Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
episode 7


__ADS_3

Ya tuhan sebenarnya aku sudah sangat lelah akan semua ini hanya saja di hadapan dunia aku selalu berpura pura bahagia entah kapan semua ini akan berakhir.


Selesai shalat maghrib Caca langsung keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mencari sesuatu yang dapat ia makan untuk menganjal perutnya yang kosong. Kesehariannya hanya berada ditoko dan di rumah. Begitu lah aktifitas rutinitasnya setiap hari.


Keseharian yang sangat membosankan.


Pada hari minggu saat libur Caca selalu membawa mobilnya untuk berkeliling di pusatnya kota.


Pada hari itu Caca memasukki sebuah caffe yang dimana hanya ada berbagai macam kopi yang ada di buku daftar minumannya. Caca sangat menyukai kopi. Karena kopi adalah minuman favoritnya. Ia selalu memesan kopi tanpa gula, karena ia menyukai rasa pahit didalamnya.Kopi pahit melambangkan pahitnya kehidupan yang ia rasakan.


Ia memutar bola matanya untuk melihat keadaan di sekeliling tempat duduknya. Caffe tersebut sangat ramai dengan pengunjung. Namun matanya tertuju pada sosok laki-laki yang mengenakan kemeja koko berwarna tosca di hadapannya. Saat itu ia tidak sengaja memandang ke arah laki-laki itu. Dia selalu tersenyum dan Caca pun membalas senyumannya. Caca merasa ia berbeda dengan yang lainnya, wajahnya yang bersih tanpa ada satu titik jerawat itu sudah mulai menyihir mata Caca untuk tidak melepaskan pandangannya namun pikiran itu langsung ia buang sejauh mungkin dan mengelengkan kepala sambil sesekali mengambil nafas yang begitu panjang.


Uhhhjjjfttttttttt .. Uhhhhhjjjffftt..


Ada apa denganku. Untuk apa aku memikirkan seseorang yang tak ku kenal sama sekali"


Setelah Caca memandang dengan seksama, ia sangat mengenali laki-laki yang ada dihadapannya itu.


Rizal. Iya benar itu Rizal. Bagaimana dengan penglihatanku hari ini. Kata-kata nadin tempo hari seakan menyihirku. Hihihi Nadin kamu harus tanggung jawab untuk kejadian hari ini.


Caca langsung berangkat dari tempat duduknya untuk mengusir rasa malunya, ia bergegas untuk keluar dari caffe tersebut namun langkahnya terhenti ketika seseorang telah berada tepat dihadapan Caca dengan menjulurkan tangan padanya dan berkata apa kabar Ca?


"Assalamualaikum " salam yang diucapkan Caca begitu gugup.


"Wa'alaikum salam, maaf Ca. Apa kabarmu? " mengulang pertanyaannya kembali.


"Ohhh Rizal, iya. Aku baik" menyatukan kedua telapak tangan untuk memberi salam. "Kamu apa kabar?" Caca pun melontarkan pertanyaan yang sama.


"Aku juga baik."


" Ca sebenarnya aku."


"Maaf ada apa ya Zal" memotong pembicaraan Rizal untuk mempersingkat pertemuan mereka.


"Apakah aku bisa meminta nomor ponselmu" ucapnya dengan takut.


"Emmm. Ada pulpen?? " tanyanya untuk memberika kepastian.

__ADS_1


"ada!" ia menjulurkan pulpen di tangannya.


Caca langsung merobek kertas yang ada di atas meja caffe. Ia menuliskan beberapa digit nomor di kertas tersebut lalu diberikan pada laki-laki yang berdiri dihadapannya, setelah itu ia langsung bergegas pergi tanpa mengutarakan satu kata apapun.


"Syukron katsiron Ukhti" ia berterimakasih pada Caca yang hanya pergi begitu saja tanpa berbalik menjawab perkataannya.


(Caca meninggalkannya)


Caca sangat takut jika harus mengenal laki-laki terlalu dekat. Ia takut di lukai dan di beri harapan palsu. Jadi Caca memilih menghindar.


Bukan karena ia sombong atau pilih - pilih untuk berteman. Namun rasa kecewa yang pernah ia rasakan membuatnya takut.


Rasa takut lah yang membuat nya menghindar, takut terbawa perasaan lagi dan jatuh cinta lagi setelah itu disakiti lagi dan terluka lagi.


Lengkap sudah yang terpikir di benaknya setelah mengingat waktu dulu. Bayangan foto mesra Yudha bersama gadis cantik nan modis itu selalu melekat dalam ingatan Caca.


...


Caca melajukan mobilnya dengan cepat. Ia langsung pulang ke rumah, tidak berapa lama Caca tiba dirumah. Ponselnya berdering sangat kencang yang merupakan ada panggilan masuk, setelah itu ia menyentuh layar ponsel untuk mengangkat panggilan yang ada. Namun tidak ada suara dari penelpon tersebut.


Ia segera memutuskan sambungan panggilan dengannya,


Siapa kah yang mencoba mempermainkan ku.


Ponsel itu pun berdering kembali dan segera di angkat.


" Jika kamu hanya ingin bermain-main untuk menghabiskan waktumu sebaiknya berhentilah, aku tidak punya waktu berbicara denganmu, lebih baik kamu menelpon orang lain saja untuk di permainkan seperti ini!" ketus Caca pada seseorang dibalik telpon. Namun ia merasa malu saat itu, bagaimana tidak? setelah berkata panjang lebar ia baru ingat untuk mengucapkan salam terlebih dahulu. Akhirnya ia mengucapkan salam dengan terbata-bata.


"Ouh iya Assalamualaikum warahmattullah hiwabarokattu!" ia tidak tahu dengan nada apa ia mengucapkannya, dengan nada tinggi atau yang lainnya, pikiran berkecambuk dengan rasa malu, diamnya terpecah setelah terdengar suara lelaki tertawa di balik layar ponsel.


"Hemmmmm.... Hihihi" suara lelaki tersebut.


"Waalaikummussalam warahmattullah hiwabarokattu Ca? Ini aku Rizal, maaf sebelumnya sudah menganggu ketenangan caca, ponselku saat menelpon pertama kali tadi sinyalnya hilang, jadi aku pun berniat menelpon untuk yang kedua kalinya."


Apa? ****** kamu ca. Apa yang kamu lakukan, marah yang tak beralaskan.


"Ohhh ternyata kamu Zal! ada apa? " ucapnya dengan santai.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memastikan kebenaran nomor ponsel kamu. Itu saja, maaf ya jika menganggumu" jawabnya.


"Jika tidak ada keperluan lagi aku izin untuk mematikan ponsel, wa'alaikum salam" Caca memutuskan sambungan panggilannya.


Dia. Ada apa dengannya. Bukankah aku sudah memperingkannya untuk tidak mengangguku.


Caca tidak ingin di ganggu oleh siapapun, ia hanya ingin menikmati kesendiriannya dengan tenang.


***


Caca aneh sekali, bukankah aku hanya menelpon sebentar. Apakah waktunya yang tidak tepat atau ia merasa terganggu dengan tawa kecil yang ku berikan. Apa salahku padanya.


Beberapa jam kemudian terdengar lagi dering ponsel Caca. Nama Rizal tertera di layar ponsel, Caca sangat geram melihat hingga ia mengabaikan panggilan dari itu.


Semakin lama dering itu semakin menganggu. Walaupun di abaikan berulang kali namun Rizal tidak gentar sedikit pun. Ia tetap menghubungi Caca. Sungguh tiada henti laki-laki itu menelpon Caca. Panggilannya berulang kali hingga tak tahu lagi berapa kali hitungannya. Ia semakin geram dibuat penelpon itu, hingga akhirnya Caca pun menyerah dan mengangkat panggilan Rizal.


"Hallo assalamualaikum" Cacaemgucapkan salam dengan lembut.


"Wa'alaikum salam, Ca maaf jika aku menganggumu."


"Tidak" jawabku singkat.


"Maaf jika ada kata yang menyinggung perasaanmu, aku benar-benar meminta maaf padamu" permintaan maaf yang begitu tulus keluar dari mulut Rizal.


"Ya sudah, assalamualaikum" Caca memberi salam untuk mengakhiri panggilannya saat itu.


" wa'alaikum salam Caca."


Ada apa dengan wanita satu ini sungguh membuatku tak mengerti, apa kah adalah yang salah dengan diriku ini .


Berkali-kali Rizal memantulkan wajahnya didepan cermin untuk mencari cela dirinya.


Tapi menurut ku wajahku ini tidak begitu jelek' ataukah tutur kata ku pernah menyakiti hatinya, aku juga tidak pernah berbicara panjang lebar padanya hanya memberi salam dan meminta nomor ponselnya itu pun dilakukan secepat kilat karena Caca sepertinya menghindari ku atau mungkin tidak ingin berteman dengan ku yang hanya seorang pegawai biasa tapi itu rasanya sangat tidak mungkin sepertinya dia wanita yang berbeda. Huuu entahlah, wanita sungguh sulit untuk dimengerti.


Saat itu Rizal menyimpan beribu-ribu pertanyaan dalam pikirannya.


***

__ADS_1


.


.


__ADS_2