Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 39


__ADS_3

Wanita paruh baya itu berbalik menghadap ke arah Ardi dan Caca. Matanya masih memperlihatkan pemandangan romantis yang ia lihat.


"Selamat pagi bu, perkenalkan saya Bik Yumi. Maaf saya langsung menuju dapur tanpa sepengetahuan Ibu" memperkenalkan diri.


"Bik Yumi, Saya Caca dan ini suami saya Ardi. Selamat bekerja ya bik, semoga betah bekerja di tempat ini" Caca menatapnya dengan ramah.


"Terima kasih Bu, Pak. Saya sangat bahagia bapak telah mengizinkan saya bekerja disini."


"Sama-sama bik. Hari ini masaklah yang banyak."


"Iya pak. Ibu sangat cantik. Bapak dan ibu pasangan yang serasi" ia berbalik kembali menyelesaikan masakan yang ia buat.


Wajah mereka berhadapan dan saling menatap.


"Sayang, beri aku hadiah untuk prestasiku pagi ini" pintanya pada Caca.


"Hadiah,,,,,,prestasi apa yang kamu lakukan sayang" meninggalkan Ardi yang masih berdiri di tempatnya.


"Mendatangkan bik Yumi, kalau bik Yumi tidak datang kemari tidak akan ada yang memuji keserasian kita" jelasnya.


"Apa, hal lumbrah seperti itu di sebut prestasi. Pandai. Suami yang sangat pandai" Caca mencelanya dan menekankan suaranya.


"Benar kan. Kamu berhutang banyak kepadaku, suatu saat aku akan meminta bayaran ku itu."


"Apa, hutang. Laki-laki bayaran. Untuk semua yang kau lakukan harus aku bayar. Sempurna. Suami yang diidamkan semua wanita" Caca mendengus kencang.


"Benar sekali. Semua yang aku lakukan itu ada harganya. Istriku, lihat aku?" ia bejalan mengiri langkah Caca.


"Baiklah. Berapa banyak yang harus aku bayar untuk semua prestasi-prestasi konyol mu itu. Sayang."


"Tidak banyak. Satu pekan bersamaku, mengikuti kemanapun aku pergi dan menuruti semua yang aku mau. Tidak boleh membantah sedikitpun. Bagaimana?"


"Hanya itu. Baiklah aku setuju. Murah sekali bayaran mu."


Di tengah perdebatan mereka, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Ia berjalan menuju ruang utama yang diikuti Ardi. Setelah membuka pintu Caca menjadi sangat terkejut. Dia tidak menyangka ibu dan mertuanya akan datang ke rumah mereka, suaminya selalu memberikan kejutan yang tak disangka-sangka. Tak begitu lama sebuah mobil pun ikut berhenti di halaman rumah mereka. Seorang laki-laki dan perempuan yang tak lagi asing ia lihat keluar dari dalam mobil.


"Nadin, Man,,,,,, kok bisa?" Caca berpikir panjang setelah melihat keduanya.


"Assalamualaikum mbak Caca" salam Nadin menghentikan pertanyaan yang di dalam benak Caca.


"Wa'alaikum salam Nadin, kalian. Bagaimana bisa bersama?" pertanyaannya yang membuat Nadin gugup.


"Sebenarnya Nadin...." berpikir mencari jawaban yang masuk akal.

__ADS_1


"Nadin bertemu denganku di jalan. Iya kan Din?" Man menyela pembicaraan mereka dengan eksperi wajah yang sangat panik.


"Ada apa ini Man. Apakah kalian menjalin hubungan" Ardi melempar pertanyaan kepada Man.


"Kalian belum berkemas" dengan gugupnya mengalihkan pembicaraan.


Semua orang tak menggubris ucapan Man. Mereka hanya terfokus pada pertanyaan Ardi.


"Apa kalian pacaran?" ucap Bu Ratna.


"Pacaran, tentu tidak. Aku tidak terlalu mengenalnya. Bahkan ini hanya kebetulan saja. Lagi pula dia bukan tipe wanita idamanku" dengan sergap menjawab pertanyaan Bu Ratna.


Matilah aku.


Visual Man



"Iya Bu, mana mungkin Nadin pacarnya. Nadin bukan tipenya. Iya kan Mannnnn" ketusnya dengan nada tinggi dan mata yang melotot ke arah Man.


Kau akan tamat.


Man hanya menganggukkan kepalanya.


"Oh iya Caca sampai lupa. Pemandangan pagi ini luar biasa, semoga akan ada kejutan lainya nanti. Hihihi. Ayo silakan masuk" Caca mempersilakan semuanya.


"Ca, siapa yang ada di dapur" tanya Bu Herda setelah melihat seseorang yang sedang sibuk memasak.


"Itu bik Yumi Bu, ia ART baru" jawabnya.


Mereka berkumpul di ruang tamu. Semuanya terlihat bahagia sekali dengan liburan yang direncanakan Ardi secara mendadak, kecuali Nadin dan Man. Mata keduanya kerap beradu pandang dengan pandangan Nadin yang terlihat sinis.


Apa,,,,,,,,aku bukan tipe mu. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu berlutut. Nadin.


Apa yang akan dia lakukan padaku. Matilah aku. Aku akan meminta maaf padanya. Ayolah Man jangan gugup seperti itu di hadapannya. Man.


Sepertinya ada yang mereka sembunyikan. Ini akan jadi drama yang sempurna. Hihihi. Caca.


Perbincangan mereka pun semakin seru. Rencana Ardi berhasil mengukir senyum di wajah istrinya. Liburan keluarga ia buat agar Caca dapat menghabiskan waktu bersama ibu dan mamanya setelah banyak hal yang terjadi tentu istrinya membutuhkan figur seorang ibu. Setelah bin Yumi selesai memasak mereka pun makan bersama. Ardi telah menyuruh bik Yumi agar memasak lebih banyak.


"Bik Yumi nanti ikut kita. Caca ingin kita pergi bersama agar lebih akrab bik."


"Iya Bu" senyum tulus terpancar di wajah bik Yumi.

__ADS_1


"Iya benar bik. Sepertinya saya yang sendirian gak ada teman di sana nanti" canda Bu Herda melirik Nadin dengan senyum tipisnya.


"Benar sekali lebih baik bik Yumi ikut" Bu Ratna menyela.


"Iya sayang itu ide bagus" Ardi pun setuju dengan istrinya.


Kali ini aku akan membuatmu berkata jujur Man. Lihat saja nanti.


Semuanya menikmati masakan bik Yumi dengan puas. Caca melayani suami dan keluarga dengan sangat telaten. Pak Amran sangat bahagia melihat anak dan menantunya hidup bahagia. Untuk pertama kalinya ia memperhatikan menantunya dalam-dalam.


Aku sangat beruntung di berikan menantu seperti dirinya. Caca wanita yang sangat cantik dan juga lembut.


Setelah menyelesaikan makannya, mereka kembali ke ruang tamu. Mereka bersiap dengan cepat. Caca telah bersiap. Ardi turun dengan membawa cover di tangannya.


Visual Caca setelah bersiap.



"Istriku tercantik" Ardi mendaratkan ciuman di kening istrinya.


"Terima kasih."


"Hanya itu saja, untuk sebuah pujian kamu harus membayar dengan harga yang sangat mahal sayang" senyumnya.


"Baiklah, aku akan membayar semuanya nanti. sekarang lihat disana, semuanya telah menunggu kita. Ayo sayang.." pungkasnya menuju ruang tamu.


"Sayang kamu curang. Tidak pernah mengajakku berselfi. Apa aku sejelek itu?" godaan kecilnya yang berjalan mengikuti langkah dengan bawaan berat ditangannya.


"Kalian lama sekali, ibu hampir ketiduran" Bu Herda berangkat dari duduknya.


"Maaf Bu, lama nungguin ibu negara berdandan. Ardi saja sampai tertidur dengan dua mimpi sekaligus" matanya bergeser melirik Caca.


"Sudah, jangan ganggu istrimu" Bu Ratna membela.


"Mbak Caca cantik sekali" Nadin terkagum dengan penampilan anggun Caca.


"Iya kamu juga cantik. Eh maksudnya nona Caca sangat cantik" Man terbata-bata matanya bebinar-binar.


Man jangan terpengaruh keadaan. Komitmen. Jangan sampai mereka tahu perasaanmu pada Nadin.


"Iya Nadin juga cantik Man. Tapi tidak cocok dengamu" Ardi mencela.


"Ayo cepat, nanti terlalu siang" Man mencari cela menghindari ucapan Ardi.

__ADS_1


"Sudah, sudah ayo kita pergi" Amran menyela setelah kasian melihat Man terpojokkan.


__ADS_2