Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 32 Kehancuran (Part II)


__ADS_3

Sebuah mobil melaju dengan begitu kencang dan berhenti di parkiran sebuah caffe. Terlihat seseorang wanita yang keluar dari mobil tersebut dan tergesa-gesa masuk ke dalam caffe.


"Airin, untuk apa kau menyuruhku kemari" sapa seseorang setelah wanita itu menghampirinya.


"Yud, aku benar-benar hancur. Hidupku telah hancur" jawabnya dengan terisak tangis.


"Ada masalah apa, cepat katakan. Aku tidak punya waktu untuk sesuatu yang tidak penting" ucap Yudha pada wanita itu.


"Aku kehilangan semua kontrak kerjaku, bahkan kontrak yang terakhir pun dibatalkan, semua ini karena Ardi. Ardi yang harus bertanggung jawab untuk semua yang terjadi dalam hidupku" keluh Airin dalam terisak tangis.


"Bagaimana bisa Ardi berbuat semacam itu padamu. Bukankah ia dulu sangat mencintaimu, aku sangat mengenal Ardi. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu jika kamu tidak berurusan dengannya" ucapnya lagi dengan wajah yang tak percaya. Iya sangat yakin wanita dihadapannya itu telah melakukan sesuatu.


"Iya Ardi sangat mencintaiku, aku pun tak mengerti semenjak kehadiran wanita itu Ardi berubah drastis dalam hidupku" jawabnya.


"Jangan pernah kau bawa Caca untuk setiap kesalahanmu. Bukankah semuanya itu kesalahan yang kau buat sendiri. Kamu harus menanggung akibat dari semua perbuatan yang kamu lakukan" Yudha menjelaskan.


"Diam kau Yudha. Semua ini juga salahmu" teriaknya.


"Jangan pernah menyalahkan aku. Itu semua karena kebodohanmu. Kau membuat aku kehilangan sahabat sekaligus wanita yang aku sayangi" Yudha kelihatan begitu marah.


"Apa kau bilang... Ini kebodohanku, seenaknya saja kau bilang begitu dan kau mengatakan ini kebodohanku setelah kau menikmati tubuhku dengan gratis" Airin membentak Yudha.


"Airin bukankah kau sendiri yang memberikan obat dan membuatku tak sadarkan diri hingga tak terkendali. Entah apa yang terjadi padaku. Kamu telah menodai tubuhku yang tidak pernah aku jajal kan kepada siapapun. Kau juga mengirimkan beberapa foto mesra kita ke media sosial, andai aku tak bertemu kamu malam itu,,,,,," terlihat penyesalan di wajah Yudha.


" Yudha........" plakkk tangannya mendarat di pipi Yudha.


"Apa yang kau lakukan" kata Yudha berteriak. wajahnya terlihat sangat geram.


"Yudha aku menginginkan Ardi kembali. Aku tidak ingin hidup dalam kemiskinan" rintih tangisannya.


"Airin jika kamu menginginkan Ardi mengapa kau dulu menginginkan bersamaku. Tidak akan ada laki-laki yang ingin bersamamu jika kau hanya mengharapkan sebuah kekayaan dan ketenaran" tanyanya.


"Aku hanya ingin publik melihatnya. Aku di perebutkan oleh Abdi negara dan pemilik perusahaan terbesar. Tentu akan membuat karierku semakin melonjak tinggi dan aku berhasil. Tapi wanita itu menghancurkan semuanya" jelasnya.


"Obsesi yang konyol. Apa kau tahu berapa hati yang kau sakiti karena obsesimu itu. Kau tahu aku harus kehilangan wanitaku karena mu" bentaknya pada Airin.


"Yudha bantu mendapatkan Ardi kembali. Bantu aku menyingkirkan wanita itu dari hidup Ardi" memohon kepada Yudha.


"Maafkan aku Airin, aku tak bisa membantumu. Caca memang wanita yang sangat ku sayangi namun aku tak ingin menghancurkan hidupnya untuk yang kesekian kalinya" Yudha menjelaskannya pada Airin.


"Artinya kau juga mendukung mereka" ucapnya.


"Sebaiknya kau juga menjauh lah dari mereka. Karena kau akan sia-sia bahkan Ardi dapat menghancurkan mu lebih dari kali ini" Yudha berlalu pergi meninggalkan Airin yang berlinangan air mata itu.


Airin menangis hingga menjerit membuat beberapa pengunjung melihat ke arahnya.


"Apa yang kalian lihat, menjauhlah dariku kalian semua sangat menyebalkan...." teriaknya dalam tangis.


***

__ADS_1


Yudha melajukan motor ke asramanya. Tak berapa lama akhirnya ia tiba di asrama.


Yudha menarik ponsel yang berada di saku celananya. Ia mengutak-atik ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Jallo Man, apa aku bisa menemui Ardi. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Ponsel Ardi tidak bisa dihubungi" ucapnya pada seseorang di seberang sana.


"Saya berada di luar, jika ingin bertemunya silakan mendatangi ke rumahnya saja" jawabnya.


"Baiklah terima kasih?" tanyanya berharap.


***


Ardi menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling kota dan mengunjungi tempat-tempat yang dulu pernah mereka datangi bersama Caca dan teman-temannya.


"Sayang, kamu mendapatkan ide dari mana untuk perjalanan hari ini" tanya Caca.


"Muncul dengan sendirinya, aku merasa khawatir padamu" jawabnya.


"Apa yang harus dikhawatirkan, bukan kah kamu sendiri yang mengantarku ke toko" jelasnya.


"Aku takut Yudha kembali" jawabnya singkat.


"Hahahahahah, apa kamu cemburu?" Caca tertawa dengan ucapan suaminya itu.


"Tidak, aku sama sekali tidak cemburu" ucap Ardi.


"Akan aku habisi laki-laki itu jika kamu menyebut namanya di hadapanku. Apa aku harus mengatakannya jika aku cemburu" jawabnya.


"Iya baiklah, sayang sebaiknya kita mampir mencari makanan dulu. Aku sangat lapar" keluhnya.


"Baiklah, supirmu ini akan membawamu kemana saja" candanya yang melaju mencari restoran terdekat.


***


Selang beberapa menit mobil yang dikendarai Ardi berhenti di sebuah restoran.


"Ayo sayang, silahkan" perintah Ardi yang membuka pintu mobil istrinya.


Mereka berjalan memasuki restoran tersebut. Ardi memegang erat tangan istrinya. Ardi menduduki tempat duduk yang tak begitu jauh dari pintu masuk. Seorang pelayan mendekati mereka.


"Permisi pak, ada yang bisa saya bantu" tanyanya.


"Saya menginginkan makanan dan minuman terlezat di restoran ini" jawab Ardi.


"Dan juga yang termahal ya mbak" Caca menyela.


"Baiklah, ada lagi" tanya pelayan.


"Tidak, terima kasih" jawabnya.

__ADS_1


"Apakah ini pembalasan untukku sayang" tanyanya pada Caca.


"Tidak, aku hanya ingin mendapatkan keadilan. Mungkin kamu akan mengalami sedikit kerugian hari ini " jawabnya tersenyum.


"Restoran ini pun mampu aku beli, jadi kamu tidak akan pernah bisa membuat ku rugi lagi pula apapu yang aku miliki itu juga milikmu" ucanya.


"Sombong..." sindirnya.


Apakah sebanyak itu uangmu mampu membeli restoran ini.


"Tidak, lihat saja nanti" jawab Ardi.


Tak begitu lama pesanan mereka pun dihidangkan.


"Selamat menikmati pak, bu...." ucap beberapa pelayan yang menghidangkan.


Ardi hanya mengangukkan kepalanya.


"Sayang ayo makan, habiskan semuanya" ucap Ardi pada Caca.


Mereka pun makan dengan lahapnya hingga akanan pun habis tak tersisa. Ardi dan Caca pun beranjak pergi.


"Sayang bayar dulu, kenapa langsung keluar" ucap Caca menahan tangan Ardi.


"Tidak usah membayar" melanjutkan langkahnya.


"Biar aku yang bayar, dasar orang kaya sombong. Mana mungkin makan tidak bayar, apa kamu pikir restoran ini milikmu" melepaskan tangan Ardi dan berjalan menuju kasir.


Ardi hanya menaikan bahunya dan tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Permisi. Berapa bayaran untuk meja yang sebelah sebelah sana. Mengapa membiarkan suamiku pergi begitu saja. Bukankah akan merugikan restoran kalian" Caca menunjuk tempat ia dan Ardi makan sembari membuka dompetnya.


"Maaf mbak mana mungkin kami meminta bayaran pada pemilik restoran ini" jawaban kasir dengan senyumnyaa yang membuat Caca begitu geram.


Caca meninggalkan kasir dan berjalan mendekati suaminya.


"Seharusnya kamu mengatakannya sejak awal" Caca berjalan dengan sangat geram dan mengepalkan kedua tangannya.


"Apakah aku harus memberi tahumu untuk semua hal, biarkan kamu tahu dengan sendirinya" Ardi mengikuti langkah istrinya.


"Baiklah ayo pulang" Caca menarik tangan ardi.


***


BERIKAN LIKE, KOMENTAR, VOTE JUGA YAH UNTUK SEMANGAT AUTHOR DALAM BERKARYA....


TERIMA KASIH TELAH MEMBERIKAN DUKUNGAN KEPADA AUTHOR...


JANGAN PERNAH BOSAN DENGAN CERITANYA CACA....

__ADS_1


__ADS_2