Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 57


__ADS_3

Herda terbangun dari tidurnya dan segera menelpon menantunya untuk memberikan kabar. Seorang ibu akan mengerti dengan sendirinya kehadiran seorang putri ke rumahnya tanpa ditemani suaminya.


Herda tidak ingin Ardi merisaukan istrinya. Kali ini Herda merasa sedikit tenang setelah memberi tahu keberadaan Caca kepada menantunya itu.


Aku juga pernah menjadi seorang menantu, jadi aku sangat tahu bagaimana rasanya diposisi putriku saat ini. Aku yakin kalian akan bahagia suatu saat nanti.


"Caca, ayo bangun sayang!" Herda menggoyang tubuh putrinya itu.


"Caca masih mengantuk Bu?" Caca melanjutkan tidur pulasnya.


"Apa kamu tidak merasa lapar?" Herda mengelus perutnya yang merasa lapar.


"Tidak Bu, nanti Caca akan makan jika sudah lapar" ia melanjutkan tidurnya kembali.


"Baiklah, ibu makan duluan. Perut ibu terasa sangat lapar" Herda meninggalkan Caca dan berjalan keluar dengan pelan.


Putriku yang malang, aku akan melakukan apapun untuk dirinya. Aku sangat mengerti dengan posisinya saat ini, aku pun mengalami hal yang serupa.


Herda tersandar di tembok dinding kamar lama Caca. Dia berusaha menenangkan kerisauannya, Herda segera kedapur dan membuka tudung saji untuk mengisi perutnya yang kosong, setelah itu Herda bergegas membuat sesuatu untuk putrinya. Dia akan berusaha dengan sangat keras untuk mewujudkan keinginanan besannya tersebut. Herda mulai mencari rempah-rempahan yang diperlukan dan menumbuknya.


Aku akan membuat obat yang sama dengan yang pernah aku minum dulu. Kali ini pun harus berhasil seperti waktu itu. Akan ku buktikan kepada mereka, anak ku tidak mandul. Mereka semua harus meminta maaf kepada Caca. Bila waktunya telah tiba nanti kamu akan menyesal Ratna dengan kata-kata yang pernah kamu ucapkan kepada putriku.


Setelah selesai Herda menyeduhnya dengan air panas yang mendidih. Setelah selesai Herda menaruhnya di dalam gelas kosong dan membawanya kedalam kamar Caca sambil mendinginkannya.


Dokter tidak akan tahu dengan ramuan seperti ini. Aku yakin pasti akan berhasil, berusaha lebih baik dari pada berdiam diri.


"Caca ini ayo bangun sebentar?" Herda menggoyangkan tubuh Caca kembali.


"Ibu, Caca masih ngantuk. Ada apa sih?" Caca mencoba untuk membuka kedua matanya perlahan.


"Ini ibu membuatkan sesuatu untukmu. Ayo duduh disini" Herda mengeser duduknya lalu Caca mendekatinya.


"Ini minuman apa Bu, sepertinya tidak enak. Caca dapat merasakannya dari aroma minuman itu" Caca menutup hidungnya dari minuman yang di aduk-aduk Herda.

__ADS_1


"Ini minuman tradisional. Manfaatnya sangat banyak, ayo diminum" ia menyodorkan segelas minuman aneh di hadapan Caca.


"Caca tidak mau Bu. Aromanya saja sangat aneh, bagaimana dengan rasanya" Caca mengerjitkan kedua bahunya.


"Ayo cepat minum, jangan membantah. Ibu telah berusaha keras membuatnya dengan mengingat-ingat, tentu semua itu bukan hal yang mudah" penjelasan Herda pada Caca.


"Baiklah Bu, Caca akan meminumnya" Caca memejamkan matanya lalu menutup hidungnya dengan salah satu tangannya yang lain.


"Bagus, sedikit lagi. Kamu harus habiskan, itu sangat baik untuk kesehatan wanita" Herda pun merasa seperti dirinya yang meminumnya.


"aaahhh ... Sangat pahit Bu, air putih. Caca butuh air" Caca menghabiskan semuanya.


Dengan sergap herdaenyambar segelas air putih diatas meja lalu memberikannya kepada Caca.


"Itu minuman apa sih, Bu. Rasanya kok aneh sekali" setelah minum gelas kedua yang berisi air putih, Caca meletakkan kedua gelas itu.


"Itu ramuan tradisional, ibu juga sering meminum itu sebelum mengandung kamu. Ramuan itu terbuat dari rempah-rempah alami. Jangan khawatir, tenangkan dirimu. Meminta kepada yang kuasa semoga pernikahanmu akan segera di karuniai sang buah hati."


"Apapun akan aku lakukan untuk mu, Ibu tidak ingin kamu bersedih. Kamu berhak bahagia, sayang" Herda pun membalas pelukan itu.


"Caca lupa menelpon Ardi Bu, ia akan mengkhawatirkan Caca" Caca mencari dan mengingat letak ponselnya.


"Ibu sudah menelpon nak Ardi. Dia akan kemari setelah urusannya selesai."


"Terima kasih Bu, tapi Caca akan mengirim pesan kepadanya. Sepertinya Caca ingin menginap disini selama satu minggu atau lebih, apa ibu mengizinkan?"


"Tanya suami mu, apa dia akan mengizinkan mu tinggal disini selama itu" Herda merasa tidak berhak lagi atas putrinya


"Tentu Bu, Ardi pasti akan mengizinkannya bahkan mungkin ia pun akan ikut menginap kemari" ucap Caca diiringi tawa kecil.


"Terserah kalian, ibu senang jika kalian disini menemani ibu. Kalau begitu kabari Ardi segera" Herda meninggalkan Caca dan berjalan keluar kamar.


"Baiklah."

__ADS_1


Caca meraih ponsel yang ada didalam tas kecil miliknya. Dia segera menelpon ardi, dari semua panggilannya tidak satu pun diangkat oleh Ardi.


Kemana dia.


Caca mencoba menyambungkan ponselnya kembali namun tetap saja tidak ada jawaban dari seberang sana.


Akan aku coba satu kali lagi.


Tetap saja hasilnya nihil.


"Mungkin dia sedang sibuk, aku akan menelpon nya lagi nanti. Aku sangat mengantuk!" ucap Caca dalam hati lalu membaringkan tubuhnya kembali hingga terlelap.


.


.


.


Ardi marah besar setelah melihat kejadian di toko melalui rekaman CCTV yang selalu ia pantau. Bukan hanya itu saja Ardi memberikan rekaman itu kepada seseorang.


"Kali ini kalian tidak akan ku beri ampun, lihat saja nanti" ucapnya dalam hati. Tangannya mengepal mencari sasaran yang tepat untuk melampiaskan amarahnya.


Ardi melangkah dengan terburu-buru masuk ke dalam mobil. Dia bersandar sejenak lalu menginjak pedal gas mobil dan mendaratkannya ke rumah mertuanya.


Ardi membingungkan semua kejadian yang terlihat belakangan ini. Mulai kepergian Yumi yang suka tiba-tiba dan perubahan sikap Nadin yang berlebihan hingga perbuatan Man yang telah melampaui batas. Kali ini Man terlalu banyak menyimpan rahasia kepada Ardi. Semenjak kepulangan dari liburan satu pekan yang gagal itu, semuanya berubah total.


Teruji sudah kesabaran Ardi. Kali ini dia tidak bisa berkata apapun, ia mencari cara agar dapat mengetahui semua itu. Ardi berpikir ribuan kali mencari ide yang cemerlang untuk mengungkap semua itu. Hingga akhirnya ia pun lelah.


Perasaannya yang gundah membuatnya termenung sejenak. Dia menghentikan laju mobilnya, ucapan pahit yang keluar dari mulut ibunya membuat hati Ardi terluka.


Ada apa dengan semua ini? Apa yang terjadi dengan semua orang? Aku pikir Airin lah yang jahat, ternyata orang terdekatku lah yang sering menikam. Hanya demi istriku, Nadin ku beri kelonggaran. Tapi tidak dengan kali ini, ucapannya hari ini akan membawa kesengsaraan dalam hidupnya. Dan kamu Man jika bukan karena Risa adalah temanku, mungkin aku sudah lama memecatmu. Beruntunglah kamu adalah suami Risa.


Setelah tertekun cukup lama, Ardi melanjutkan laju mobilnya kembali. Kali ini ia memutar arah jalannya, entah kemana tujuan Ardi yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2