
Seorang wanita muda duduk diam-diam di sebuah halaman rumah. Dia mengenakan baju berwarna nude, iya terlihat begitu muram dari sorot matanya. Bahkan ekspresi wajahnya terlihat pucat seperti seseorang yang sedang sakit.
Wanita itu tetap tanpa emosi merenungi sesuatu yang tak tahu kapan akan berakhir.
Pandangan yang kosong membuat seseorang di sampingnya gelisah, sangat perhatian dengan pemikiran wanita itu.
"Untuk pertama kalinya aku melihat gadis itu dengan tatapan kosong. Aku mengenalnya sudah beberapa tahun yang lalu, skandal ini tidak diartikan" Caca berpikir untuk dirinya sendiri, dia tidak bisa membantu tetapi khawatir.
Caca berjalan mendekati gadis itu. Perlahan ia duduk di samping gadis itu.
"Nadin, apa yang kamu pikirkan? kamu terlihat begitu gelisah sejak dari tadi. apa yang mengganggu pikiranmu? coba katakan kepada mbak, mungkin mbak bisa membantumu" Caca mencoba untuk mencari tahu tentang sesuatu yang terjadi pada wanita itu.
Namun gadis itu tidak mengatakan apa pun mengenai pertanyaan itu. Dengan senyum samar, dia bersandar di pundak Caca. Matanya yang sembab seperti habis menangis semalam dan membuatnya sedikit terlihat begitu pucat.
Nadin terlihat begitu cemas dengan keadaan gadis itu. Entah apa yang sedang di alami gadis itu. Caca tidak mengerti dengan semua yang dialaminya, ia akan mencoba mencari jawabannya.
"Apa yang kalian lakukan?" suara dingin terdengar dari seorang laki-laki yang berdiri dengan kokoh belakang mereka.
"Sayang, ada apa kemari? kamu membutuhkan sesuatu" ucap Caca setelah melihat laki-laki itu.
"Tidak, aku tidak membutuhkan apapun. Hanya saja aku tidak melihat mu sedari tadi" jawabnya. "Apa yang terjadi?" ucapnya lagi.
"Aku ingin pulang? sekarang juga" Nadin menjawab tanpa henti. "Bawa aku pergi dari sini" kali ini suara itu terdengar sangat pelan yang diiringi air mata.
__ADS_1
"Apa, kamu ingin pulang. Apa yang terjadi padamu?" sosok laki-laki yang berada di belakang mereka terlihat begitu khawatir. Ia menatap dengan tajam kearah gadis itu.
"Nadin, ayo cepat katakan. Ada Apa denganmu? mbak mohon, setidaknya berilah alasan yang tepat agar mbak mengerti dengan keadaanmu" wanita di sampingnya itu berbicara dengan lirih.
"Aku benar-benar tidak ingin melihat tempat ini, aku ingin pulang. Tempat ini membawa kutukan untuk diriku" kata-kata yang keluar dari mulut Nadin dengan kasar dan tidak sopan.
"Berbicara dengan siapakah aku ini, kamu bukan Nadin adikku yang aku kenal selama ini" Caca berulang kali mengusap dadanya.
"Iya mbak Caca, Nadin memang bukan adik mbak Caca. Aku tidak lebih dari seorang pegawai yang mengikuti kesenangan bosnya" kali ini ucapan Nadin seperti tampar yang keras di wajah Caca.
Mengingat kata-kata itu, Ardi yang berada di belakang mereka sangat terkejut. Ia tidak menyangka dengan teriakan gadis itu.
Apa yang ia katakan? untuk pertama kalinya ia berucap dengan membentak di hadapanku.
"Berbicaralah dengan sopan kepada istriku. Dia tidak pernah melakukanmu seperti pegawai, apa kamu sudah lupa dengan hal itu. Ada apa dengan dirimu ini, apapun itu kamu tidak sepantasnya berbicara seperti itu kepadanya" Ardi sangat marah mendengar ucapan Nadin yang kasar dan tidak sopan kepada istrinya.
"Mbak tahu, kamu tidak akan berbicara seperti itu. Mbak selalu yakin kamu adalah wanita yang baik, hanya saja kamu terbawa emosimu saat ini. Ayo berdiri lah adikku?" Caca memapa gadis itu dan memeluknya dengan sangat erat sehingga membuat Nadin menumpahkan begitu banyak bulir bening dari pelupuk matanya.
"Nadin, apa yang kamu katakan? apa yang terjadi dengan tempat ini. Apakah seseorang melakukan sesuatu kepadamu?" Ardi berteriak mendengar ucapan itu. Tanpa sadar Ardi pun ikut membentak gadis itu karena terbawa emosinya.
"Sayang, aku mohon jangan terbawa emosi untuk semua yang ia katakan" Caca menenangkan suaminya.
"Pak Ardi, sepanjang perjalanan menuju tempat ini. Aku selalu merindukan rumahku. Aku tidak menyukai tempat ini, aku hanya sebuah ombak yang mengiringi kebahagiaan kalian. Namun aku melupakan diriku sendiri, aku ingin pulang secepatnya."
__ADS_1
"Apa yang ada di dalam pikiranmu? liburan ini untuk kebahagiaan kita semua" Caca terperanjat mendengar ucapan wanita yang terlihat sangat kalut itu.
"Tidak, aku tidak bahagia disini. Ini hanya kebahagiaan untuk kalian, sementara aku harus menanggung akibat dari semua kebahagiaan kalian in" ucap Nadin. Ardi merasa tidak nyaman dengan ucapan gadis itu.
"Nadin, Apa yang kamu katakan? mbak tidak merasa seperti itu. Kamu adalah bagian dari liburan ini, bukankah kamu pun sangat bahagia dengan liburan kita ini.
"Bahagia, hanya kalian yang merasa bahagia. Tidak untuk diriku" teriaknya.
Caca merasa terkejut dengan ucapan gadis itu. Nadin berbicara dengan nada yang keras di hadapan Caca. Caca sangat sedih mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Nadin.
"Hanya karena itu kamu ingin meninggalkan tempat ini" Ardi menjawab pelan dan jelas.
"Iya. Aku ingin pergi dari tempat terkutuk ini. Aku tidak mempercayai siapapun disini" tubuhnya gemetar mengucapkan kalimat itu. Ia tahu Caca sangat sedih mendengarnya, namun apa lagi yang akan ia katakan untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Baik. Mari kita semua pulang" Ardi merespon.
Caca tercengang mendengar ucapan Ardi ucapan Ardi.
"Baiklah jika itu keinginan kamu, Mbak akan segera memberitahu yang lain dan berkemas" Caca meninggalkan tempat dimana ia duduk bersama wanita itu.
"Terima kasih mbak. Nadin akan segera berkemas, aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini" ia meninggalkan tempat itu dan menuju ke dalam rumah.
"Segera berkemas. Kita akan segera pulang" ucap Ardi dengan sangat geram. Namun ia mencoba untuk tenang.
__ADS_1
Nadin menghancurkan semua rencana yang telah aku rancang untuk membahagiakan istriku. Seharusnya hari ini adalah hari yang sangat indah. Aku tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini. Apa yang terjadi padanya?
Segera setelah itu, Ardi masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai atas. Saat itu dia berjalan melewati semua orang yang telah bersiap-siap untuk berkemas. Hanya satu hal yang menganggu pikiran Ardi, di keramaian itu dia tidak menemukan laki-laki yang selalu dipanggilnya dengan sebutan Man. Matanya nanar melihat sekeliling, namun tetap saja laki-laki itu tak terlihat.