
"Jadi ... Menurut apa yang kami lihat kemarin. Mereka memang labirin tepatnya, tapi aku tidak menyangkal bahwa monster-monster disana kebanyakan lemah." Aku mengatakannya dengan jujur kepada Elina ketika saya kembali ke Kota Tulha.
Petualangan kami berakhir tepat setelah siang hari mulai berganti menjadi malam. Itu adalah tanda untuk para penjelajah untuk segera meninggalkan labirin.
Tidak tahu kenapa, tapi sepertinya serikat Kota Rithea ikut campur tentang mengatur kapan waktu penjelajahan dihentikan dan dimulai.
Sebelum aku kembali, saya berhasil membeli [Gerbang] berkat mengalahkan ratusan setengah hiu tepatnya di dalam labirin.
Mereka memang masih termasuk monster tingkat rendah, tapi kemampuannya lumayan untuk membuatku menggunakan [Shock] dalam situasi tertentu.
"Satu hal lagi, kami juga secara tidak sengaja bertemu dengan salah-satu diantara mereka."
"Maksudmu petualang dari Rithea? Yah, asalkan kau tidak berbuat masalah dengan mereka ..." Sungguh, jika aku memang melakukannya, apa yang akan terjadi?
"Bwahaha ... Ternyata ada yang cukup bodoh untuk menantangmu?" Bruno tertawa keras ketika mendengar perkataan Elina yang sepertinya peduli. Siapa yang kau sebut 'Bodoh' itu, Hah? Apakah orang sepertimu pantas untuk mengatakan ...
"Mengesampingkan soal itu, mulai dari sekarang aku akan mengirim kalian semua kesana. Sementara untukmu, petualang Bruno ..." Elina menatap tajam ke arah pria yang sekarang meneteskan air keringat disampingku. Tunggu, sejak kapan dia memanggil Bruno seperti itu? "Yah ... Aku tidak mempermasalahkanmu mencuri mangsa disana. Tapi yang membuatku aneh adalah, kenapa kalian pulang begitu cepat?"
Ah iya! Aku lupa untuk mengatakannya bahwa kami pulang dengan [Gerbang]. Tepat setelah menyelesaikan misi mengumpulkan 10.000 SP itu.
Bagaimana? Apakah aku harus mengatakan tentang kemampuan ini? Maksudku, selain Charlotte, Bruno sudah mengetahuinya. Aku berharap pria ini tidak memberitahu semua tentang kemampuanku, tapi sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar hal itu tidak terjadi.
"Sederhana nya ... Aku bisa teleportasi tapi terbatas hanya sampai beberapa kali selama satu hari." Aku mengatakannya dengan suara cukup keras agar aku tidak perlu mengulanginya lagi.
__ADS_1
Ketika saya mengatakan semacam mantra [Gerbang] yang memungkinkanmu pergi ke tempat yang aku inginkan, Elina jelas tidak percaya dengan ini begitu saja.
"Gerbang ..." Sebuah portal berwarna hitam muncul di samping tubuhku dan itu sepertinya memancarkan sedikit cahaya. "Apakah dengan memberitahu rahasiaku kau bisa lebih mempercayaiku?"
"Hebat ... Ah, bukan! Ini adalah kedua kalinya aku melihat seseorang menggunakannya." Dua kali? Tunggu, maksudmu ini bukan hal yang pertama di dunia ini? "Ada kok, dia berasal dari penyihir kerajaan ... Tapi berbeda dengan [Gerbang] yang kau gunakan, mereka sangat membutuhkan banyak MP untuk mengaktifkannya dan itu akan membuatnya terdengar seperti mantra boros."
Yah, aku mengerti sekarang. Singkat cerita, aku yang memiliki kekuatan di bagian MP yang tidak terbatas berhasil mengakalinya dengan mudah.
Maksudku, jika memang seperti yang dikatakan Elina bahwa itu hanya bisa digunakan oleh orang tertentu saja, berarti mantra ini termasuk langka dan berharga lebih tepatnya bukan?
"Dan jika ini sampai bocor ke pihak militer ... Tebak siapa yang sudah mengetahuinya selain diriku?!" Ah, ya? Kau menanyakannya secara tiba-tiba, kurasa Charlotte dan Bruno ditambah kau sekarang! Tiga tepatnya. Aku belum memperlihatkan ini kepada Liya yang masih berada di kota Rithea .. Em?
"Ah Tuan ... Aku ..." Aku melihat Liya keluar dari portal dengan nafas memburu. Wow, tenang dulu. Apa yang terjadi kepadamu. "M-Mereka ..."
"Dasar bajingan! K-Kau akan membayar untuk itu!" Man, siapa lagi yang berniat untuk memukul atau menghajarku? Setelah aku masuk ke [Gerbang] yang menghubungkan serikat di kota Tulha dengan jalanan Kota Rithea.
Dan ... Disanalah aku bertemu dengan mereka. Para bajingan yang sudah menggangu Liya beberapa waktu lalu, juga para petualang yang sama yang sudah dihajar habis-habisan oleh Charlotte.
"Kejadiannya begini ... Mereka datang untuk meminta ganti rugi karena Tuan sudah membuat mereka babak belur." Apa yang? Heh, ini sangat tidak masuk akal. Kami melakukan perlawanan karena itu perlu, apakah aneh jika seseorang tidak berbuat sesuatu ketika berusaha untuk dirampas?
Dan ... Hm? Sepertinya ke lima orang ini tidak seperti yang aku pikirkan.
"Mereka mabuk." Lebih tepatnya begitu. Mungkin karena terlalu banyak minum.
__ADS_1
Oke, aku mulai memahami apa yang terjadi. Preman ini kecewa atau setidaknya sangat-sangat tidak bisa menerima keputusan bos nya yang menyuruhnya mundur sehingga timbul rasa tidak puas karena melihatku masih baik-baik saja. Lalu, yah, aku sudah bisa menebak kelanjutannya seperti apa ...
"Kau ... Serahkan gadis itu ... Lalu masalah diantara kita akan selesai, oke?" Hmmm? Jika dia mengatakannya dalam kondisi normal dan tidak dalam pengaruh alkohol, mungkin aku sudah menghajarnya sebelum dia bisa mengatakan lebih banyak omong kosong lagi. "Kau, dengar tidak?! Brengsek ... cepat berikan ..."
Astaga, melihat orang-orang ini membuatku sangat jijik. Tapi tetap saja, sesuatu yang ingin aku lindungi kau berniat untuk mengambilnya secara paksa dariku?
"Ughh ..." Aku mengangkat kerah baju salah-satu preman dan membantingkan tubuhnya ke lantai. "Gahh!!!"
Sementara aku menghajar salah-satunya, teman-teman preman yang lain ini tentu tidak hanya menonton.
"Kau ... Lepaskan dia atau aku akan!" Heh? Anda akan berbuat bagaimana? Ha? "Aku akan membuat wanitamu ha-........."
"Coba kau katakan lagi itu kepadaku."
"Aku bilang, aku akan menghamili-........." TWACK! Dia terbanting setelah pipinya menerima pulukan kuat dari tangan yang mengepal ini.
Itu sangat-sangat menggangu bagiku. Yah, aku tahu dia tidak bisa berbuat banyak dan hanya membual. Tapi tetap saja, perkataanya itu, maksudku, dia mengatakan akan membawa Liya ke ranjang, lalu akan memperlakukannya dengan kasar tepat dihadapanku yang sedang memohon? Omong kosong, aku tidak akan membiarkannya terjadi, tidak di dalam mimpimu sekalipun!
"Ughh ..."
"Gah!!!" Bruk! Bang! Kabom! Aku menginjak, lalu membanting dan memukul lalu terus mengulanginya sampai mereka berhenti bergerak. Maksudku tidak sampai die, tentu aku tidak akan melakukannya.
"Sudah cukup ... Sepertinya mereka tidak akan berani macam-macam lagi." Itu hanya sebagai contoh, setelahnya aku tidak peduli dia menceritakan ini kepada siapapun. Yang penting adalah, orang-orang yang mendengar harus berfikir dua kali sebelum membuat masalah denganku. Ya, aku harap mereka menyebarkannya dengan sangat detail.
__ADS_1