
Man duduk dibelakang kemudi setelah membuka pintu mobil, sementara Ardi bersandar di kursi belakang bersama istrinya. Nadin duduk di sebelah Man dengan raut wajah yang kesal mengingat ucapan pria itu. Sedangkan yang lainnya berada di mobil kedua yang dikemudikan oleh seorang supir yang telah lama bekerja di rumah pak Amran. Dua mobil beriringan melaju dengan kecepatan sedang.
Caca sangat bahagia dengan liburan keluarga yang direncanakan Ardi, ia akan melewati hari-hari bersama mereka yang ia cintai. Ini merupakan liburan pertama Caca bersama Ibunya. Ia selalu disibukkan oleh toko bakery miliknya. Semasa lajang ia tidak pernah berlibur, ataupun pergi ke kota lain. Untuk kedua kalinya ia melakukan perjalanan panjang bersama Ardi. Sepanjang perjalanan Caca di hantui dengan berbagai macam pertannyaan.
Liburan seperti apa yang direncanakan suamiku ini. Perjalanan yang melelahkan. Bukankah bisa menaiki pesawat, mungkin tidak akan selelah ini lagipula tidak menyita waktu yang lama. Mendengus kencang.
"Sayang kemana kita akan pergi" ia melontarkan pertanyaan yang menghantuinya.
"Kita akan mengunjungi suatu tempat, sekarang nikmati aja perjalanannya sayang" mencubit hidung istrinya yang sangat mengemaskan.
"Sayang, harusnya kita naik pesawat aja. Dengan begitu kita akan lebih cepat sampai. Benar begitu kan Din" Nadin menoleh ke belakang.
"Iya mbak Caca. Nadin belum pernah naik pesawat. Jadi Nadin pengen banget naik pesawat"menyatuhkan bibirnya dengan wajah yang polos.
"Iya sama Din. Mbak juga belum pernah, bagaimana rasanya di dalam pesawat. Katanya kita akan melihat tumpukan awan di atas sana" celotehnya dengan Nadin begitu panjangnya hingga terlupa bahwa di sampingnya ada seseorang yang memperhatikan setiap gerak gerik bibirnya berbicara.
Bagaimana bisa istriku melupakan aku. Bius apa yang di berikan Nadin. Jika di biarkan aku akan terus terabaikan. Ardi berdehem.
"Sayang kamu terlalu serius. Coba deh sekali-kali ikutan bercanda gitu. Benarkan Man" Man hanya melirikan wajahnya sebentar dan memfokuskan pandangannya kedepan.
Ardi membungkam mulut istrinya dengan sebuah ciuman. Pemandangan di kursi belakang terlihat jelas di pantulan cermin depan Man. Seketika wajah Nadin berubah memerah dan malu. Melihat pemandangan yang tak biasa itu. Sesekali ia melirik ke arah Man.
Pak Ardi bisakah tidak melakukannya di hadapanku yang masih polos ini. Nadin.
Kenapa dia melihatku dengan tatapan aneh begitu. Apa itu isyarat darinya. Hihihihi
Apa yang ia pikirkan. Apa yang membuatnya tersenyum begitu. Jangan memikirkan yang aneh padaku. Atau aku akan memukulmu. Nadin.
Ardi tak menghiraukan kedua orang yang berada di depannya. Caca melepaskan pelukan suaminya itu.
__ADS_1
"Sayang hentikan, mereka melihat kita" bisiknya di telinga Ardi.
"Man apa kau melihatnya?"
"Tidak pak, lanjutkan saja. Aku hanya fokus dengan jalannya" ia menjawab dengan begitu tenangnya.
Beginilah nasib menjadi bawahan. Harus menutup mata dan telinga. Nasib nasib.
"Sayang, Man tidak mendengarnya" Bola mata Caca bergerak berputar ke arah Nadin. Ardi mengerti dan menghentikannya.
"Man berapa lama lagi kita akan sampai" Ardi mengalihkan perhatian.
"Masih setengah perjalanan lagi pak" seolah mengerti keadaan direkturnya itu.
Sementara di mobil belakang, Bu Ratna dan Bu Herda tertawa terbahak-bahak dalam obrolan yang begitu lucu dan seru. Mereka tak menghiraukan yang lainnya, Bik Yumi hanya terkekeh dengan tingkah kedua besan itu. Bagaimana tidak, mereka menceritakan tentang cucu laki-laki dan perempuan mereka nanti, bahkan nama mereka pun telah mereka rangkai dengan seksama. Mereka membayangkan kedua cucunya nanti, akan bermain di pangkuan mereka. Keduanya berbicara tiada henti, sementara Pak Amran tertidur dengan pulasnya, entah mimpi apa yang sedang ia alami. Sedangkan supir hanya fokus mengikuti jalan mobil di depannya.
Harapan yang begitu besar terlihat jelas diwajah kedua ibu itu. Impian mereka terlalu jauh, jangankan untuk bermain di pangkuan. Tanda-tanda kehadiran mereka pun sampai saat ini belum terlihat. Namun kedua besan itu menunggu dengan sabarnya sampai waktu bahagia itu akan tiba.
Bu Herda dan Bu Ratna merasa sangat bahagia melihat kemesraan anak mereka. Keduanya terlihat begitu serasi.
"Sabar sayang sebentar lagi kita akan sampai" mengelus wajah istrinya yang lelah.
Mbak Caca sangat beruntung memiliki pak Ardi. Tuhan berikan lah suami yang seperti pak Ardi.
Nadin mengamati keduanya dengan seksama. Sementara Man hanya memperhatikan Nadin dari kejauhan.
Apa yang ia lihat sepertinya kedua pasangan itu telah menyihirnya terbawa ke alam bawah sadar hingga menghayal yang aneh-aneh.
Setelah mengisi perut yang kosong dan beristirahat dengan cukup mereka melanjutkan perjalanannya kembali.
__ADS_1
Man menginjak pegal gas dengan sedikit kencang untuk mempercepat laju jalan mereka. Sejauh perjalanan mereka Caca masih dihantui dengan pertanyaan semula.
Kemana tujuan sebenarnya. Apakah ada tujuan lain dibalik liburan keluarga ini. Apakah ini motif terbaru Ardi. Apakah ia merencanakan sesuatu? Kejutan apa yang akan ia berikan?
Satu per satu pertanyaan mulai bermunculan di benak Caca. Mobil mereka semakin menjauh dari perkotaan. Ardi membawa Caca ke pangkuannya. Rasa lelahnya membawa Caca mulai terlelap di pangkuan suaminya itu. Sementara Nadin tertidur dengan pulasnya bersandar di kursi mobil. Man hanya menatap sekilas wajah polos gadis itu.
Manis juga.
"Hei mas Mansur apa yang kau lihat" Ardi terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Pak Ardi, ini pertama kalinya memanggil namaku dengan begitu sempurna" Man tertawa mengikuti Ardi.
"Apakah mas menyukainya" tertawa terbahak-bahak.
Sepertinya ada yang aneh dengan pak Ardi hari ini. Tidak seperti biasanya.
Nadin terbangun sedari tadi namun enggan membuka matanya. Ia mengerti dengan nada yang di ucapkan Ardi. Ardi menirukan panggilan dirinya kepada Man.
"Man apa kau menyukainya?" pertanyaan Ardi seperti petir di siang bolong
"Tidak pak" jawabnya terbata-bata.
Apa, kau tak menyukaiku.
"Apa kau yakin Man?" Ardi memperjelas kan.
Man tak menjawab, ia fokus dengan jalannya. Sementara Nadin mengepal tangan dengan erat. Man memperhatikan sesekali keadaan wanita di sampingnya itu. Ia merasa telah menyakiti hati wanita itu.
"Man dia sudah seperti adik bagi istriku, berhati-hati lah dan berkata lah dengan jujur padanya. Aku tak ingin kau akan melukainya nanti" Ardi merasa Man menyimpan sesuatu darinya.
__ADS_1
Man hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakan. Nadin mendengar semua pembicaraan mereka, ia tak mengerti maksud pembicaraan Ardi. Sementara Caca tertidur dengan sangat pulas sehingga tak mendengar apapun pembicaraan mereka.
Kebohongan apa yang dilakukan Mansur hingga pak Ardi memintanya berkata jujur. Apa yang Mansur sembunyikan dariku.