
Malam semakin larut, Ardi masih sibuk di ruang kerjanya. Sementara Caca berbaring di atas tempat tidur dengan ponsel baru yang di berikan Ardi.
"Apa kesalahan ponselku padanya. Bukan kah ini pemborosan, ponsel ku yang lama masih bisa di gunakan mengapa harus beli ponsel baru. Orang kaya boros" gerutuhnya setelah memeriksa ponsel baru yang di berikan Ardi, namun hanya ada beberapa nama yang tertera di kontak ponsel barunya.
Ceklek, suara seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Ia berjalan pelan setelahnya berbaring tepat disebelah Caca.
"Sayang....... Masih belum tidur" menarik lain yang menyelimuti Caca.
"Iya" ia hanya terfokus pada ponsel di tangannya.
"Oohhhh begitu, Bagus deh" menghela nafas panjang.
"Sayang, apa ada yang salah dengan ponselku. Kenapa harus di ganti?" gerutuk nya.
"Apa kamu tidak menyukainya atau itu terlalu murahan, kalau begitu besok kita ganti dengan merk lain yang lebih mahal" meraih ponsel ditangan Caca.
"Tidak, cukup yang ini saja. Aku sangat menyukainya, mana mungkin aku tidak menyukai pemberian darimu. Ponsel ini sangat lucu, iya aku suka" menjawab dengan sangat cepat karena tak ingin Ardi menukar ponselnya kembali.
Lucu, apa yang lucu dari ponsel itu.
"Jangan sungkan, katakan padaku apa yang kamu butuhkan. Aku akan berikan semuanya."
Bagaimana jika aku meminta bintang di langit apa ia juga akan memberikannya. Kurasa tidak. hihihihi.
"Maafkan aku untuk kejadian di toko. Ini semua karena kesalahanku. Seharusnya aku tak membiarkanmu di tempat itu" ketus Ardi yang menarik istrinya kedalam dekapannya.
"Sayang....Ini semua ujian untuk kita. Terima kasih untuk hari ini. Kamu lah suami terbaik di dunia, walaupun terkadang menyebalkan" Caca memberikan ciuman di kening Ardi. Ia sangat ingin melakukan itu pada suaminya.
Mata kedua nya beradu pandang, Ardi memeluknya dengan sangat erat. Perlahan ciuman pun diberikan Ardi di bibir merah milik istrinya. Ciuman itu berlarut sampai ke leher hingga bagian dada yang meninggalkan tanda merah ditempatnya.Tangannya yang nakal berhasil menelusuri setiap lekukan tubuh istrinya, dengan mudahnya ia melepaskan piyama yang di kenakan Caca. Cuaca dingin membawa mereka semakin terlarut dalam suasana malam itu. Hingga terjadilah hal semestinya.
***
Matahari pagi menerobos masuk melalui sela-sela jendela. Caca yang kelelahan, menarik selimut hingga menutupi wajahnya yang terkena sinar. Ia meraba kan tangganya dibawah selimut namun seseorang yang ia cari tidak ditemukan. Ia pun tidur kembali melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda.
Ardi berdiri di depan rumahnya, mengingat semua kejadian yang dialami istrinya. Ia sangat menyesali kelalaiannya.
Visual Ardi
__ADS_1
Pandangannya tertuju pada satu arah. Seseorang wanita tua yang berpakaian lusuh berbicara dengan penjaga rumah didepan pagar.
Siapa wanita itu. Ada keperluan apa ia datang kemari.
Ardi bergegas menghampiri penjaga dan wanita itu.
"Pak Ardi, wanita ini memaksa untuk masuk dengan paksa" penjaga menjelaskan pada Ardi.
"Biarkan" memberikan isyarat dengan sorot matanya.
"Tuan tolong saya. Saya bisa melakukan apa saja. Beri saya pekerjaan, saya mohon tuan" dengan linangan air mata wanita itu memohon di hadapan Ardi.
"Berdiri lah."
"Sekali lagi tolong saya. Saya tidak punya siapa-siapa disini" ucap wanita itu dengan tulus.
"Lalu bagaimana kamu bisa ada disini" tanya Ardi kemudian.
"Saya ingin mencari anak saya, tapi say tidak tahu ia ada dimana. Tuan tolong lah saya. Saya bisa melakukan apapun. Saya bisa memasak, mencuci, Semuanya saya bisa. Walaupun tanpa gaji saya tidak masalah. Beri saya tumpangan tuan?"
"Kamu bisa bekerja disini, hari ini juga" ucap Ardi tanpa ragu.
"Apakah saya diterima tuan" wanita itu terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ardi.
"Iya, mulailah bekerja. Buatkan sarapan pagi beserta makan siang hari ini?" perintah Ardi meyakinkannya.
"Saya akan mengantarnya kedalam rumah pak" penjaga membawa wanita itu masuk kedalam rumah setelah Ardi pergi, untuk mengajarkan semua yang harus ia kerjakan.
Ardi kembali ke kamar atas berniat untuk membangunkan istrinya yang masih terlelap. Setelah ia sampai di kamar, istrinya telah berdiri didepan cermin untuk menyisir rambut panjangnya. Senyum pun menghiasi bibir Ardi. Ardi melingkarkan tangannya di pinggang Caca.
"Berikan" meraih sisir di tangan Caca dan mulai menyisir rambut istrinya dengan lembut.
"Sayang, jangan lakukan. Ini tugasku"
"Apakah ada yang salah. Aku tidak boleh membantumu. Dan juga hanya menyisir rambut istriku bukan istri tetangga" canda Ardi.
__ADS_1
"Hahahhaha, kamu bisa aja sayang" memukul tubuh Ardi pelan.
"Sayang, ada ART baru dibawah. Baru saja aku menerimanya kerja dirumah untuk membantu kamu" Ardi memberitahu.
"Hahahaha,,,ART baru. Siapa?"
"Entahlah, aku tidak tahu namanya. Aku tidak sempat menanyakannya" Ardi menggelengkan kepalanya.
"Pak Ardi yang terhormat, Apakah tidak ada interview untuknya. Bukankah pak direktur ini memiliki banyak pegawai bahkan ratusan. Pak direktur sudah terbiasa menerima pegawai harusnya tanya dulu namanya setelah itu baru putuskan" Caca terkekeh.
"Nama tidak begitu penting dari sebuah kejujuran. Sorot mata wanita itu menjelaskan kejujuran. Percayalah sayang, dia adalah wanita yang baik. Lagi pula Man yang melakukan itu," Ardi meyakinkan istrinya.
"Baiklah sayang, nanti aku akan menemuinya. Sepertinya kamu tidak punya bakat untuk hal itu" ledek Caca.
"Apa, bakat yang kumiliki sangat lah banyak! Jika tidak, bagaimana aku dapat mendapatkan istri yang sangat cantik dihadapanku ini" godaan kecil yang di berikan Ardi.
"Itu bukan bakat, tapi tidak ada laki-laki lain. Jadi aku memilihmu" jawab Caca terkekeh.
"Apa...?" Ardi menekankan kalimatnya.
"Jangan marah. Tidak seperti itu, aku hanya bercanda? tidak usah melotot. Aku melihatnya" wajah Ardi terlihat sangat jelas di pantulan cermin.
"Selesai Ibu negara. Ucapakan terima kasih padaku."
"Terima kasih suamiku tersayang" ia mengucapkan dengan sergap tanpa menundanya.
Setelah selesai menyisir rambut, Ardi pun menguncir rambut Caca dengan lembut dan mengenakan hijab dengan rapi.
"Bakat terbaruku yang terpendam" ia memandang wajah istrinya dengan seksama.
"Sangat rapi dan sempurna. Mungkin aku akan meminta bantu setiap hari" Caca mengangkat kedua alisnya dengan senyum tipis diwajahnya.
"Tidak masalah. Semua bakatku ada harganya" Ardi membalasnya membuat keduanya terkekeh.
Selang beberapa menit mereka turun ke lantai bawah untuk menemui ART baru mereka.
Caca sangat menyukai aroma masakan wanita yang berada di dapur.
__ADS_1
"Sayang, apa ART baru itu yang memasak" tanyanya pada Ardi.
"Tentu, mulai sekarang kamu tidak akan memasak. Tugasmu hanya memberikan aku Ardi junior. Apa kamu menyukai tugas barumu sayang" bisik Ardi tersenyum nakal.