Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 26 Private Number


__ADS_3

Sore itu Ardi dan Caca berjalan keluar villa untuk menikmati hembusan angin pantai di sore hari. Suasana yang begitu sejuk tentu dengan keromantisan Ardi membuat hubungan keduanya semakin erat.


"Sayang, coba perhatikan ombak yang berada disana" Ardi menunjuk kearah ombak di pinggiran pantai.


"Apa yang menarik dari hal itu, bukankah itu biasa saja" gumam Caca dengan mengikuti arah telunjuk Ardi.


"Tidak, tentu ada hal yang sangat menarik" ucap Ardi.


"Hal menarik apa yang terlihat, di setiap pantai pasti terlihat ombak yang seperti itu" jawabnya.


"Ombak di tepi pantai, ia akan datang tapi pada saatnya ia akan pergi. Namun, Air yang kembali tidak sama dengan yang sebelumnya. Kamu tahu kenapa?" tanya Ardi.


"Karena hal yang pergi apabila ia kembali maka tidak akan pernah sama. Bukan kah begitu, sayang" jawab Caca asal-asalan.


"Benar sekali, begitu pun dengan kehidupan masa lalu yang pernah kita alami. Semua tidak akan sama seperti sekarang ini. Aku sudah melupakannya dan kamu adalah satu-satunya wanita yang akan menemaniku sampai di akhir masa" ucap Ardi.


"Apakah ucapanmu itu bisa dipercaya, berjanjilah padaku sekeras apapun ombak yang akan menghantam namun tetaplah bersama. jangan pernah terpengaruh dengan ombak yang baru saja datang lalu melupakan pesisir yang telah lama menunggu" gumam Caca.


"aku berjanji di pantai ini, apapun yang terjadi di suatu saat nanti. Aku tidak akan pernah menghancurkan karang yang utuh seperti ombak yang perlahan menghancurkannya. Kamu mau tau seberapa besar aku mencintaimu? " tanya Ardi lagi.


"Tentu saja, aku sangat ingin tahu sebesar apakah dirimu mencintaiku."


"Cobalah hitung pasir yag ada di tepi pantai, begitulah cintaku kepadamu" jawab Ardi terkekeh.


"Bagaimana jika aku dapat menghitung semua pasir yang ada di tepi pantai, apa seperti itu pula cintamu padaku?"


"Walaupun pasir di tepi pantai dapat dihitung, tetapi tidak dengan cintaku yang seujung kuku kepadamu."


"Apa? hanya seujung kuku kau mencintaiku."


"iya benar, aku mencintaimu hanya seujung kuku. Walau sekeras apapun seseorang memotongnya namun perlahan ia akan terus tumbuh begitupun dengan cintaku kepadamu tidak akan pernah pudar dan hilang seperti ku ku akan terus tumbuh.


Caca terhanyut dengan gombalan yang di berikan suaminya itu.


Dering ponsel mengejutkan keduanya.


Kringggg kringggg


Tertera private number di layar ponsel.

__ADS_1


"Kenapa panggilannya tidak di jawab, jawablah aku tidak akan mendengarnya" ucap Caca.


"Tidak penting. Ada yang lebih penting disampingku daripada sebuah panggilan" jawab Ardi.


Ponsel pun kembali berdering hingga puluhan panggilan tidak terjawab.


"Sayang, mungkin ada hal yang sangat penting" ucap Caca.


"Baiklah, tunggu sebentar aku segera kembali" berjalan sedikit menjauh hingga Caca tidak dapat mendengar pembicaraan kedua nya.


"Hal penting apa yang membuatnya menjauhiku" Caca mulai berpikir yang tidak-tidak.


Setelah beberapa menit Ardi kembali mendekati Caca.


"Siapa yang menelpon hingga kamu menjauh dariku. Hal penting apa yang dibicarakan suamiku ini, sehingga aku tidak diperbolehkan untuk mendengarnya. Aku juga bisa cemburu, Apa kamu ingin melihat Bagaimana aku cemburu?" gerutuk Caca dengan menyimpan berbagai macam pertanyaan di pikirannya.


"Orang yang tidak penting, sudah tidak usah dibahas. Aku lebih bahagia mendengar kecemburuanmu itu daripada sebuah panggilan yang sangat membosankan" jawab Ardi simpel.


Selang beberapa menit kemudian ponsel Caca pun ikut berdering.


"Sayang coba lihat" Caca menyodorkan poselnya di hadapan Ardi. Private number tertera di layar ponsel.


"Baiklah, aku pun tidak terlalu membutuhkannya saat ini" serunya.


"Jangan pernah mengangkat panggilan dari seseorang yang tidak dikenal" perintah Ardi pada Caca.


"Iya, aku pun tidak menyukai panggil yang tidak dikenal. Oh iya sayang kita kapan pulang. Aku sangat merindukan ibu dan rumah kita" ucap Caca yang mengeluh.


"Besok kita pulang. Untuk saat ini kamu nikmati saja kebersamaan kita" jawabnya kepada Caca.


"Iya suamiku."


Masalah hidup seperti ombak di tepi pantai, ia akan datang tapi pada saatnya ia akan pergi. Layaknya pasir di pantai, cinta yang terlalu ku genggam erat, akan membuatnya semakin lepas. Ketika ku pasrahkan semuanya dengan alur yang semestinya Tuhan datang kebahagian yang tidak ternilai dalam kehidupanku.


Namun Caca terpikir dengan panggilan yang berulang-ulang di ponsel Ardi. Begitupun panggilan yang berada di ponselnya, mengapa ia merasa bahwa kedua panggilan itu berasal dari orang yang sama. Namun ia menepis pemikiran itu jauh-jauh, karena tidak ingin merusak kebersamaan mereka.


"Siapakah penelpon misterius itu. Apa mungkin Ardi menyembunyikan sesuatu dariku" gumam Caca.


Tidak mungkin Caca, itu hanya kekhawatiranmu saja. Bagaimana jika itu Airin? aku tidak mengerti begitu banyak kerikil tajam dalam rumah tanggaku ini.

__ADS_1


***


Matahari mulai tengelam, Ardi dan Caca berjalan menuju villanya. Namun sebelum itu Ardi telah memesan makan malam mereka melalui aplikasi yang ada di ponselnya karena tidak ingin merepotkan istrinya itu.


Setiba di villa tidak begitu lama makanan yang di pesan Ardi pun telah datang.


Mereka pun menimati makan malam berdua, walaupun tidak seromantis pasangan pada umumnya namun bagi Caca itu adalah makan malam teromantis di dunia. Bagaimana tidak menikmati makan malam sepiring berdua dan di suapi oleh suaminya itu.


***


Mereka pun bersiap untuk tidur namun ponsel Ardi berdering kembali dan private number kembali yang tertera di layarnya.


"Siapakah penelpon misterius ini. Tidak mungkin orang yang tidak penting. Kamu menyembunyikan sesuatu dariku suamiku. Apa tujuannya menelpon semalam ini" pikiran yang mulai menghantui Caca.


...


Ardi sama sekali tidak mengubris panggilan di ponselnya.


"Sayang kemari, berbaringlah disampingku" pinta Ardi.


"Baiklah."


"Apa kamu ingin menyia-nyiakan bulan madu kita ini" ledek Ardi.


"Heemmmmsss" Caca hanya tersipu malu.


"Ayo kemari lebih dekat."


"Sayang ponselmu sejak tadi berdering, angkat saja mungkin itu panggilan penting."


"Itu tidaklah penting, jika memang penting dia tidak akan menelpon dengan private number" Ardi menjawab ketus ucapan Caca.


Namun Ardi tak mengurungkan niatnya. Ardi menarik tubuh istrinya itu ke atas tempat tidur, dengan cepat tubuh istrinya itu telah berubah posisi. Ardi telah berhasil berada diatas tubuh istrinya.


"Apa yang dapat kamu lakukan jika aku sudah berada di sini" Ardi menatap lekat wajah istrinya itu.


"Aku tidak akan melakukan apapun, untuk urusan yang seperti ini aku tidak secerdas suamiku" Caca terkekeh dan memalingkan wajahnya.


"Baiklah, lihat saja apa yang dapat kamu lakukan" Ardi memulai serangannya.

__ADS_1


Hal yang mestinya terjadi akhirnya terjadi, sepasang kekasih itu melupakan semuanya. Bagi mereka, dunia seakan milik mereka berdua sementara yang lain hanya mengontrak.


__ADS_2