
"Ada apa ... Tuan?"
"Hmmm? Ini kurang dua puluh ribu!"
"Tidak mungkin ..." Dalam kebingungan itu, seorang pria memanfaatkan kesempatan ini untuk menampar Sistine dengan kantong koinnya.
"Hah? Apa kau meragukanku, gadis kecil?" Tangan busuk pria itu segera menangkap pergelangan tangan Sistine dan dengan menjijikan dia tersenyum ketika melakukannya lalu memainkan lidah.
"Hmmm ... Sepertinya sesuai dengan kesepakatan ... Kau akan menjadi budak ku jika tidak bisa membayar, nona kaya yang bangkrut."
"Tidak ..."
Aku melihatnya, semuanya menjadi jelas sekarang ... Alasan Sistine berusaha mengumpulkan uang, yang membuatnya terlihat seperti mata duitan, tentu tidak lain karena terjerat hutang dengan seseorang.
Tapi tunggu sebentar, pria ini mengatakan Sistine dulunya adalah nona kaya? Itu mungkin memang benar, dan dari perbincangan ini juga, aku mengetahui keluarga Sistine bangkrut tidak lama kemudian.
"Ayahmu ... Dia sepertinya sudah meminjam banyak uang untuk bisnis yang merugikan. Kau tahu, aku termasuk baik hati karena belum menyentuhmu hari itu, jadi ..." Ah, sungguh. Aku sangat benci melihat ini, tangan pria itu sudah mengunci kedua pergelangan tangan Sistine dan beberapa orang disampingnya juga ikut membantunya untuk memegangi bagian tertentu dengan maksud membuat Sistine tidak bisa memberontak.
Ya, semacam itu. Apa yang mereka berniat lakukan ini adalah tentu merupakan hal yang tidak pantas. Maksudku, di kota ini mereka berani melakukannya? Yah, melihat situasi, ini hanyalah gang sempit dan gelap yang jarang dilewati orang. Jadi, tidak heran hal semacam ini bisa terjadi.
"Kumohon ... Lepaskan ..." Sistine yang sekarang benar-benar dikunci rapat, hanya bisa pasrah melihat tangan pria itu sudah menyentuh bagian paha nya dan perlahan bergerak menuju ke bagian lain. "Tidak ... Jangan disana ..."
SREEEK! Terdengar suara seperti robek. Sistine benar-benar mengeluarkan suara keras seperti, "Ahhh!" atau sejenisnya. Dia ketakutan sekarang karena rok nya sudah dihilangkan. Tapi, beruntung, dia masih tertutupi di bagian itu oleh sesuatu yang aku sebut sebagai ****** *****.
__ADS_1
"Hmmm ... Menggangu saja ..." Dan dalam satu langkah terakhir itu. BRUAK! BAM! BANG! DHUAK!
"Berhenti disana, brengsek!" Aku dengan satu gerakan sudah melumpuhkan beberapa diantara mereka, dan hanya menyisakan tiga dari tujuh orang yang terlihat.
"Apa ..."
"Kamu ..." Sementara Sistine masih memproses kemunculanku yang tiba-tiba. Aku dalam satu pukulan lagi mengincar pria yang sepertinya merupakan otak dari kejadian ini.
"Gah!" Dia terpental menabrak tembok di belakangnya dan mengeluarkan beberapa cairan merah dari mulut. "Sialan! Siapa yang berani melakukan ini?"
Aku tidak mempedulikan dia yang marah karena tinju ku yang mematikan. Yang pertama aku lakukan dari situasi ini adalah, tentu untuk membawa Sistine ke tempat yang aman.
"Oh ya ... Aku lupa kau tidak ditutupi dengan baik." Aku kemudian pergi ke toko item pada menu dan menekan pilihan untuk membeli sebuah selimut tipis. "Ambilah!"
"Lalu ... Untuk mereka ..."
"Fran ... Itu adalah nama orang itu." Jadi begitu ya? Hmmm ... Kurasa aku harus melakukan sesuatu kepada Fran yang marah kepadaku karena sudah mengacaukan kesenangannya.
"Bocah sialan! °pakah kau tidak tahu siapa aku?!"
"Manusia." Fran mulai menunjukan tanda-tanda salah tingkah karena ucapanku. Bercanda ... Jika aku menjawabnya demikian, sepertinya itu akan memperburuk masalah.
Dan, aku tidak tahu mengapa dia menyebutku seperti itu. Tapi, ya sudahlah. Dia memiliki mulut untuk bisa mengatakannya, jadi aku tidak memiliki kesempatan untuk menghentikan itu.
__ADS_1
"Dan kau paman ... Apa yang berniat kau lakukan di tempat umum seperti ini? Kau tahu, tidak baik melakukannya karena bisa saja ada seseorang melihatmu contohnya adalah aku." Tebak, bagaimana ekspresi Fran ketika aku mengkritik tindakannya. Tapi, seharusnya ini bisa diselesaikan dengan damai.
Kemudian, dalam beberapa waktu berikutnya. Liya dan Charlotte langsung muncul dihadapanku untuk menunjukan bahwa aku tidak sendiri disini.
"Dasar petualang ... Kalian mengacaukannya ... Dan, hei gadis yang disana! Kita akan menggangap ini selesai jika kau memberikan dua puluh ribu tembaga!" Aku kemudian menoleh ke arah gadis dibelakangku, dia tidak bergeming setelah pria itu mengatakannya.
"Apakah itu benar?" Aku bertanya, karena jika memang ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah, mengapa harus berkelahi?
"Tidak ... Dia terus menambah hutang kami, bahkan ... Ketika ..."
"Jangan dengarkan ucapan gadis ini, bocah! Atau kau akan dalam masalah jika kita membawa masalah ini ke pengadilan!" Oh benarkah? Apakah aku juga bisa membuatmu dalam masalah juga ketika aku melaporkan balik tindakanmu yang berusaha untuk memperkosa seorang gadis? "Itu hanya bagian dari kontrak, kau tahu, ayah gadis ini sungguh tidak bertanggung jawab ... Dia bahkan meninggalkan banyak utang kepada anak-anaknya di dunia ini, sementara disana, dia pasti merasa sudah bebas sekarang."
Aku tidak tahu pembicaraan ini mengarah kemana, tapi satu hal yang aku temukan. Sederhana saja, orang tua Sistine sudah tidak didunia ini, atau bisa dibilang tewas karena sebuah insiden. Lalu, karena tidak bisa membayar, akhirnya hutang itu diwariskan kepada keturunannya yang masih hidup.
"Jadi, kau yang disana! Apakah kau sungguh berniat membantu gadis ini? Dia bahkan rela menelan serangga penghancur jiwa hanya demi melindungi adik-adiknya."
"Tunggu, serangga penghancur apa katamu?" Ini benar-benar buruk jika itu memang benar.
"Ya ... Aku membuatnya berada pada tubuh gadis itu ketika membuat kontrak dengan ayahnya, orang tua itu bahkan rela mengorbankan hidup putrinya! Hahaha ..." Fran dengan tertawa seperti menikmati sesuatu mengatakannya dengan lantang sehingga siapapun dalam jangkauan tertentu akan mendengarnnya dengan jelas.
Jadi begitu, ini semua menjadi masuk akal sekarang. Kau tahu, ternyata ada trik semacam ini. Itu mirip semacam kontrak yang aku buat dengan Charlotte, tapi jika ini hanya tentang hutang, sepertinya Sistine akan kesakitan jika tidak berhasil membayar tagihannya.
"Jadi ... Apakah kau berniat melanggar kontrak kita? Atau kau memang memiliki uang sekarang dan kita menyelesaikan ini secara baik-baik, oke? Aku bisa saja mempertimbangkan untuk membuatku menjadi simpananku jika kau bersedia." Dan dalam kalimat terakhir itu, kosong ... Setidaknya itulah yang aku temukan di tatapan mata Sistine yang seperti tidak memiliki harapan apapun.
__ADS_1
Aku kemudian mengepalkan tangan dengan keras. "Toko ... Itu mungkin perlu, tapi bagaimana dengan gadis ini?" Antara memilih seorang rekan atau bangunan yang bisa menghasilkan? Siapa yang akan kau pilih Richard?