DIAW : Girlfriend System In The World

DIAW : Girlfriend System In The World
Chapter 75 - Persiapan Turnamen


__ADS_3

"Terimakasih atas bantuanmu. Begitu yang dia katakan kepada anda, tuan naga." Seperti biasa, setelah pertarungan itu berakhir dengan tanpa pemenang.


Maksudku, itu seri. Aku bahkan hanya bisa mengambil perlawanan dengan terbatas. Begitupun dengan Tuan Naga yang juga kesulitan menandingi [Speed Up] ku.


Yah, bisa dibilang, dengan begini aku sudah bisa menghadapi lawan yang lebih tinggi dariku? 200 itu lumayan menurutku, mungkin dia setara dengan petualang peringkat A. Lalu ...


"RoarRoara ..." Naga kemudian mengatakan itu sebelum berjalan menuju ke dalam gua, seperti ingin tidur atau melakukan sesuatu. Aku kemudian dengan sedikit inisiatif mencegahnya.


"Bagaimana dengan menyantap makan siang sebelum kau melanjutkan kegiatanmu?" Aku langsung mengeluarkan beberapa ton potongan daging dari [Penyimpanan] dan mereka tentu masih dalam keadaan belum matang.


Jadi, dengan [Gerbang] aku menyeret Liya yang berada di serikat lalu membawanya ke tempat ini untuk membuatnya melakukan sesuatu.


"A-Kamu ingin aku memasaknya, bukan?" Aku menggangukan kepala, melihat gadis dihadapanku ini adalah termasuk peringkat B dalam urusan memasak, jadi aku menyerahkan untuk bagian itu kepadanya. Dan, berharap Tuan Naga menyantap makanan pemberianku ini.


Itu hanya terdiri dari beberapa monster yang aku kalahkan beberapa waktu lalu, itu termasuk cumi-cumi, kraken, kepiting dan sedikit yang berasal dari hutan.


"Mmmm ..." Aku kemudian menoleh ke samping, rasanya ada yang memelototiku sejak lama. Dan ... Benar saja.


"Kau menginginkan ini, bukan?" Ehehe ... Sepertinya Charlotte menganguk ketika aku memperlihatkan daging yang sedang dimasak oleh Liya tersebut. Dia memasak dengan cara membakar, tentu itu adalah sihir api. Benar, dia melakukannya dengan sihir tersebut. Dan, tentu ini akan membuat seseorang menjadi tertarik untuk mencicipi.


Aku kemudian mengambil satu tusuk sate besar cumi-cumi untuk Charlotte. "Apakah kau keberatan jika gadis ini memintanya sedikit?" Aku rasa, Tuan Naga mengatakan, "Roar ... Rooorr ..." Ah, bercanda. Maksudku, "Tentu." Ya, kurasa demikian. Jadi, dengan aku yang memberikan Charlotte lampu hijau untuk memiliki satu tusuk sate ini.


"Yumy ..." Dia memakannya dengan lahap. Bahkan sebelum aku benar-benar menyerahkannya, dia mengambil kesempatan untuk mengambilnya terlebih dahulu. Bertanya-tanya apakah Charlotte bisa die karena terlalu banyak makan? Ah, tidak ... Melihat bagaimana perutnya sanggup menampung begitu banyak, aku tidak yakin dia akan kenyang, atau lebih tepatnya, akan sulit membuatnya begitu.


***

__ADS_1


"Jadi ... Kamu menemuiku hanya untuk membeli senjata?" Dan, tentu saja. Setelah makan siang bersama Tuan Naga, aku rasa aku perlu mengganti senjata yang sudah aku rusak ini. "Ummm ... Kau tahu, seingatku kamu bahkan baru membeli itu. Dan, mereka rusak lagi?"


Setelah selesai dalam urusan mata-mata itu lebih tepatnya. Ya, seperti itulah. Aku bisa dibilang cukup boros dalam urusan membeli senjata ini. Setiap kali aku menggunakan [Sharpen] untuk serangan, setidaknya itu akan membuatnya retak bahkan kemungkinan patah menjadi dua. Jadi, aku berharap dengan kedatanganku ke serikat dan menanyakan pendapat tentang masih ini kepada Aisha, aku bisa menemukan kunci dari jawabannya.


"Ini agak sedikit sulit, kau tahu? Tidak akan ada banyak yang bisa membuat model yang bisa menampung apa yang kau sebut sebagai [Sharpen] itu." Sungguh, aku tidak mengharapkan hal itu terjadi. Maksudku, Aisha mengatakan tidak banyak yang sanggup membuatnya, bukan? Itu berarti ... . "Uhmmm ... Sepertinya kita harus pergi ke tempat paman Dwarf."


"Paman Dwarf?"


"Ya, para penempa senjata terkenal itu."


***


Satu hal yang aku tahu, ada seseorang yang merupakan ahli dalam urusan pembuatan senjata. Itu adalah, para Dwarf yang merupakan pandai besi terkenal di kota itu. Ya, mereka bukan manusia normal pada umumnya. Mereka bertubuh pendek, lalu ada janggut yang lebat juga. Seperti itulah yang aku lihat pada seseorang yang Aisha sebut sebagai " Paman Dwarf" itu.


"Oh, nona resepsionis ..."


"Ya, begitulah orang-orang memanggilku. Si penempa senjata galak. Kau tahu, aku tidak akan benar-benar bekerja jika uang yang diberikan tidak mencukupi!" Eh? Dia bahkan tidak berusaha untuk menyembunyikan bagian "galak." itu.


"Ummm ... Aku memiliki sepuluh ribu disini ... Dan, apakah itu cukup?"


"... Kau sudah boleh pergi sekarang." Eh?! Apa!


"Tunggu, bukankah ini!" Ah, gawat ... Aku sepertinya kurang menawarkan harga yang lebih tinggi. Dan, sepertinya itu tidak semurah seperti yang aku ...


"Maksudku adalah, kau sudah boleh pergi ... Aku akan mulai membuat pesananmu sekarang ..." Oh, jadi seperti itu. Sepertinya aku sudah salah menangkap maksud perkataan paman ini.

__ADS_1


"Tapi Rokie ... Sepertinya aku harus memintamu untuk membuat sedikit modifikasi pada senjata ini." Aisha mengatakannya dengan senyuman manis, seperti sedang membujuk dan menepelkan kedua telapak tangan setelahnya.


"Ah ... Aku akan mendengarnya ..."


"Sungguh? Baik, kita mulai dengan pedang yang bisa menampung skill tertentu ..." Aisha membantuku menjelaskan, sederhana saja ... Jenis pesanan yang kami ajukan adalah tentu yang bisa tahan terhadap seribu atau bahkan sepuluh ribu [Sharpen] dan lebih.


"Dasar monster, darimana kau mendapatkan MP sebanyak itu?!!!" Rokie langsung menaikan alis. Mendengar aku yang menggunakan sebuah [Sharpen] itu mungkin masih bisa membuat ekspresinya netral, tapi beda cerita jika itu adalah sepuluh ribu.


"Maaf, sepertinya itu tidak akan pernah ..." Ups ... Aku bahkan lupa untuk merahasiakannya.


"Tenang, aku menjamin paman ini akan menyimpan rahasiamu, jadi kau boleh mengatakan semuanya." (Aisha) Benarkah? Aku kemudian menoleh ke arah Rokie untuk mengatakannya dengan lengkap kali ini.


"Jadi begitu ... Kau tetap adalah monster." Sungguh, aku manusia tahu! Dan, kau seperti mengatakan seolah-olah kekuatanku ini mengerikan? Dan, memang ... Seseorang yang memiliki kemampuan tidak terbatas pada MP nya itu memang bisa dibilang tidak wajar, tapi bisakah kau tidak menyebutku seperti itu? "Hmmm ... Bagaimana, ya?"


Sementara paman dwarf ini masih memikirkan menerima atau tidaknya pesanan ini.


"Aku akan meminta ini sebagai hutang budi atas apa yang sudah aku lakukan."


"Sungguh? Kau nona Resepsionis, apakah yakin menggunakan itu untuk anak ini?" Aku tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Aisha. Tapi sepertinya itu adalah sesuatu yang sangat penting. "Kau tahu bocah manusia, aku bisa menjadi terkenal karena gadis ini yang merekomendasikan toko ku. Dan, tentu sebagai balasannya aku akan melakukan sesuatu untuknya ... Tapi, tidak ku sangka dia akan menggunakannya untukmu."


"Hehehe ..." Aisha dengan senyuman bangga sedikit tertawa ke arahku. Jadi, dengan begini masalah senjata aku sudah selesai. Rokie berkata aku sudah bisa melihatnya beberapa hari lagi. Dan, tentu itu masih berpuluh-puluh jam sebelum pedang aku jadi.


Sementara itu, dalam perjalanan aku merenungkan suatu hal.


"Apakah kau tidak masalah menggunakannya untukku?" Aisha menggelengkan kepala ketika aku mengatakan itu.

__ADS_1


"Kau tahu Richard ... Aku senang bisa melakukan sesuatu yang bisa membantumu. Tapi, yah ... Jika kau memang benar-benar merasa tidak enak dengan itu." Aku kemudian dibuat berhenti berjalan oleh Aisha. Semacam dia berdiri di depanku lalu dengan momen ketika mata kami saling bertemu.


"Mmmm ..." Aisha mencuri ciuman dariku sebelum aku bisa menyadarinya. Hangat ... Aku merasakan sedikit manis ketika bayangan kepala kami menyatu. "Ini adalah ciuman pertamaku ... Aku berharap kau segera bertanggung jawab atas perbuatanmu ini."


__ADS_2