Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 50


__ADS_3

Liburan yang seharusnya menjadi hal yang paling membahagiakan dan menyenangkan, malah membuat Caca merasa resah dan gelisah.


Sejak tadi sore, semenjak kepulangan mereka dari liburan tersebut. Caca menyimpan banyak pertanyaan yang tidak terjawab kan.


"Sayang!" panggil Ardi. Suaranya berasal dari luar kamar.


"Iya suamiku!" jawab Caca dari dalam kamar. Sejak kepulangan mereka, Caca berdiam diri di dalam kamar mereka.


"Sejak tadi kamu di sini, apa yang menganggu pikiranmu. Aku tidak ingin melihat istriku memikul bebannya sendirian, cepat katakan padaku."


"Aku hanya memikirkan kejadian hari ini, aku tidak mengerti yang terjadi pada Nadin" Caca mencoba mengingat raut wajah gadis polos itu.


"Soal itu kamu jangan khawatir, Man telah mengatakan semuanya kepadaku" Ardi menyandarkan kepalanya di pundak Caca.


"Lalu, apa yang Man katakan?" Caca menekankan kalimatnya.


"Man telah mengatakan semua tentang dirinya kepada gadis itu, namun sepertinya Nadin tidak bisa menerimanya. Kamu tenang saja, ia akan segera membaik setelah hatinya terasa tenang" ucap Ardi setelah mendengar penjelasan Man.

__ADS_1


"Tentang Man, aku tidak mengerti" jawab Nadin.


"Man adalah laki-laki yang telah memiliki seorang istri dan satu orang anak, beberapa bulan lalu istrinya meninggalkan rumah karena sesuatu hal. Nadin mencintai Man sehingga ia belum menerima kenyataanya itu."


"Apa, Man telah beristri. Hanya itu atau ada kebohongan lainnya?" iya membelalakan kedua matanya.


"Itulah yang di katakan laki-laki itu padaku, Nadin akan segera membaik, percayalah. Ia membutuhkan waktu saja."


"Aku yakin, ada hal lainnya yang tersembunyi. Aku sangat mengenal adikku itu" Caca langsung menyambar ponsel yang berada di atas laci dan menekan nama Nadin yang tertera disana.


Aku harus tahu hal yang lainnya juga. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya, Man harus bertanggung jawab untuk kebohongan ini. Harusnya ia mengatakan semua itu sejak awal sehingga tidak memberikan harapan kepada gadis itu.


Apa yang terjadi dengan gadis itu.


"Dia membutuhkan waktu untuk menerimanya" Ardi menyambar ponsel yang berada di tangan istrinya dan meletakkan kembali ke tempatnya semula.


"Sayang, aku ingin Nadin mengatakan semunya padaku. Aku tidak mempercayai seketarismu itu" Caca mencoba merebut ponselnya kembali. Ardi menarik tanganya dan membawanya keluar kamar.

__ADS_1


Tanpa protes Caca mengikuti langkah suaminya itu.


***


Jam menunjukkan pukul 19.00, setelah perjalanan kurang lebih satu jam. Ardi menghentikan di sebuah rumah kecil, ia membawa istrinya ke tempat seseorang yang akan menjawab semua kegelisahan hatinya.


Caca tersenyum mengingat Ardi begitu memahaminya. Caca berangsur keluar dari dalam mobil lalu diikuti suaminya itu.


Matanya melihat pada sosok gadis yang berada di teras rumah kecil itu. Dia melakukan sedikit perenganggan setelah menghampiri gadis itu lebih dekat.


"Mbak Caca" ucap Caca Nadin dengan sangat gugup.


"Assalamualikum Nadin" Caca memandang wajah Nadin dengan seksama.


"Wa'alaikum salam" Nadin kembali memandang Caca dan Ardi yang berdiri dihadapannya. Nadin mencoba setenang mungkin, walau ia merasa begitu terpukul dengan semua yang terjadi.


"Mbak sangat mengkhawatirkan kamu, mbak rasa kamu membutuhkan seseorang untuk berbagi keluh kesahmu" Nadin menganguk pasrah.

__ADS_1


"Kalian berdua tunggu disini, aku akan segera kembali" ucap Ardi yang meninggalkan mereka.


"Iya sayang" jawab Caca yang mengerti kepergian Ardi untuk memberi keleluasaan bagi Nadin untuk berbicara.


__ADS_2