkekeh.
"Apa? aku akan memukulmu nanti" Caca mengayunkan tangannya lalu menjauhi Ardi setelah suaminya itu menatap tubuhnya yang hanya terbalut handuk.
"Menjauh lah, cukup mudah bagiku untuk melepaskannya" Ardi tidak henti-hentinya tertawa setelah mengoda Caca.
__ADS_1
"Jangan macam-macam dengan ku" Caca memberi peringatan ringan kepada suaminya.
"Jika aku memintanya, lalu kamu bisa apa. Katakan?"
"Aku bisa melakukan apapun. Apa kamu ingin melihat salah satunya?"
"Tidak lanjutkan saja" Ardi mengenang kejadian beberapa tahun lalu.
**
Setelah mengganti pakaiannya, Caca duduk tepat disebelah Ardi.
"Sayang aku tidak ingin ada keraguan di dalam hatiku ini. Apakah aku boleh bertanya? please!" gumam Caca yang menyatukan kedua tangannya di hadapan laki-laki yang ia sebut suami itu.
"Ayo katakan, aku akan menjawab setiap pertanyaan mu" serunya.
"Peristiwa kemarin, aku ingin mendengar langsung darimu dan katakanlah dengan sejujur-jujurnya?" pinta Caca.
"Aku jelaskan padamu sayang, sejak dulu aku sudah menaruh hati padamu namun karena persahabatan kita. Aku harus rela membuang rasa itu karena takut akan kehilangan sahabat sepertimu.Airin hanya masa lalu yang menghianatiku bersama sahabatku sendiri. Aku tahu siapa Yudha dalam hidupmu. Aku sengaja mengundang Yudha ke rumah kita untuk menunjukkan padanya, bahwa istriku ini berhak bahagia bersama orang yang tepat" jawabnya.
"Apa kamu yakin, kamu adalah orang yang tepat" ucap Caca meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya, aku sangat yakin dengan keputusan yang telah aku buat" ucapnya dengan tanpa ragu.
"Apa kamu bisa melakukan apapun yang aku pinta, termasuk memetik bintang di atas langit" ucap Caca yamg masih mencari keyakinan dirinya.
"Dengar sayang, jangankan untuk memetik bintang di atas langit. Aku dapat memberikan seisi dunia ini padamu jika kamu memintanya" jawab Ardi.
"Berapa banyak wanita yang pernah mendengar rayuanmu itu" Caca terkekeh dengan kata yang ia ucapkan kepada Ardi.
"Tidak ada wanita yang pernah mendengar ucapanku ini, percayalah. Ini adalah ucapan pertama dan terakhirku" jawabnya.
"Aku percaya padamu melebihi diriku sendiri" ucap Caca lalu memeluk suaminya itu.
__ADS_1
"Iya sayang, aku akan memberikan seluruh kebahagian di dunia ini untukmu" membalas pelukan Caca dengan erat.
**