
Ardi terhenti melangkahkan kakinya. Ia menatap keluarganya dari kejauhan. Mereka bercanda ria dengan sangat bahagia di ruang itu. Kehangatan keluarganya yang ia lihat membuat hati Ardi sangat tenang, terutama dengan senyum manis yang terpancar dari wajah istrinya. Ardi yang fokus melihat mereka tak sadar kalau Caca sedang memanggilnya.
"Sayang kemari" Caca menyisihkan tempat duduk untuk suaminya.
"Iya sayang" ia berjalan menuju mereka dan duduk disebelah istrinya.
Mereka semua berbicara panjang lebar hingga larut malam.
"Sayang kamu melupakan sesuatu" ketus Ardi yang hendak berdiri meraih tangan istrinya.
Semua orang tertuju memandang mereka.
"Iya sayang bukan kah kamu melupakan sesuatu dikamar" Bu Ratna menyela dengan nada terkekeh.
"Iya silakan mbak Caca, kita juga sudah mengantuk benarkan Bu" melirik Bu Herda walaupun ia sendiri tidak tahu apa yang di lupakan Caca.
"Iya benar sekali Din" beranjak berdiri dari tempatnya.
Pembicaraan pun selesai, mereka ke kamar masing-masing yang telah disiapkan. Caca terlihat malu-malu, semuanya seakan-akan memberi ledekan kepada mereka berdua. Kecuali Man, ia masih berdiri dengan tegak ditempatnya. Matanya terfokus pada sosok wanita yang berjalan di hadapannya. Ia memandang Nadin dengan lekat. Ardi tak menghiraukan Man yang tertekun ditempatnya, ia meraih tangan istrinya dan membawa ke lantai atas dan Caca hanya menuruti langkah suaminya.
"Katakan sayang apa yang aku lupakan" bibirnya terlihat cemberut setelah Ardi membuatnya kehabisan kata didepan semua orang.
"Diam, kamu akan tahu nanti" jawabnya terkekeh.
Pura-pura tidak tahu rupanya. Lihat saja aku akan menghabisinya nanti. Hiks
"Sayang ayo katakan?" gerutuknya.
Apa yang aku lupakan. Bukankah aku telah menyiapkan semuanya. Tidak bisa di pungkiri lagi. Dia suami teraneh di duniaku.
Dia tidak memperdulikan pertanyaan istrinya. Dia terus menarik tangan istrinya. Caca terus mengulang-ulang pertanyaan. Ardi hanya menatap nakal istrinya yang mengemaskan. Tangannya melingkar erat di pinggang ramping milik Caca.
"Berjalan saja, ikuti aku!" mata hitam pria itu terlihat nakal.
Ardi melepaskan tangannya lalu mengangkat tubuh mungil Caca dan berjalan menuju kamar yang terbuka, setelah itu ia membaringkan istrinya diatas tempat tidur. Ardi berbaring dan menarik tangan istrinya hingga tubuh ramping Caca maju lebih mendekat pada tubuhnya. Wajah mereka berhadapan dan saling menatap dengan mesra.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu" ucap Ardi dengan lembut.
Caca mengangguk dengan kecupan hangat di kening Ardi.
Ardi merapatkan tubuhnya pada tubuh istrinya sedangkan tangannya mulai melepas baju gamis yang dipakai Caca. Aksi Ardi semakin liar, ia membuka semuanya hingga tidak ada sedikit pun benang yang menempel di tubuh istrinya itu yang membuat keinginan Ardi semakin membara. Bibirnya mulai menyentuh bibir istrinya dengan lembut dan menciumnya dengan sangat liar sementara tangannya sudah bergerilya disetiap lekuk tubuh Caca. Ardi semakin bergairah dan menikmatinya hingga terjadilah yang harus terjadi. Tidak hanya sekali, Ardi melakukannya hingga berkali-kali dan membuat mereka tertidur dengan begitu pulasnya.
.
.
Pagi
Mereka semua menikmati sarapan pagi, kecuali Ardi dan Caca. Mereka masih berada didalam kamar bahkan belum ada tanda-tanda suara yang terdengar dari keduanya.
"Seperti sesuatu yang dilupakan Caca tadi malam membuatnya kelelahan. Tidak sabar menunggu hasilnya" gumam Bu Ratna yang di balas senyum semua orang.
"Memangnya apa yang di lupakan mbak Caca Bu" tanya Nadin dengan wajah yang polos.
Semuanya menjawab pertanyaan Nadin dengan tawa.
"Ehem...." eyang putri mengisyaratkan untuk diam.
Semua melanjutkan sarapannya.
Selang beberapa saat Caca dan Ardi keluar dari dalam kamar. Mereka berjalan menuju dapur, dimana semua orang telah menyelesaikan sarapan mereka masing-masing.
"Sayang aku kan jadi malu" gerutuhnya.
"Ayo cepat sarapan, siang nanti kita akan pergi setelah menyelesaikan rapat via online bersama Man" Ardi melahap sarapan di depannya.
"Baik."
Setelah sarapan, Caca berjalan menuju teras rumah. Dimana eyang putri duduk bersandar di sebuah sofa yang terlihat unik. Mereka berbincang dengan serunya.
Ardi diam dalam berdirinya. Sejenak ia merasa bahagia, harapannya terkabulkan. Eyang putri memberikan kasih sayang kepada istrinya dirumah mereka, Setidaknya istrinya diterima dengan baik oleh eyang putri.
__ADS_1
Begitu sempurna. Matanya tak lepas memandang eyang putri dan istrinya.
"Sayang apa yang kamu lihat" Bu Ratna menghampiri dan bersandar di pundak Ardi.
"Eyang putri dan istri Ardi ma" jawabnya yang merangkul mamanya.
"Keluarga kita belum lengkap" keluhnya pada Ardi.
"Kan mama sudah memiliki semuanya, lalu apa lagi yang mama butuhkan?"
"Mama butuh cucu. Mama juga ingin merasakan seperti teman-teman mama. Kalau lagi arisan mereka sering cerita kelucuan cucu mereka dan kenakalan cucu mereka, katanya mereka itu unik-unik. Mama sering iri mendengarnya. Mama mau cucu yang banyak" keluhnya lagi.
"Mama yang sabar ya, Ardi dan Caca lebih dari mama menginginkannya. Mungkin belum waktunya, ini kan juga baru beberapa bulan" Ardi memberikan pengertian kepada mamanya.
"Anak teman mama baru 1 bulan menikah, istrinya langsung hamil. Terus tetangga kita udah nikah jelang berapa Minggu juga udah hamil. Kalian kan sudah berapa bulan masa belum ada juga" ungkap Bu Ratna dengan nada pelannya karena ia tak ingin menantu kesanyangannya itu mendengar keluhannya hingga akan menyinggung perasaan istri anak semata wayangnya.
"Iya mama bedoa saja ya agar Ardi dan Caca segera diberikan anugerah itu" mendekap mamanya dengan erat.
"Mama sudah berdoa setiap hari tapi belum dikasih juga."
"Doa mama masih kurang, sebaiknya ditambah lagi ma" ledek Ardi dengan mberikan ciuman dikening ibunya.
"Kalian harus berusaha lebih giat lagi, kan kasian mama sama mertuamu. Kita kan udah siapan nama buat anak kalian nanti."
"Hahahahha, mama ada-ada saja. Hamil aja belum udah di siapin nama segala. Mama istirahat saja, Ardi ada pekerjaan sebentar" meninggalkan Bu Ratna ditempatnya.
"Tu kan, mamanya di tinggal sendirian. Coba kalo ada cucu mama kan bisa main sama cucu" umpatnya.
Ardi hanya tersenyum dengan ucapan mamanya yang manja. Ardi tak begitu memikirkan keluhan mamanya, walaupun hatinya juga sangat menginginkan kehadiran sang buah hati. Namun ia selalu memendam keinginannya itu, hingga apa yang ia harapkan akan terkabulkan nantinya. Dia sangat yakin secepatnya ia akan diberikan anugerah tersebut.
Matanya nanar melihat disekililing, namun tak terlihat orang yang ia cari walaupun hanya sekedar bayangan sekali pun.
Dimana dia. Sial.
Ia mulai berjalan menuju taman di sebelah rumah mencari sosok yang ia cari. Dua orang sejoli terlihat begitu mesra di hadapannya. Ardi terlihat begitu geram melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Ia segera pergi meninggalkan dua sejoli di mabuk asrama itu.
__ADS_1