
Malam pun berlalu tergantikan oleh pagi, semua orang masih tertidur di kamar mereka masing-masing. Tidak terdengar suara di manapun kecuali di dapur. Saat itu beberapa pelayan yang ditemani oleh Yumi menyiapkan sarapan pagi untuk seisi rumah. Sedangkan yang lainnya masih terlelap dengan pulasnya dalam mimpi-mimpi indah mereka.
Setelah menghidangkan sarapan di meja makan, Yumi berniat untuk berkeliling di sekitar rumah sembari menunggu majikan dan yang lainnya terbangun. Yumi tidak sengaja mendengar sebuah perdebatan yang berasal dari sebuah kamar lalu perlahan suara tersebut menghilang.
Pertengkaran, sepagi ini. Apa mungkin aku berhalusinasi. Mungkin aku terlalu lelah hingga pendengaranku menjadi tidak stabil. Lebih baik aku beristirahat sembari menunggu semuanya bangun dari tidur mereka.
"Hayo. Apa yang kamu lakukan?" seseorang menepuk pundak Yumi.
"Eh Bu Herda, aku mendengar sesuatu tapi sudah lupakan saja. Mungkin hanya halusinasiku saja!" ucap Yumi kepada wanita itu.
"Apa kamu melihat Nadin? dari semalaman aku mencarinya. Tidur di kamar mana gadis itu?" tanya Herda pada Yumi.
"Maaf Bu, aku juga sama sekali tidak melihatnya. Aku tertidur sangat pulas hingga melupakan siapapun" jawabnya kepada Herda lalu mereka berjalan kembali lagi ke dapur.
"Nadin, Ibu mencarimu sejak semalam? Kamu tidur di kamar mana" tanya Herda setelah melihat gadis itu berada di depan kulkas dengan menuangkan segelas air putih.
"Nadin tidur di kamar sebelah Bu, Nadin sangat lelah sampai ketiduran di sana. Ada apa ibu mencari Nadin?" jawab Nadin sembari bertanya.
"Tidak ada apa-apa, Ibu hanya mencari ponsel yang Ibu titip di dalam tas mu. Namun karena tidak menemukanmu, Ibu membuka tas tanpa izin darimu dan mengambil ponsel itu."
"Oh iya tidak apa-apa Bu, perjalanan yang kemarin membuat Nadin sangat lelah" wajah gadis itu terlihat begitu lelah dan sangat pucat.
"Apa kamu sakit? wajahmu sangat pucat" tanya Herda setelah memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.
"Tidak Bu, Nadin hanya lelah."
"Kamu istirahat saja ke kamar."
Apa yang terjadi pada gadis ini. mengapa dia terlihat berbeda, wajahnya yang selalu ceria kini terlihat seperti sedikit murung. sebenarnya apa yang terjadi pada Nadin.
"Iya Bu."
Gadis itu meninggalkan Herda yang berada di dapur menuju kamarnya dan berbaring dengan menutupkan selimut hingga ke atas kepalanya.
***
Caca masih membenamkan wajahnya di dada Ardi. Dia masih ingin menyelesaikan mimpi indahnya, namun sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah-celah jendela yang mengganggu keinginan Caca itu.
Caca perlahan membuka matanya, masih terlihat samar-samar hingga ia mengucap kedua matanya lalu matanya terfokus pada satu benda yang ada di samping mereka tidur.
__ADS_1
Pukul 07.00, Bagaimana aku bisa bangun sesiang ini. Apa yang akan dipikirkan eyang putri tentang diriku.
Caca bergegas melepaskan pelukan suaminya dan berlari kecil ke kamar mandi. Selang 10 menit, iya keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian, setelah itu Caca membuka jendela hingga pancaran sinar pagi mengenai tepat di wajah Ardi.
"Pak direktur, ayo bangun. Ini sudah sangat siang, katakan padaku rencana Apa yang telah kau siapkan hari ini?" Caca membangunkan suaminya dengan menggoyangkan tubuh Ardi.
"Ibu negara, aku masih mengantuk. Tutup kembali jendelanya" ucap Ardi sembari menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Tidurlah sesukamu, aku tidak akan menutup jendela itu kembali."
Ardi tidak menjawab ucapan Caca.
"Pak direktur, aku menunggumu di bawah" ucap Caca yang bergegas menuruni anak tangga, namun suaminya itu masih tidak menjawab.
Setelah sampai di lantai bawah, Caca terkejut dengan suasana rumah yang begitu sepi.
Tidak ada orang, di mana mereka semua. apa mereka telah pergi ke suatu tempat.
Caca berjalan ke dapur, ia melihat Yumi dan beberapa pelayan sedang sibuk membuat sesuatu.
"Ke mana yang lain bik, sejak tadi aku tidak melihat mereka" tanya Caca setelah menghampiri Yumi.
"Apakah sarapannya sudah siap?" tanya Caca kepada wanita itu.
"Beres, sarapannya telah dihidangkan di meja makan" jawabnya dengan mengangkat kedua jempolnya.
"Terima kasih bik, Caca akan membangunkan Eyang putri" Caca meninggalkan dapur dan menuju kamar Ros.
Setelah Caca tiba di depan kamar Ros, ia ingin mengetuk pintu namun tangannya terhenti setelah seseorang membuka pintu itu.
"Selamat pagi eyang putri. Baru saja Caca ingin panggil Eyang, sarapannya sudah siap" ucap Caca kepada wanita tua itu.
"Iya selamat pagi, Eyang juga baru saja akan keluar untuk sarapan. Ayo" jawabnya kepada Caca.
"Iya."
Mereka berjalan menuju meja makan, terlihat semua orang sudah berada di meja makan kecuali Nadin.
"Di mana Nadin Bu" tanya Caca kepada Herda setelah sampai di meja makan dan duduk di sebelah Ardi.
__ADS_1
"Nadin di kamar, dia akan sarapan nanti" jawab Herda.
"Baiklah."
"Katanya masih ngantuk, ini kok sudah ada di meja makan" bisik Caca di telinga Ardi.
"Bagaimana aku akan melanjutkan tidur ku kembali, jika aku tidak memeluk istriku" Ardi pun berbisik ditelinga Caca.
"Bohong, katakan saja memang pun kamu sudah lapar."
"Kalau tidak percaya, ayo ikut aku ke kamar sekarang" Ardi berbisik kembali ke telinga istrinya.
"Eheeem, walaupun berbisik kita bisa dengar loh" ucap Ratna kepada kedua sejoli itu.
"Iya benar sekali" Herda pun tak ingin kalah memberikan komentar.
"Caca ingin disuapin sama Ardi. lalu imbalannya Ardi boleh cium Caca" Ardi menggoda istrinya dihadapan semua orang.
"Pak direktur itu sangat tidak lucu?" Caca berbisik kembali hingga tangannya turun ke bawah dan mencubit perut suaminya.
"Baiklah jika kamu memaksanya" Ardi menyodorkan sesendok nasi goreng dimulut Caca. Wajahnya terlihat sangat puas dengan tingkah yang ia lakukan kepada istrinya.
Caca pun membuka mulutnya dan makan nasi goreng yang disodorkan Ardi. Semua tertawa melihat kelakuan dua sejoli itu. Setelah itu Ardi langsung mencium pipinya.
"Selesai, semua permintaanmu telah aku lakukan. Sekarang giliranmu memberikan imbalan padaku" Ardi merasa menang mengelabui istrinya.
"Lihat Eyang, Ardi selalu mengganggu Caca" iya meminta pertolongan kepada Ros.
"Ardi, jangan ganggu menantu ku" Ros menegur perbuatan yang dilakukan cucunya itu.
"Iya eyang, Ardi hanya bercanda. Ayo semuanya lanjutkan makan kalian, iklannya telah berakhir" Ardi tertawa.
"Tunggu, lihat saja nanti. Aku akan membalasmu" ucap Caca kepada Ardi.
Ardi hanya tertawa kecil mendengar ucapan istrinya. Mereka pun menikmati sarapan paginya dengan bahagia yang diselingi drama kedua suami istri itu. Mereka semua tertawa bahagia kecuali Man.
"Man ada apa denganmu, Apa kau tak bahagia berada di sini?" tanya Ardi pada sekretarisnya itu.
"Aku sangat bahagia berada di sini pak."
__ADS_1
"Lalu apa yang kau pikirkan. Bagaimana mungkin laki-laki seperti dirimu terlihat murung" ucap Ardi.