DIAW : Girlfriend System In The World

DIAW : Girlfriend System In The World
Chapter 25 - Bertarung


__ADS_3

"Emmm ... Begini Aisha."


"Iya, apa ada yang salah?" Aisha yang masih terkapar di lantai mengatakan itu dengan wajah polosnya. Eh, Tentu saja ada!


"Kau tadi mengatakan sudah memberitahu tentangku kepada pria ini bukan?" Dan dia menganggukan kepala setelahnya.


Sial, aku sebelumnya berusaha untuk tidak mempercayai ini, tapi. Bagaimana bisa serikat petualang membocorkan identitas anggotanya?


"Oh, ada pengecualian untuk bagian level nya. Kau tahu, setiap petualang yang mendapatkan kartu setidaknya sudah menyetujui untuk diketahui kemampuannya oleh kami." Tapi itu berbeda. Maksudku, jika orang yang boleh mengetahui hanya para staff di kantor ini, bagaimana bisa ada petualang lain yang ... ,"Oh, kau pasti baru mendengarnya bukan? Bahwa ada peraturan di serikat yang memungkinkan petualang lain melihat kemampuanmu."


"Ada peraturan semacam itu?!"


"Ya, kau harus sampai di peringkat D ke atas untuk bisa mendapatkannya, dan pria ini adalah peringkat C." Astaga, ini menyebalkan bukan? Aku bahkan tidak bisa menyembunyikan level asliku. Lalu ... Ughh.


"T-tuan?!" Liya menutup mulut dengan kedua tangan.


"Akhirnya aku menemukanmu, bocah!" Apa yang? Tiba-tiba saja sebuah tangan mencekik leherku. Awww, itu sangat sakit. Aku bisa kehilangan kesadaran karena ini, tapi untuk saat ini aku pasti masih bisa melakukan sesuatu. Coba kita lihat di bagian ...


"Pergi ke menu, lalu ke pilihan skill, kemudian ..."


***


"Argh!!!" Sebuah sengatan listrik menyambar tubuh pencekik itu, sebelum dia melempar tubuh saya.


[Berhasil membeli]


[Skill : Shock]


Itu berarti ...


[Nama : Richard]


[Ras : Manusia]


[Usia : 18 tahun]

__ADS_1


[Jenis kelamin : Laki-laki]


[Profesi : Pendekar Pedang level 85]


[Skill : Speed up level 7, Summoning, Resistance, Sharpen level 5, Shock level 5]


[Gelar : Penjinak Monster]


[Status : Majikan Liya]


"Kau tidak apa-apa?" Aku mengganguk kepada Aisha, berniat mengatakan, "Aku sudah sepenuhnya baik." tapi sebelum itu.


"Syukurlah ... Tuan, anda baik-baik saja!" Whops, ada seorang gadis yang dengan cepat memelukku. Ah, aku tahu dia, dia pasti adalah Liya yang sedang khawatir dengan keadaanku.


"Bagaimana selanjutnya?" Aku menanyakan itu ketika menoleh ke arah pelaku.


"Kupikir dia sudah sangat kesakitan, tadi itu skill apa Tuan?" Uhmmm ... Jika aku harus menjelaskannya, itu adalah semacam skill agak mahal yang membuat SP ku hanya tersisa sekitar 5000 saja.


Aku tidak tahu apakah itu bisa membunuh, tapi saya tidak berharap dia sampai mati di tempat ini apalagi di dalam gedung serikat petualang, dan. Tunggu sebentar, wajah pria ini sepertinya tidak asing.


Maaf jika ini tidak sopan tapi aku ingin mengatakan ini kepadanya, "Apakah kau manusia?!" Ya, seperti itu.


Tapi aku tidak sanggup mengeluarkan kalimat itu dari bibir ini. Anda pasti bisa menebak bukan? Bagaimana orang sepertinya akan merespon ucapanku jika saya mengatakannya?


"Hohoho ..." Bruno menyeringai lebar lalu menoleh ke satu arah, kemudian aku mengikuti gerakan bola matanya dan menemukan mata pria itu melirik seseorang, "Bagaimana jika pemenangnya mendapatkan gadis itu?"


"Bagaimana mungkin?!" Ini seperti dia sedang menantang saya. Kenapa, lagi-lagi ada yang mengincar gadis tidak bersalah ini? Ummm, maksud kami gadis yang dimaksud adalah Liya. Tapi, bukan hanya itu yang menjadi masalahnya!


"Aku tidak mau ... Hanya Tuan yang boleh ..." Ya, aku tahu. Dan Liya baru saja merespon nya dengan penolakan keras. Lalu ... Mmmm? Apa maksud dari ucapannya tentang 'Hanya Tuan yang boleh itu'?


Mengesampingkan soal itu, "Kau dengar, Paman? Aku tidak ada masalah denganmu, dan kau baru saja membuang minyak di kobaran api."


Dengan kata lain, emosi saya sekarang bagaikan api yang disiram bensin. Dia berani mengatakan itu, aku tidak ragu jika harus melawannya.


Benar, Aisha tadi mengatakan aku bisa melampauinya bukan? Itu berarti aku memiliki kesempatan!

__ADS_1


"Bwahahaha ... Bagus, menarik, menarik. Jadi gadis ini adalah alasanmu bertarung?" Jika kau menanyakan itu? Yah, ini juga termasuk alasan kami berpetualang. Namun, ini lebih dari sekedar hanya melindungi.


"Tidak, aku bertarung karena keinginanku! Untuk melindungi orang yang paling aku sayangi dan menjaga orang yang berharga di dalam hidupku! Anda pasti begitu, bukan? Bekerja di serikat untuk menafkahi keluarga?!"


"..."


***


"Yah, aku tahu ini akan terjadi. Tapi aku tidak menyangka alasannya ternyata cukup sederhana." Aku yang tidak sengaja menyinggungnya.


Maksudku, saya tadi mengatakan Bruno melakukan ini demi keluarga bukan? Dia masih lajang. Dengan kata lain pria berusia 30 tahunan ini masih belum menikah, dan kau pasti tahu apa yang terjadi setelahnya bukan? Setelah apa yang aku katakan tadi kepadanya.


"Karena kau sudah membuatku kesal. Maka aku akan mempertimbangkan untuk mengampunimu jika kau bersedia bertarung melawanku!" Baik, itulah inti dari perbincangan ini.


Sebuah pertarungan? Awalnya aku ragu tapi dia terus memaksa saya bertarung, bahkan sampai pada saat kami akan pulang, dia masih mengikutiku.


Sebenarnya apa yang diinginkan orang ini setelah berhasil membuat target dia kalah dalam bertarung.


"Tentu saja, merampas hak dia. Contohnya merampas budakmu ..." Budak? Aku menoleh ke arah Liya yang agak terkejut.


"Oh, jadi semua ini hanya karena kau menginginkan gadis?" Aku mengepalkan tangan, masih memperhatikan Liya yang sekarang merasa sedikit bersalah.


"Benar ..."


"Dan kau akan membuatku menjadi lawan bertarungmu dengan cara apapun bukan? Termasuk melibatkan Liya?" Dan ketika pertanyaan terakhir saya mendapatkan jawaban, "Iya, itu sangat benar ..." Aku langsung melepaskan sebuah serangan mengincar bagian kepala.


"Whops, itu tadi hampir mengenaiku. Bagus, kurasa sudah saatnya untuk!" Bruno dengan senyuman lebar mengangkat pedang besarnya.


"Oh tidak, mereka sungguh akan melakukannya?" Komentar terakhir Aisha menandakan pertarungan baru saja dimulai, di dalam kantor, tepat di dalam serikat ini dua laki-laki diketahui berbuat onar sampai mendatangkan banyak penonton.


Satu ... Dua ... Tiga ... Ah, sudah tidak terhitung berapa banyak jumlah perabotan yang hancur, dan tentu. Aisha yang melihat ini tidak bisa berbuat banyak, atau lebih tepatnya hanya bisa melihat semuanya yang mulai berantakan dengan tatapan kosong, "Tolong jangan buat aku membayar kerusakan ini."


Berita ini menyebar sangat cepat bahkan sampai terdengar ke telinga seseorang yang duduk di meja ketua, yang pada saat itu sibuk mengurusi dokumen.


"Apa? Kau mengatakan Bruno menantang petualang lain bertarung, lagi?"

__ADS_1


"Ya ... Aku takut itu lebih dari sekedar hanya menantang, dia bahkan sudah memulainya!"


__ADS_2