Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
episode 9


__ADS_3

Hari pun berlalu.


Semuanya berjalan dengan baik tanpa kendala sedikit pun.


Caca dan Rizal menyiapkan semuanya mulai dari pre wedding, seserahan dan lain sebagainya telah mereka siapkan dengan seksama dan sematang mungkin agar tak ada hal yang kurang nantinya. Caca pun merasa bahagia sekali karena akhirnya dia akan menikah.


Namun ada satu hal yang ganjil. Persiapan itu hanya di lakukan oleh Caca dan keluarga serta Rizal saja, tanpa ada pihak lain dari keluarga Rizal. Tapi Caca tak begitu menghiraukannya, karena rasa bahagianya sampai Caca melupakan hal yang sangat penting itu.


Mungkin keluarga Rizal sangat sibuk, tidak masalah. Sebentar lagi mereka akan menjadi bagian dalam hidupku.


Akhirnya hari itu pun tiba..!!!!


Sang pemilik hati telah menjatuhkan 1 daun di pohonnya untuk ku.


Coretan yang Caca tulis di diary miliknya!!


*Siap, tidak siap, harus siap!!


Bismillah*...


Dia melihat teman-temannya, keluarga bahkan semuanya tampak bersemangat menunggu seorang lelaki yang akan melamarnya hari ini. Caca menanti kehadiran Rizal dengan tenangnya.


"Wah , Subhanallah ya aku masih tidak percaya jika hari ini teman kita Caca akan di lamar dan sebentar lagi akan menjadi nyonya dari Bapak Rizal!" suara salah satu teman Caca seakan memberikan candaan padanya.


"Jangankan kalian semua, ibu saja tidak percaya putri kecil ibu ini akan menjadi seorang istri! ucap ibunya Caca dengan meneteskan butiran air mata mata di pipi mulusnya.


"Ibu jangan menangis, seharusnya ibu bahagia" ucapannya seraya menghapus air mata yang menetes itu.


"Ayolah Rizal, Cepat lah muncul kemari ?" sambung Septi dan tika mencairkan suasana yang terlihat membeku.


Semuanya tertawa kecil.


"Uh.... mbak Septi dan mbak tika tidak sabar ya!" Nadin menyela.


"Iya iya!" ibu tertawa lepas.


" Oh iya ca aku mau minta maaf, selama ini mungkin aku sering bercanda sama kamu dan hari ini kamu akan di lamar, kita sudah lama kenal mungkin juga pernah ada salah kata sama kamu " ucap teman-temannya seraya memberikan pelukan hangat pada Caca.


"Ehh... Seharusnya aku yang minta.Terutama terhadap ibu, Caca minta maaf kalo selama ini belum bisa jadi anak baik dan belum bisa buat ibu bahagia dan membanggakan ibu , juga buat temen-temen disini hari-hari saat kita bersama itu adalah hal yang sangat berharga buat caca, Caca sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan kalian semua , semoga kita selalu bersama dan bertemu hingga ke JANNAH " rasa syukur yang tak henti hentinya ia panjatkan saat itu dalam hatinya.


"AAMIIN... " semuanya mengaminkan doa yang diucapkan Caca.


.

__ADS_1


.


Sudah menunggu begitu lama namun tak ada satu pun yang muncul baik Rizal atau pun keluarganya.


Caca pun menelpon Rizal berkali - kali dan Rizal hanya berkata tunggu saja dan tunggu saja hanya itu kalimat yang terlontar dari mulut Rizal yang membuatnya sangat resah. Ada apa sebenarnya ini, mengapa begitu lama hanya untuk datang kemari. "Apa yang terjadi padanya" perasaan cemas menghantuinya.


Caca hanya terdiam dan membisu mencoba menerka-nerka keadaan yang sedang terjadi.


"Ca kamu yang sabar ya, mereka pasti akan datang" ucap ibunya memberikan harapan pada Caca.


"Iya bu" perlahan ia mencoba untuk tersenyum di hatinya yang sangat getir itu.


"Iya mbak Caca, mungkin mereka masih di perjalanan " ungkap Nadin menenangkan.


"Iya mbak juga pikir begitu Din" sahutnya pada Nadin.


...


...


Beberapa jam kemudian Rizal dan keluarganya akhirnya sampai juga di kediaman Bu Herda.


"Mbak Caca lihat tu di depan ada yang datang" teriak Nadin.


Caca hanya terdiam saat itu, walaupun hatinya sudah sedikit tenang.


Saat itu keluarga Rizal langsung masuk ke dalam rumah yang telah ramai dengan keluarga Caca dan duduk di tempat yang telah di sediakan.


...


Semua orang pun terlihat tegang terutama Rizal, yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya tanpa sepatah kata pun. Rizal terdiam dengan kakunya.


...


"Mengapa Rizal begitu, tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi padanya "batin Caca.


Semua keluarga menunggu keputusan Rizal, namun Rizal tak bergeming dari tempat duduknya. Semua orang mengira Rizal tegang menghadapi lamarannya.


Ibu caca langsung menyuruh semua teman Caca untuk menghidangkan makanan dan minuman kepada tamu yang baru datang, tanpa mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya.


Keluarga Rizal pun langsung menyantap hidangan itu dan Rizal hanya tertunduk tanpa sepatah katapun.


Ada apa dengan laki-laki yang kulihat ini. Ia tidak terlihat bahagia. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang teramat dalam.

__ADS_1


Caca merasa sangat gelisah, entah mengapa di hari yang menurutnya bahagia itu. Ia merasa sangat sedih setelah melihat tingkah aneh pada Rizal.


"Apakah ini pertanda buruk ya tuhan. Aku serahkan semuanya padamu ya tuhan, apa pun yang terjadi semoga terbaik" berkali-kali ia menatap laki-laki itu tak bergeming itu.


Caca tidak bisa berbicara langsung dengan Rizal karena pada saat itu mereka berada di tempat yang berjauhan. Ingin rasanya Caca mengetahui keadaan yang terjadi pada Rizal. Hal buruk apa yang dialami Rizal hingga dia tak mampu untuk mengangkat kepalanya di hadapan semua orang.


Caca mengirim pesan kepada Rizal namun tak satu pun pesannya di balas Rizal ...


Hal itu membuat Caca sangat geram bahkan ia sempat memberikan kutukan terhadap laki-laki itu.


"Kamu kenapa ca, seperti sedih dan gelisah begitu" tanya Septi.


"Aku merasa sangat aneh Sep, aku pun tak mengerti dengan perasaanku ini" Caca mencoba menjelaskan perasaannya.


"Oh iya ca apa yang terjadi dengan Rizal" tanya Septi lagi.


"Entah lah hal itu lah yang membuat ku sangat gelisah" jawab dengan tenang.


"Kamu tenang saja Caa, mungkin Rizal hanya gugup saja menghadapi keluarga besar kamu saat ini" sahut Tika.


"Iya benar mbak, mbak tetap tenang yah" Nadin pun ikut berkomentar.


"Iya sebenarnya aku sudah coba menenangkan diri namun entah mengapa rasa itu tak kunjung hilang, berkali- kali ku coba menepisnya namun tetap saja aku gelisah" jawabnya pada mereka.


Apa yang harus aku lakukan?


"Ya udah mbak kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya" ucap Nadin.


"Benar Ca kamu berdoa saja semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kita semua inginkan" sahut Septi.


"Terima kasih ya kalian sudah menenangkan ku disaat seperti ini" ia bersandar di dinding rumahnya.


Caca pun mencoba mengirimkan sebuah pesan kembali pada Rizal.


"Mengapa semua pesan tak di balas padahal semuanya sudah kamu read, apa yang terjadi sebenarnya, jangan membuat ku merasa takut. Mengapa aku merasakan hal yang aneh, sepertinya kamu dan keluarga mu tak bahagia hari ini. Tolong balas pesan ku ini, setidaknya angkat lah wajahmu tunjukkan padaku jika semuanya baik-baik saja."


Pesan terakhir yang ia kirim pada Rizal namun hal yang sama terjadi pesan itu pun tak di balasnya dan ia pun masih tetap pada tempatnya dengan menundukkan kepala seperti seseorang yang habis melakukan sebuah kesalahan besar dan entah kesalahan apa itu.


...


...


***

__ADS_1


__ADS_2