
Semua kegiatan keseharian Caca ia tuangkan ke dalam buku diary kecilk miliknya.
Semua keluh kesah selalu ia tulis di dalamnya, sepertinya Caca sudah mulai melupakan Yudha, nama tersebut dan bayangannya pun sudah lepas dalam pikiran Caca namun tidak dengan foto itu.
Caca hanya fokus dengan pekerjaannya saja dan menghabiskan semua waktu di toko bakery bersama Nadin.
Caca dan Nadin sering menginap di toko, di lantai atas toko memang sengaja di beri ruangan istirahat untuk tidur saat merasa lelah ataupun saat malas untuk pulang ke rumah. Toko adalah inspirasi dan rumah kedua bagi Caca.
...
...
Melihat ketulusan Rizal akhirnya Caca mulai membuka hati untuk berteman dan tidak mengabaikannya lagi, ia pun mulai mengangkat telpon dari Rizal dan membalas pesan yang selalu di kirim kepadanya.
Caca merasa bersalah jika harus mengabaikannya terus menerus, ia tidak ingin melukai Rizal untuk kesalahan yang dilakukan Yudha, mungkin saja untuk kali ini ia tidak salah mengenal laki-laki dan mungkin juga dia berbeda dengan Yudha' itu yang ada di pikiran Caca saat mengingat Rizal' komunikasi mereka pun semakin kerap melalui telpon dan pesan whatshap.
Setelah beberapa bulan lamanya komunikasi Caca dengan Rizal akhirnya berubah menjadi suatu hubungan. Rizal mengutarakan semua isi hatinya pada Caca, ia pun menerima cinta Rizal Dan menjalin hubungan dengan nya, Mereka sering bertemu hanya untuk sekedar minum kopi ataupun makan siang. Hal itulah yang menambah kedekatan mereka dan mampu membuat Caca melupakan sosok Yudha dalam hidupnya.
Perlahan bayangan foto mesra itu menghilang di ingatannya. Bulan mulai berganti Caca tak ingin berlarut- larut dalam hubungan ini karena ia takut jika harus kecewa.
Tidak di sangka ternyata ada niat yang tersimpan didalam hati Rizal.
Rizal pun berniat untuk segera melamar Caca.
...
...
Aku akan menceritakan semuannya pada ibu di saat waktu yang tepat.
Pagi itu Caca duduk di depan rumah da hendak pergi ke toko, ia melihat ibunya yang sedang menyapu halaman rumah mereka.
"Kamu kenapa Ca ? sepertinya ada sesuatu yang menganggumu" Bu Herda melemparkan pertanyaan sekaligus merubah pandangannya ke arah Caca.
"Em.. em.. tidak bu! " ucapnya pada Bu Herda.
"Apa kamu sakit? " tanya nya lagi.
"Tidak juga Bu, Caca baik baik saja."
"Tapi ibu lihat kamu memikirkan banyak hal" naluri seorang ibu begitu kuat
"Bu jika empat hai lagi ada seseorang yang akan melamar Caca, Bagaimana menurut ibu! " jawabnya dengan sangat kaku.
"Hah di lamar, serius kamu" Bu Herda menarik tangannya dan mengajaknya duduk di kursi tamu teras rumah. " Wah alhamdulillah ibu harus memberitahukan kabar gembira ini kepada keluarga besar kita" ia terlihat sangat bahagia.
"Iya Bu, Rizal akan melamar Caca. Apakah ibu menyetujuinya?" eminta restu kepada ibunya.
"Jika kamu sudah memilihnya maka tak ada alasan untuk ibu untuk menolak Rizl" ia mendaratkan pelukannya di tubuh Caca.
Rasanya sangat bahagia namun akhirnya aku akan kehilangan putri kecilku itu itu.
"Iya Bu terima kasih."
Saat itu juga Bu Herda langsung menelpon keluarga besarnya untuk mengabarkan tentang lamaran yang akan dilaksanakan empat hari lagi itu, Caca adalah anak yang susah untuk menikah lagi pula hanya ia yang dimiliki ibunya.
Caca pun meninggalkan ibunya dan langsung masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Bu Caca pergi dulu ya, assalamualaikum" pamitnya pada Bu Herda.
"Iya sayang wa'alaikum salam, kamu hati - hati dijalan" ia melambaikan tangannya.
Caca pun berlalu menuju toko, tak lupa ia menghampiri rumah Nadin.
Sepertinya Nadin belum pergi.
"Assalamualaikum.... Nadin" ia berteriak mengucap salam pada Nadin.
"Wa'alaikum salam. Mbak Caca!" sahutnya dari dalam rumah.
"Iya ayo pergi" ucapnya.
"Iya mbak, tunggu sebentar Nadin ambil tas dan kunci rumah."
"Okey" mengacungkan jari jempol padanya.
Nadin hanya tinggal sendirian kedua orang tuanya sudah lama tiada semenjak Nadin masih kecil, karena hal itu setelah menamatkan sekolahnya. Nadin bekerja di toko bakery milik Caca. Nadin sudah seperti adik baginya dan Caca juga bagaikan kakak bagi Nadin.
"Ayo mbak."
"Okey, let's go...."
"Tumben mbak Caca pagi sekali" tanya Nadin seperti seorang detektif.
"Iya mbk sengaja datang lebih awal, oh iya Din memangnya kamu gak kesepian tinggal sendirian di rumah."
"Sebenarnya sangat kesepian mbak, tapi mau gimana lagi" ucapnya.
"Mbak beruntung masih ada ibu yang menemani. kalo Nadin hanya ada foto mereka saja mbak".
"Ya sudah kamu jangan sedih begitu, kan masih ada mbak dan ibu dirumah."
"Iya mbk makasih ya sudah banyak membantu Nadin."
"Itu kan semua hasil dari kerja keras mu sendiri. Kamu juga sangat berbakat memasak kue Din."
"Semuannya itu karena mbak Caca yang ajarkan" ia tersenyum untuk menutupi kesedihan yang ia pendam.
Sepertinya cepat sekali perjalanan pagi ini mungkin karena ada Nadin yang menemani.
"Akhirnya sampai juga di toko" ungkap Nadin.
"Iya Din."
....
....
Siang selesai ba'da dzuhur.
"Assalamualaikum ... " dari depan toko.
"Waalaikummussalam warahmattullah hiwabarokattu, Ehhhh kalian berdua, ayo masuk " septi dan Tika menghampiri Nadin di toko bakery nya.
"Ahh tidak usah di toko kita main ke taman saja yuk, kan kamu bentar lagi mau di lamar lagian tamannya kan dekat dari sini, di toko juga ada Nadin tu" ajakan septi dan tika.
__ADS_1
"Oh ya udah, tunggu sebentar ya!" jawabnya.
Aku hanya mengirim pesan singkat undangan lamaran di grub whatshap ternyata mereka langsung mendatangi tokoku.
Di taman.
"Apa kalian ingat waktu pertama kali kitabertemu dan baru kenalan dulu. Waktu itu kamu duduk di sebelahku dan itu kita masih sangat kecil dan sekarang, kamunya akan segera di lamar ya tik? kita kapan ya tika?"
septi mengingatkan masa lalu mereka.
"Iya bener sekali, kita kapan ya?" lanjut Tika yang berceloteh saat itu.
Banyak hal yang kami bicarakan di taman siang itu. Tertawa bersama, bercanda, bergurau, berpelukan dan ehhh...... Pada akhirnya mereka menangis bersama-sama.
"Oh iya caca ini kita ada hadiah buat kamu! Kamu pakek ya sampek hari-H" Tika menyodorkan sebuah kado kecil yang dibungkus dengan rapi untuk Caca.
"Kalian....Lamarannya kan empat hari lagi, makasih ya " ucapnya pada kedua sahabat karibnya itu.
"Eh pulang yuk? " ajak septi.
"Iya ni, aku juga mau ke toko lagi ni, kasihan sama Nadin sendirian" jawabnya.
Mereka pun langsung pergi meninggalkan taman itu. Caca langsung ke toko dan melihat Nadin yang sudah mulai menutup toko karena waktunya memang sudah begitu sore.
"Mbak langsung pulang saja semuanya sudah Nadin bereskan, Nadin akan menginap di toko malam ini" Teriak Nadin.
"Iya Din kalau begitu mbk pulang ya...Kamu hati-hati."
Caca pun langsung melakukan mobilnya ke arah jalan pulang ke rumahnya.
...
...
Sesampai di rumah ia tak menyadari panggilan masuk dan pesan di whatshap yang sudah puluhan kali di ponselnya.
Ya itu dari Rizal, Caca sampai lupa dengan ponselnya karena asyik bersama teman-teman sejawatnya. Ia pun langsung menelpon Rizal dan meminta maaf kepadanya karena tidak memberikan kabar kepada Rizal hari ini, namun sebelum panggilannya tersambung bel rumah pun berbunyi, Caca langsung membuka pintu dan ternyata itu Rizal yang membawa sepaket bunga mawar untuknya, Caca merasa sangat bahagia sekali dengan kejutan itu.
Assalamualaikum......
"Wa'alaikum salam " Caca menjawab salam seseorang yang berada di depan rumahnya itu.
"Ayo masuk."
"Ibu dimana?" tanya Rizal.
"Ibu di rumah paman" jawab Caca singkat.
"Kalau begitu aku duduk di luar saja "jawabnya.
Caca pun menceritakan kegiatan yang ia lakukan hari ini kepada Rizal, agar Rizal tidak memikirkan hal-hal aneh tentangnya.
Tidak berapa lama perbincangan mereka. Rizal pun pamit pulang, dia hanya ingin mengetahui keadaan kekasihnya itu yang tidak memberikan kabar seharian kepadanya.
Skenario Allah itu indah aku percaya itu.
Tulisan yang Caca coretkan di buku diary kesayangannya.
__ADS_1