
Tepukan ringan di bahu, membuat gadis berparas elok itu terlonjak. Caca yang berada dihadapannya, menatap dengan wajah antusias. Rumah gadis itu selalu terlihat sepi, hanya ada dia seorang diri yang menghuninya.
"Nadin, apa kamu sudah siap untuk menceritakan semua yang terjadi padamu. Mbak akan mendengarkannya jika kamu ingin berbagi kesedihanmu" tanya Caca kepada wanita dihadapannya itu.
"Maaf mbak, Nadin membutuhkan waktu untuk menceritakan semuannya" jawabnya.
"Mbak tidak memaksa, namun mbak akan selalu mengingatkan satu hal padamu. Seberapa besar apapun masalah yang sedang kamu hadapi, kamu harus tetap bersabar" ucapnya seakan mengerti dengan keadaan Nadin.
Gadis di hadapan Caca itu menangis histeris. Ia menangisi semua yang terjadi dalam hidupnya. Tidak ada tempat untuk ia mencurahkan semua isi hatinya, saat itu Caca menyadari bagaimana keadaan dirinya waktu itu. Ia juga tidak ingin membebani Nadin dengan semua pertanyaannya.
"Apa yang terjadi? mbak tidak memaksa mu untuk mengatakannya" Caca terlihat panik.
"Mbak, Nadin mencintai orang yang salah" ucapnya dalam tangis.
"Maksud kamu?"
"Nadin sangat mencintai Man. Nadin tidak bisa hidup tanpanya, apa yang akan terjadi nanti jika semua orang tahu bahwa Nadin mencintai laki-laki yang telah beristri. Nadin sangat bodoh, mengapa semua ini terjadi padaku. Kenapa mbak Caca? Nadin tidak seberuntung dirimu" ia memanggil hingga sesegukan.
"Nadin kamu harus sabar dan berdoa, Allah selalu tahu apa yang kita butuhkan dan yang tidak kita butuhkan. Kamu harus mengubur rasa cinta itu, Din. Mbak tidak ingin kamu menjadi penyebab kehancuran rumah tangga seseorang" Caca menenangkan dengan pelukannya.
"Bagaimana aku akan melakukan nya? Nadin tidak bisa melepaskan laki-laki itu dengan mudah" ia memeluk erat Caca.
"Apa yang kamu katakan? Bagaimana mungkin kamu hadir dalam hidup seseorang sebagai orang ketiga. Apa kamu tega akan menyakiti istri dan anaknya" ucap Caca yang menghentikan tangisan Nadin.
"Apa? Mbak Caca sudah tahu soal Man. Bukankah aku pernah menanyakan hal itu sebelumnya. Mengapa mbak Caca merahasiakan semua itu dariku. Atau mungkin mbak Caca ingin melihat kehancuran hidup Nadin" ucap Nadin yang mencekam di telingga Caca.
Apakah Mbak Caca juga terlibat dalam kehancuran hidupku ini.
"Apa yang kamu katakan adikku? tidak mungkin aku akan menjerumuskan mu dalam sebuah dosa. Mbak baru saja mengetahuinya, setelah itu mbak langsung kemari untuk mengatakannya padamu. Tetapi kamu lebih dulu yang mengatakan semuanya" Caca meyakinkan gadis itu.
__ADS_1
"Maafkan Nadin mbak, Man sangat jahat. Dia memberikan harapan kepadaku, lalu menghancurkannya."
"Hentikan, kamu tidak pantas untuk menanggis" Caca mengusap bulir bening yang menetes di pelupuk mata gadis itu.
"Apa yang harus Nadin lakukan?"
"Kamu harus melupakannya, dia tidak pantas untukmu. Aku tidak akan rela melihat adikku bersama laki-laki yang telah beristri. Lupakan dia, masih banyak laki-laki yang yang akan mencintaimu" ucap Caca.
"Bagaimana mungkin aku melupakannya, Nadin tidak ingin kehilangan dirinya. Apapun yang terjadi Nadin tidak akan melepaskan? aku sangat mencintainya bahkan ingin memilikinya"
"Nadin."
Plakkkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi gadis itu.
"Bukan kah jodoh itu rahasia yang di atas. Bagaimana jika Man adalah jodoh yang dikirim tuhan untukku."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus melepaskan laki-laki itu begitu saja, setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku tidak akan melepaskannya, bagaimana pun aku akan menikah dengannya. Hanya dengan dirinya." Nadin menekankan kalimatnya.
"Maafkan semua ketidakjujuran nya padamu. Mbak rasa kamu hanya sedikit kecewa. Jangan jadi wanita yang bodoh hanya karena cinta. Kamu telah diperbudak cinta hingga tidak dapat melihat kebenarannya."
"Apa? Semudah itu. Nadin bukan budak cinta seperti yang mbak Caca katakan, Nadin hanya meminta ia bersikap adil kepada Nadin. Aku tidak bisa meninggalkan laki-laki itu, aku tidak perduli dengan statusnya. Aku tidak perduli dengan istri dan anaknya. Apa aku harus mengatakan semuanya agar mbak mengerti."
Mbak Caca tidak akan mengerti. Mungkin mbak akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi yang aku alami.
"Katakan, ada apa sebenarnya?"
"A-aku...." Nadin membungkam mulutnya setelah melihat seseorang laki-laki yang berjalan ke arah mereka. Yang tidak lain adalah Ardi suami Caca.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" ucap Ardi setelah sampai di teras rumah itu.
"Tidak ada yang terjadi pak. Nadin dan mbak Caca hanya membahas tentang toko, rasanya Nadin sudah sangat merindukan toko itu" Nadin mengalihkan pembicaraannya dan memberikan mengedipkan matanya sebagai isyarat kepada Caca untuk menutup pembicaraan yang baru saja mereka katakan.
"Soal itu, kalian akan bisa kembali ke toko beberapa hari lagi. 2 atau 3 hari lagi toko bakery itu akan selesai renovasi. Ayo makan, aku membawakan sesuatu untuk kalian" ucap Ardi dengan memberikan bingkisan di tangannya.
"Terima kasih, sayang" Caca mengambil dan membuka bingkisan yang di bawa Ardi. Ia meletakkannya di atas meja kayu di teras.
"Pizza, Nadin sangat menyukainya. Terima kasih pak" Nadin dan Caca mulai mengambil potongan pizza dihadapan mereka dan menyantapnya.
"Makan lah yang banyak, jika kurang aku akan memesannya kembali."
"Tidak ini sudah cukup" Caca segera menjawab. Ia sangat mengerti dengan ucapan suaminya, bisa saja Ardi akan membawa pizza beserta gedungnya ke rumah itu.
"Iya pak, ini sudah cukup" ucap Nadin.
"Baiklah, aku rasa juga begitu. Kalian lanjutkan saja obrolannya kembali" Ardi berjalan kearah kursi kayu yang ada di halaman rumah Nadin.
"Din, mbak akan menunggu jawabannya" Caca mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Nadin.
"I-iya mbak" ucap Nadin dengan tergagap. Ia sangat takut untuk mengungkapkan suatu fakta kepada Caca.
"Walau pun bukan sekarang, mbak akan menanyakannya di lain waktu. Mbak tidak ingin kamu terjebak dalam situasi yang salah. Lebih baik, menghindari dari pada menghadapi. Kamu harus ingat itu."
"Iya mbak Nadin mengerti. Nadin harap mbak juga mengerti perasaan Nadin. Butuh waktu untuk semua ini" Nadin sangat gugup berbicara kepada Caca.
Maaf mbak Nadin tidak bisa menceritakan kebenarannya kepada mbak Caca. Nadin takut, mbak akan kecewa kepada Nadin. Mungkin di lain waktu Nadin akan menceritakan semuanya.
"Baiklah, mbak mengerti" jawab Caca.
__ADS_1
Man sangat keterlaluan. Aku harus mendapatkan jawaban untuk semua ini darinya.
Mereka melanjutkan makannya kembali. Setelahnya Caca dan Ardi pamit untuk segera pulang karena saat itu sudah sangat larut.