
"Bagaimana dengan ini, Liya?" Aku menunjukan sebuah tongkat yang agak ... Ah, itu pasti terlalu terlalu mahal, lalu, bagaimana dengan yang ini? Aku mengambil tongkat yang lain. Begitu menyerahkannya kepada Liya ...
"Bukankah ini terlalu berlebihan, Tuan?" Untuk ukurannya? Oh, benar. Kali ini Saya memilih yang terlalu Besar. "Bagaimana jika kita memilih yang murah, dan bisa dibawa dengan nyaman?"
"Maksudmu seperti ini?" Aku mengambil salah-satu tongkat sihir lalu menunjukannya. Seperti permintaan Liya, aku memilihkannya model tongkat yang pendek, tapi dihiasi semacam permata merah di ujung.
Yup, secara keseluruhan harga, mereka dianggap murah oleh pemilik toko dan kebetulan Liya menyukainya. Baguslah, dengan ini misi berbelanja selesai.
"Lalu untuk orang aneh tadi ..." Ini memang perasaan saya atau ada yang tidak beres dengan kejadian sebelum saya tiba di toko senjata. "Bukankah sudah jelas mengincar Liya?!"
Itu hanya untuk kemungkinan terburuk, ya, tapi saya masih tidak yakin apakah pria berbadan besar tadi memang berniat melakukannya?
"Ada apa, Tuan? Sepertinya anda memikirkan sesuatu?"
"Ah, Tidak. Aku hanya memikirkan tentang urusan petualang." Aku menggelengkan kepala. Tapi, serius, saya tidak berbohong tentang itu. Memang, selain mengkhawatirkan penguntit tadi, saya juga memprioritaskan pekerjaan baru saya sebagai petualang.
"Baiklah, karena semuanya sudah beres. Mari kita kembali ke penginapan Tuan Bastian."
***
"Kau tahu, alasan aku mengajakmu bicara?" Ini, ada apa sebenarnya? Dan, kenapa aku harus duduk di meja terpisah dengan Liya? Begitu aku menanyakannya, Bastian dengan mata memperhatikan sekeliling berusaha menjelaskan sesuatu kepadaku, "Ada seseorang yang mengawasimu ..."
"Apa?!" Kupikir itu hanya lelucon, jika saya tidak mengalami kejadian tadi. Aku tidak akan memikirkan serius perkataan Bastian, "Jadi memang benar, mereka mengincar Liya."
"Kau sudah tahu?" Bastian menaikkan alis, cukup terkejut tapi tidak terlalu memperlihatkan reaksi berlebih. "Yah, sebagai seorang petualang bagaimana bisa kau tidak merasakan ada orang yang mengikutimu pulang."
Kau seperti mengatakan aku memiliki kemampuan itu. Tapi, sungguh, perkataan anda tadi tidak sepenuhnya tepat. Aku memang mengetahui ada kemungkinan pria itu membuntuti kami, tapi saya tidak merasakan dimana keberadaan orang itu bahkan sampai Bastian mengatakannya.
__ADS_1
"Bagaimana, apa yang akan kau lakukan setelahnya?"
"Kau menanyakan itu? Bukankah sudah jelas bahwa aku harus memberi mereka sebuah pukulan?" Ya, untuk lebih jelasnya. Anggap saja itu semacam perkelahian kecil untuk memberikan peringatan, dan jika dia berani melakukan untuk yang kedua kalinya, "Jika itu terjadi, maka aku akan menggunakan cara yang lebih keras."
Aku memperlihatkan pedangku. Bagaimanapun aku yang sekarang pasti akan menghindari untuk melukai orang dalam situasi apapun.
Tapi, jika memang situasi yang membuat aku harus melakukannya, maka saya tidak akan segan-segan lagi berbuat sesuatu kepada orang yang berniat menyakiti Liya.
"Baik, aku mengerti apa maksudmu. Lalu, apakah kau yakin sanggup melakukannya?" Bastian menatapku tajam.
Jika kau bertanya apakah aku memiliki cukup kekuatan, maka saya akan menjawab, "Aku ada sistem yang membantuku." Lalu, "Tidak masalah, apapun akan aku lakukan demi pacarku." Eh, tunggu! Bukankah kalimat yang kedua agak terlalu ...
"Huahaha ... Menarik-menarik, ... Aku mendukungmu, Richard!" Apa? Sungguh?
"Anda berniat membantu saya untuk menangani mereka?"
"Jadi, apakah kita harus menunggu mereka melakukan ..."
"Tidak, itu terlalu beresiko." Anda memang benar tentang menunggu terlalu 'beresiko'. Kita tidak tahu apa yang direncanakan oleh penguntit, dan jika aku membiarkannya bertindak dengan mulus tanpa pengawasan, maka itu bisa menjadi bumerang bagi saya.
"Tapi, aku ada rencana."
"Oh, bisakah kau mengatakannya?"
"Tentu, ini hanya rencana sederhana. Kau tadi mengatakan menunggu adalah pilihan berbahaya bukan?"
"Yah, seperti itulah."
__ADS_1
"Tapi coba anda pikirkan baik-baik. Sebuah resiko yang jika kita bisa manfaatkan dengan baik mungkin bisa membuatku bisa menghajar orang yang berniat macam-macam dengan Liya." Aku melihat Bastian menganggukan kepala setelah mendengar pendapat saya, dan, inilah inti dari semuanya ...
"Hohoho ... Sepertinya kau berniat melibatkan bisnisku dalam rencanamu ..." Bastian tertawa kecil. Ketika dia mengatakan akan mempertimbangkan untuk menyetujui rencana ini, aku dengan senyuman agak licik mengucapkan ...
"Kau, memiliki seorang cucu bukan?"
"Bagaimana kau tahu soal itu?!" Wajah sang kakek langsung agak kemerahan. Aku tidak tahu kenapa dia bisa bereaksi demikian, tapi aku bisa memanfaatkan ini untuk kemudian membuatnya lebih terkejut lagi.
"Tuan putri ... Ah, atau lebih tepatnya Salsa. Bukankah itu adalah nama cucumu satu-satunya?" Sialan, kau bahkan mengetahui namanya! Saya yakin, itu pasti yang dia katakan dalam hati.
Sungguh, anda berniat untuk menolak rencana karena tidak ingin membahayakan bisnis anda bukan? Bagaimana dengan itu, Tuan Bastian.
"Hmmm ... Apakah kau mengetahui ini dari Gadis Resepsionis itu?"
"Tepat sekali, dia mengatakannya ketika menyarankan untuk menginap di penginapan ini."
"Jadi, kaulah petualang pahlawan cucuku?" Yah, itu benar juga. Bastian menepuk jidat setelahnya. Jadi perkataan Aisha memang benar. Aku juga tidak menyangka mereka keluarga.
Dan, untuk yang kedua kalinya. Author tidak menceritakan tentang Aisha yang mengatakan Salsa cucu Bastian di bab sebelumnya.
Lalu, ini hanya tentang rasa penasaranku saja, bagaimana aku tidak bertemu dengan Salsa di penginapan ini?
Mekesampingkan soal itu. Jika benar Bastian adalah pria yang sangat memanjakan cucunya, atau lebih tepatnya, sangat menyayangi putrinya, apakah dia bisa menolak jika aku menawarkan diri untuk menjadi petualang pahlawan Salsa demi memenuhi hobi aneh cucunya itu?
"Karena kau sudah menemani Salsa bermain, maka aku akan membalas dengan menepati janji akan membantumu."
"Terimakasih, Tuan Bastian."
__ADS_1
"Ehm, ya." Aku pikir dia agak kesal karena aku menggunakan Salsa untuk membuatnya menyetujui rencana saya. Yah, bukankah sudah aku katakan sebelumnya? Demi melindungi Liya cara apapun akan kugunakan.