Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
episode 16


__ADS_3

Hari pernikahan itu pun tiba, beberapa mobil mewah berhenti di depan rumah Caca.


Dari semua mobil di depan rumahnya, ia hanya terfokus pada satu mobil, warnanya hitam mengkilap yang pemiliknya sangat ia kenal. Keluarlah seorang laki-laki yang berpakaian khas seorang pengantin pria bersama sejumlah pengrias dengan membawa gaun pengantin. Caca langsung masuk ke dalam kamar meninggalkan tempat dimana ia berdiri.


"Assalamualaikum Bu" Ardi menyapa calon mertuanya.


"Wa'alaikum salam nak Ardi, silakan masuk" mempersilakan Ardi dan pengrias masuk.


"Bu mereka semua yang akan membantu Caca bersiap" gumam Ardi.


"Baiklah, silakan masuk kekamar Caca. Kamarnya disebelah kanan sana yah" ucap ibu kepada para pengrias dengan menunjukkan arah kamar yang tidak jauh dari ruang itu.


"Baik terima kasih" jawab salah satu pengriasnya.


"Bu, supir didepan akan mengantar semua keluarga ke tempat pernikahan. Ardi akan pergi bersama Caca" Ardi menunjuk mobil yang berada di depan rumah.


"Iya nak Ardi, ibu dan semuanya akan pergi lebih dulu. Kalian berdua segera lah menyusul."


Bu Herda pun pergi bersama keluarga besarnya, entah kemana mereka akan membawa keluarga besar Caca saat itu dan Ardi bersandar di sofa menunggu pengantinya bersiap.


" Hay, apa yang sedang anda pikirkan nona?" melambaikan kedua tangannya di hadapan Caca yang sedang terhanyut dalam lamunan.


" Sebenarnya aku sangat sangat bahagia hari ini. Namun ada sesuatu yang menganjal di hatiku, sampai saat ini aku tidak mengetahui bagaimana pernikahanku nanti bahkan aku pun tidak tahu di mana gedung pernikahanku" Caca mengutaran isi hatinya.


"Nona tidak usah khawatir, pak Ardi pasti memberikan yang terbaik, sepertinya ingin memberi surprise untuk nona."


"Mungkin saja."


Hari ini adalah hari yang sangat aku nantikan dan juga termasuk hari yang sangat aku takutkan. Aku takut kegagalan akan menimpaku lagi, aku berharap semuanya akan berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan sedikitpun.


"Ayo nona sudah selesai, pak Ardi sudah menunggu. Kami tidak ingin menjadi penyebab kemarahannya jika harus menunggu lebih lama lagi."


"Tunggu sebentar" ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk menulis sesuatu di buku kecil kesangannya.


*Dear untukku...


Hari bahagiaku.. 


Caca*


Coretan singkat yang ia tulis.


Seketika Ardi terkesima melihat seseorang yang ada di hadapannya. Wajahnya sangat berbeda, bibirnya terlihat sangat menawan. Bunga berwarna ditangannya sangat serasi dengan gaun yang dikenakannya. Ardi memandang dengan seksama setiap langkah gadis itu.


Sempurna.


"Apa kita bisa pergi" ucap Ardi menepis pandangannya.


Caca hanya menganggukkan kepalanya sambil melirik para pengriasnya.


"Silakan pak. Bawalah pengantinmu kemana pun kau suka" jawab seorang pengrias dengan candaanya.


"Kalian bekerja dengan sangat baik" ia berbicara seakan tak ingin melirik Caca.


Apa ia tidak ingin memberiku sebuah pujian.


"Ayo pergi" Ardi meraih tangan Caca dan membawanya dengan hati-hati kedalam mobil.


"Ayo pak jalan, jangan sampai terlambat" ucapnya pada supir.

__ADS_1


"Baik pak" ia mengangukkan kepalanya.


Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang.


"Berhenti pak" Ardi memberhentikan mobil yang melaju di depan sebuah toko.


"Ada apa?" Ardi tak menggubris pertanyaan Caca itu.


Caca sangat merasa takut. Ia takut jika pernikahan hari ini pun gagal karena suatu hal.


Tak berada lama kemudian Ardi keluar dari toko itu dengan membawa sebuah kotak berwarna merah.


"Ayo pak jalan" ia segera membuka kotak tersebut.


"Aku lihat semuanya belum lengkap tanpa ini, aku sudah lama memesannya khusus untukmu" melingkarkan sebuah kalung berlian di leher Caca.


"Terima kasih Ten ten."


"Iya."


Selang beberapa menit mobil mereka berhenti di sebuah tempat. Tempat terlihat indah dengan dekorasi hiasan bunga yang telah disusun rapi dan telaten ditambah dengan konsep pelaminan dengan nuasa berwarna putih. Latar pelaminan di bentuk huruf A Love C yang terbuat dari keyu berukuran besar yang telah di desain dengan sangat indah. Caca Mandang seksama dari dalam mobil.


Caca tidak pernah membayangkan akan menikah seperti ini.


Apakah benar ini adalah pernikahanku. Rasanya tidak mungkin.


"Aawww sakiit" ia mencubit tangannya untuk membuktikan kebenarannya.


Ardi pun keluar dan membukakan pintu mobil untuk pengantinnya.


"Ayo. Apa mau disini bersama supir" ia menjulurkan tangannya.


"Kau akan menikahi siapa jika aku disini" ia menyambut tangan Ardi.


"Sayang, kamu begitu cantik" ucap mamanya Ardi dengan meraih tangan Caca menuju pelaminan.


Namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok pria yang berdiri disebelah kanan Nadin yang sangat ia kenal, iya dia Rizal orang yang telah membuat Caca dilema dalam pernikahan, Caca melanjutkan langkahnya kembali.


Apakah hari buruk akan menghampiriku. Mengapa laki - laki yang tak aku harapkan itu berada disini.


Caca dan Ardi duduk di tempat ijab kabul. Tak begitu lama proses ijab kabul pun dimulai. Dengan lantangnya Ardi menyebutkan nama Caca didalam ijab kabul tanpa ragu sedikit pun. Setelah itu Caca sah menyandang gelar sebagai seorang istri.


Raut wajah Caca terlihat sangat bahagia begitu pula dengan Ardi. Ia memeluk ibunya dan wanita yang baru saja menjadi mertuanya.


"Mulai hari ini Ten Ten sudah tidak ada lagi. Karena aku adalah suamimu, panggil aku dengan sebutan sayang" ia berbisik ditelinga Caca.


"Baiklah" Caca hanya menuruti keinginan laki-laki yang baru saja menjadi suaminya itu.


"Panggil sayang, sudah ku katakan mulai hari ini kamu harus memanggilku sayang" ia tersenyum tipis memandang Caca.


"Iya sayangku" jawabnya tegas.


"Sangat manis" Ardi menciumnya yang lengah.


Sekarang kau tidak sopan terhadapku. Tunggu saja nanti aku akan memukulmu.


Semua tamu menikmati acaranya. Semua keluarga terlihat sangat bahagia.


"Selamat Ca..." pria yang tak asing adalah Rizal mengulurkan tangan dihadapan Caca.

__ADS_1


"Terima kasih" jawab Ardi meraih tangan rizal.


"Aku tak akan biarkan orang lain menyentuh tangan istriku" bisiknya di telinga Caca. Caca tak menggubris ucapannya itu.


Rizal pun pergi dengan wajah yang begitu polos seperti tak pernah melakukan kesalahan apapun terhadap Caca.


"Pengantin tercantik kita" ucap Septi dan Tika.


"Kalian berdua kemana saja, dari tadi aku mencari kalian namun tak ku temukan bayangan kalian sekali pun" canda Caca.


"Selamat ya" Septi memeluk caca dan memberikan kotak kecil kepadanya.


"Semoga bahagia, kadonya di buka nanti malam ya" bisik Tika di telingga Caca.


"Okey...."


"Ternyata Ardi lah orangnya. Kami sangat terkejut loh Ca, saat baca undanganmu. Kami sangat mengenal foto laki-laki yang ada di dalam kartu undangan.


"Foto....." matanya tertuju kepada Ardi.


"Heyy mbak" Nadin melambaikan tangannya dan berjalan menuju tempat mereka berdiri.


"Nadin."


"Selamat ya mbak, Nadin ikut bahagia buat mbak."


"Iya terima kasih ya" memeluk Nadin.


Mereka berbincang-bincang bahkan foto bersama. Man seketaris Ardi untuk datang memberikan ucapan selamat. Herda berjalan menghampiri putrinya itu dan memeluk dengan sangat erat.


"Selamat berbahagia putri kecilku."


" iya Bu."


"Jaga putri kecil ibu nak Ardi" ucapnya pada Ardi.


"Ibu jangan khawatir, Ardi akan membahagiakannya" jawabnya.


"Jauhkan laki-laki itu dari hadapanku"Ardi berbisik pada Man.


"Iya pak, saya sudah mengurusnya."


Pertanyaan mulai menyelinap di benak Caca. Namun ia menepis jauh-jauh pikiran itu. Ia tidak ingin menganggu acara yang berlangsung. Hidangan yang lezat dan musik dan nyanyian yang terdengar sangat merdu. Semua menikmati acaranya, namun sosok Rizal tidak terlihat lagi.


Semua tamu dan keluargaku pun memberikan ucapan selamat dan foto bersama.


Acara pun selesai semua keluarga pulang dan para tamu pun bergantian pulang, Ardi membawa Caca pergi dari tempat itu namun bukan kerumah mamanya ataupun rumah lama Caca. Mobil mereka melaju begitu saja yang diiringi oleh sebuah mobil di belakangnya.


"Kita akan pergi kemana?" tanya Caca pada Ardi.


"Pulang" jawabnya singkat.


"Tapi ini kan, bukan arah ke rumahku."


"Pulang kerumah kita" jawabnya dengan senyum tipis.


"Rumah Kita, rumah mama maksudnya tapi bagaimana dengan pakaianku."


"Nikmati saja perjalanannya" jawabnya.

__ADS_1


"Heeem" kejutan apalagi yang akan diberikan Ardi kepada Caca.


***


__ADS_2