
Caca berjalan sambil berpikir kalut menuruni setiap anak tangga. Masih terngiang ucapan wanita yang telah menjadi pegawai sekaligus ia anggap sebagai adiknya itu meminta agar segera meninggalkan rumah itu.
Apa yang terjadi pada Nadin?
Caca melihat ke depan, iya melihat semuanya telah berjalan keluar pintu utama.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" ucap seseorang yang berada di belakangnya.
"Aku hanya berfikir tentang Nadin, apa yang terjadi padanya?"
"Ayo kita harus lebih cepat mereka telah menunggu."
Mereka bergegas keluar dari pintu utama. Namun ketika hendak melangkahkan kakinya ia melihat sosok laki-laki yang keluar dari dalam kamar.
"Sayang, kamu duluan saja. Nanti aku akan menyusul" ucap Ardi kepada istrinya.
"Iya, segera lah menyusul. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama."
"Baiklah."
Ardi menghampiri laki-laki itu.
__ADS_1
"Man, apa yang terjadi? apa kamu melakukan sesuatu yang menyakitinya."
"Maaf pak, ada sesuatu yang tidak aku bisa katakan."
"Jika Kamu adalah penyebab kehancuran liburan ini, maka kamu harus bertanggung jawab. Apakah kamu mendengarkanku Man?" ucap Ardi dengan tegas.
"Baiklah pak."
Man terdiam, sementara Ardi melanjutkan langkahnya kembali keluar pintu utama.
Apa yang bisa aku katakan padamu pak Ardi. Aku telah melakukan sesuatu diluar kendaliku, bagaimana caraku mengurus semua ini. Ini sangat rumit. Aku berdiri diantara dua pilihan, menghancurkan atau melepaskan. Aku tidak tahu harus memilih yang mana.
Semuanya terlihat sangat gelisah dengan suasana disana, mereka berpamitan kepada wanita tua pemilik rumah. Setelahnya mereka melajukan mobil menuju jalan pulang.
Kepulangan kali ini menyimpan beribu-ribu pertanyaan yang ada di dalam benak mereka. Namun tidak ada yang berani mengucapkan satu kata pun setelah Ardi meminta mereka untuk menutup mulutnya.
Di dalam mobil yang hanya terdiri dari 4 orang tersebut, terdengar sangat sepi. Tidak ada yang bergeming untuk mengeluarkan suaranya.
"Sebenarnya apa yang terjadi. Aku membutuhkan jawaban dari pertanyaanku itu" ucap Ardi dengan sangat marah.
Caca berusaha berpikir positif untuk kebisuan yang terjadi. Ia mencoba mecari tahu sendiri lewat sorot mata keduanya.
__ADS_1
"Tidak ada yang terjadi Pak" begitulah jawaban yang diberikan Nadin.
"Lalu, apa yang terjadi pada dirimu?" ucap Ardi.
Nadin hanya meneguk air ludahnya sendiri mendengar ucapan Ardi. Ia tidak dapat memberi jawaban untuk hal itu. Sekilas ia menatap tajam laki-laki uang ada di sebelahnya.
"A-aku" gadis itu menangis di tengah perjalanan jauh itu hingga isakkan yang terdengar sesenggukan. Nadin benci dirinya dan keaadaan saat ini.
Derasnya tanggisan membuat gadis itu tidak memperhatikan yang lainnya, hingga ia tidak sadar bahwa laki-laki yang berada di sebelahnya menghentikan laju mobil.
Dua orang di belakang pun tak kalah memperhatikannya. Caca refleks memegang pundak gadis itu agar menghentikan tangisannya. Dengan keadaan seperti itu akan menganggu konsentrasi Man mengemudikan mobil.
Nadin menghentikan tangisannya.
Caca tidak pernah menyangka akan melihat pemandangan seperti ini.Untuk pertama kalinya ia menyaksikan bulir bening yang menetes di pelupuk mata pagawai sekaligus ia anggap adiknya itu.
"Kamu tidak harus mencerikannya sekarang. Jika kamu siap, kapan pun itu mbak akan mendengarkanya" Caca menenangkannya.
Ardi terdiam sejenak.
Apa yang dilakukan Man kepada gadis ini? Apakah ia telah mengatakan semuanya? atau mungkin ada yang terjadi yang tidak aku ketahui.
__ADS_1