
Rumah besar dan megah yang memiliki halaman yang sangat luas dengan sebuah taman indah terlihat begitu jelas setelah mobil yang berjalan dengan kecepatan sedang berhenti melaju.
"Inilah rumah kita" laki-laki itu keluar dan membukakan pintu mobil sebelahnya.
Caca keluar dan tertekun melihat Ardi membuka pintu rumah.
"Ayo masuk, selamat datang di rumah kita" ucap Ardi padanya.
"I..ya sa..yang" jawabnya terbata-bata. Ia begitu takjub dengan apa yang ia lihat. Ia melihat setiap bentuk bagian rumah itu.
"Kamar kita di atas, Ayo. Bukankah kamu sangat lelah" meraih tangan Caca untuk menaikki tangga.
"Iya aku sangat lelah" mendengar kata kamar membuatnya menjadi takut.
"Ayo masuk, jangan malu ini kamarmu juga sekarang."
"Eeemmm" Caca mematung di pintu kamar.
"Kenapa, kamu sudah jadi istriku bukan temanku lagi. Ayo kemari" Ardi mengangkat tubuh mungil Caca ke atas tempat tidur.
"Sayang, aku bisa sendiri" teriak Caca.
"Ganti pakaian kamu sekarang."
"Apa?" teriaknya.
"Jangan melotot. Apa kamu akan istirahat dengan baju pengantin atau aku yang harus melepasnya" Ardi hendak berdiri dari tempat tidur menuju kedalam kamar mandi.
"Tidak sayang, aku bisa sendiri" mempercepat langkah membuka lemari mencari baju yang akan dipakai.
Teman yang sangat menakutkan.
Caca mengambil piyama tidur didalam lemari untuk ia pakai, Ardi pun keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk sekenanya.
Caca menundukkan pandangannya dan berjalan membelakangi laki-laki itu yang sibuk menyibakan rambutnya.
"Ada apa? Apa aku menakutkan seperti hantu" tanyanya.
"Lebih dari itu" Caca berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.
Caca bergegas mengunci pintu kamar mandi dan memperlambat ganti pakaiannya untuk menghindari Ardi.
Ardi memandang wajahnya di pantulan cermin.
Apa aku seseram itu. Tapi tidak juga. Suami setampan ini, ia bilang lebih menakutkan dari pada hantu. Keterlaluan.
Tok tok tok
"Sayang..." panggil Ardi.
"Iya sayang..." jawab Caca gugup.
"Apa yang kamu lakukan di dalam sana, apakah kamu tidur atau butuh bantuanku untuk melepasnya" Ardi menutup mulutnya yang terkekeh.
"Tidak sayang ini baru selesai. sayang kamu belum tidur" tanyanya setelah membuka pintu kamar mandi.
"Aku nungguin kamu. Apa kamu tidak lapar, ayo makan tadi aku sudah pesan makanan" jawab Ardi sembari turun dari atas tempat tidur dan merarik tangan Caca untuk menuruni anak tangga.
Ardi duduk tenang di kursi makan menunggu Caca menyiapkan piring dan mengambil air putih. Ardi tak berhenti sedikit pun untuk memperhatikan setiap gerak gerik Caca. Ia pun berpura-pura tak melihatnya.
__ADS_1
"Sayang ayo makan" ucapnya mengagetkan Ardi.
"Iya" ia senyum tipis."Hari ini kamu terlihat sangat cantik dengan gaun itu" Ardi melirik Caca.
"Eehheemmm..." Caca tersedak mendengar ucapan Ardi.
"Ada apa?" menyodorkan segelas air putih di mulut Caca.
"Tidak apa-apa sayang, ayo makan lagi."
"Serius" tanya Ardi menyakinkanku.
"Iya sayang."
Setelah makan malam, Caca pun membersihkan meja makan dan Ardi menunggunya.
"Mejanya di urus besok aja, ayo kita tidur aku sudah sangat lelah" Ardi memijat pundaknya yang terasa lelah.
"Baiklah" Caca menuruti suaminya dan berjalan di belakang suaminya.
Ardi menghentikan langkahnya dan Caca menabrak tubuh Ardi.
"Kamu memelukku" Ardi berhasil mengoda istrinya.
"Tidak. Bukankah kamu berhenti mendadak" jawabnya polos.
"Jangan berbohong, ayo katakan" Ardi meneruskan langkanya.
Setiba dikamar Caca merasa takut, akan kah malam pertama mereka akan terjadi malam ini.
"Biar aku yang memijatnya" Caca mendekati Ardi untuk memijat kepalanya.
Tanpa di sadari, ia memijat Ardi hingga Ardi tertidur dengan begitu pulas. Caca membaringkan tubuhnya di samping Ardi dan menarik selimut di bawah mereka. Untuk pertama kalinya ia tidur bersama laki-laki tentu membuat jantungnya berdebar tak karuan.
***
Caca mulai terlelap dan tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya hingga ia terbangun karena nafasnya terasa sesak, ia membuka matanya. Tubuh Caca yang mungil berada di dalam dekapan Ardi. Ia pandang wajah suaminya itu dengan seksama. Semakin Caca ingin melepaskan pelukan itu Ardi semakin erat pula memeluknya.
"Ada apa" Ardi membuka matanya dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Caca.
"Kamu sudah bangun" tanyanya terbata-bata.
"Maaf sayang semalam aku ketiduran" jawab Ardi dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ayo bangun sekarang sudah pagi. Apa kamu tidak bekerja hari ini?"
"Hari ini aku libur, kemarin sudah izin sakit" ucap Ardi tersenyum.
"Izin sakit, Emang kamu lagi sekolah?"
"Sama saja, saat ini kan aku berada bersama teman SMP ku jadi itulah alasan yang tepat" jawab Ardi mengeratkan pelukannya.
"Aku lupa, kamu kan bosnya. Boleh aku cerita."
"Emang kamu mau cerita apa?" tanya Ardi penasaran.
"Sayang aku ingin kamu tahu semua masa laluku, ku harap kamu mau mendengarkannya" pinta Caca.
"Aku tidak ingin membicarakan masa lalu bagiku masa lalumu milikmu dan masa laluku itu miliku dan saat ini kamu adalah masa depanku jadi aku tak tertarik dengan masa lalu. Masa depan ini ya masa sekarang maupun yang akan datang dan seterusnya milik kita berdua. Kamu memiliki masa lalu dan aku pun juga begitu namun kita harus melupakannya. Kamu mengerti sayang" ucapnya dan memberikan ciuman di bibir Caca.
__ADS_1
Dia menciumku semaunya. Curang, mengambil kesempatan didalam kesempitan.
****
"Sayang aku akan membuat sarapan, sekarang kamu mandi, aku tunggu di bawah" Caca melepaskan pelukan Ardi.
"Baik nyonya, siap menjalankan perintah ibu negara" Ardi memberikan ciuman hangatnya
di bibir Caca kembali seketika membuat wajahnya bersemu merah.
Caca berlari menjauhi Ardi, ia takut akan ciuman itu akan berlarut.
"Ya kabur" ucap Ardi.
Caca segera membuat sarapan dengan cepat. Ia sangat telaten dalam memasak. Ia membuat nasi goreng dengan telur ceplok.
Setelah selesai membuat sarapan Caca hendak memanggil Ardi, Namun langkahnya terhenti saat melihat suaminya telah menuruni anak tangga.
"Sarapan sudah selesai. Ayo kemari."
"Siap ibu negara."
"Ibu negara. Apa ia bermimpi semalam. Temanku ini semakin tidak waras" umpatnya.
Caca dan Ardi menyantap sarapannya.
"Nasi goreng terlezat di dunia" gumam Ardi yang tak henti memandang wajah Caca hingga membuatnya tersipu malu.
Caca hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman.
"Sayang, apakah boleh aku ke toko" ucap Caca yang menghentikan tangan Ardi meraih gelas kopi yang akan ia ambil.
"Maaf sayang, untuk dua hari ini kita libur kerja dan untuk toko bakery mu itu kita akan bicarakan lagi nanti yah."
"Baiklah" gerutuk Caca dengan sedikit kesal, ia sangat merindukan suasana di toko bakery itu.
"Saat ini fokus untuk kita berdua" tawa Ardi memecah keheningan mereka.
Caca hanya terdiam dan menganggukkan kepala yang berarti menyetujuinya.
"Sayang bisa kah kamu membuat kue seperti yang ada di tokomu" tanya Ardi.
"Tentu itu ide bagus, baik lah aku akan membuatkan kue terlezat ala Caca untuk suamiku tercinta" Caca mengucapkan kalimat itu dengan sangat lantang yang membuat Ardi terkekeh.
"Itu baru istrinya ardi."
Caca dan Ardi tertawa riang melupakan semua yang telah di lalui, Membuat kue bersama seorang direktur tentu merupakan hal yang sangat langkah.
"Kenapa menanggis" Ardi mengusap tetesan bulir bening yang jatuh di pelupuk mata istrinya.
"Maaf sayang, aku terlalu bahagia" memeluk erat Ardi.
"Aku berjanji akan memberikan kebahagian kepadamu" mencium kening istrinya dan membalas pelukannya dengan sangat erat.
"Lepaskan. Bagaimana kuenya akan matang jika seperti ini."
"Ayo siapa yang memulainya."
Setelah selesai membuat kue Caca dan Ardi pun menikmatinya sambil menonton televisi, tawa dan canda mereka pun menghiasi kesunyian rumah itu.
__ADS_1
***