Dilema Cinta Arsitek Muda

Dilema Cinta Arsitek Muda
Panik?


__ADS_3


Ozzie kini sudah kembali di dalam ruangan bersama dengan Yuri. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh Yuri untuk menjawab tawaran dari Ozzie untuk menjadi kekasihnya.


“Kak, aku mau ngomong sesuatu sama kakak!” ucap Yuri dengan perasaan yang berdebar-debar tidak menentu.


Sedangkan Ozzie yang sudah begitu mengkhawatirkan Yuki pun tidak mau membuang waktunya begitu saja meski hanya mendengarkan omongan Yuri.


“Kita harus segera pulang. Ada hal penting yang harus segera aku lakukan!” ucap Ozzie yang langsung mendorong kursi roda Yuri keluar dari ruangan dan menuju ke lift.


Melihat Ozzie yang begitu gusar membuat Yuri mengundurkan niatnya yang ingin menyatakan perasaannya terhadap Ozzie.


Sepanjang perjalanan pulang ke Mansion, keduanya sama sama terdiam dan tidak berbicara sepatah kata pun. Tentunya hal ini membuat Yuri bertanya-tanya.


‘Kak Ozzie kenapa kelihatan cuek banget ya sama aku?’ tanya Yuri bermonolog dalam hati.


‘Bahkan semua yang diceritakan Yuki tentang berbagai perhatian Kak Ozzie malah gak kelihatan sama sekali. Apa mungkin karena Kak Ozzie lagi ada urusan penting ya?’


‘Hemm, tenang Yuri. Jangan berburuk sangka dulu! Bisa jadi Kak Ozzie memang sedang ada masalah dalam pekerjaannya!’


Yuri terus saja berbicara dalam hati untuk menenangkan hatinya sendiri. Sesampainya di Mansion, Maid Dera menyambut kedatangan Yuri.


Ia membukakan pintu mobil untuk Yuri dan langsung mengantarkannya ke kamar untuk beristirahat. Yuri yang nota benenya tidak sakit dan dalam keadaan yang baik-baik saja pun memberikan kode kepada Maid Dera jika ia tidak apa-apa.


“Tidak perlu mengkhawatirkan aku Maid Dera. Aku tidak apa-apa!” ucap Yuri pelan saat Madi Dera mencoba memapahnya.


“Hemm, ternyata kalian berdua sudah kembali ke posisi semula ya?” bisik Maid Dera dan langsung dijawab dengan anggukan kepala Yuki.


Sedangkan Ozzie yang baru saja keluar dari mobil pun langsung masuk ke dalam Mansion dengan tergesa-gesa dan melewati Yuri bersama Maid Dera begitu saja.


“Leo, dimana dia sekarang?” tanya Ozzie yang tampak begitu mengkhawatirkan Yuki.


Leo yang melihat Yuri masuk bersama Maid Dera pun langsung merangkul Ozzie dan berbisik kepadanya.


“Jangan panik dulu, Bro! Ara baik-baik saja!”

__ADS_1


Ozzie pun langsung menyikut perut Leo pelan, “Bagaimana aku tidak panik? Ara baru saja keluar dari rumah sakit dan langsung baku hantam dengan copet, Leo!”


“Benar Ozzie. Tapi bukankah kita masih pura-pura tidak tahu jika mereka bertukar posisi?”


Ozzie langsung mengusap wajahnya kasar. Bukan dia tidak ingat tentang masalah ini, melainkan ia sendiri sudah tidak mau bermain-main dengan keputusannya untuk menjalin hubungan dengan Yuki dan tidak mau terjebak terlalu dalam mengenai hal ini.


Ia tidak mau membuat harapan palsu pada Yuri yang secara terang-terangan mengaguminya dan memiliki perasaan khusus terhadapnya.


Ozzie menarik nafasnya dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan. “Lalu aku harus bagaimana?” tanya Ozzie meminta pendapat pada Leo.


“Kita ikuti dulu permainan ini!”


“Tapi sampai kapan? Aku bukan tipe orang yang bertele-tele, Leo!”


Kali ini Leo menghela nafasnya panjang. “Yang jelas, kau harus memberitahu Yuki terlebih dahulu tentang masalah ini. Katakan padanya apa saja yang kita ketahui dan nyatakan perasaanmu. Setelah itu kau baru bisa menjalin hubungan dengannya secara terang-terangan tanpa menyakiti siapa pun!” jelas Leo.


“Itu pun jika Yuki juga membalas perasaanmu!”


“Dasar sial lo!” Ozzie langsung meninggalkan Leo begitu saja menaiki anak tangga. Langkahnya terhenti di depan kamar Yuki dan ia melihat ke lantai bawah.


“Huft, kenapa jatuh cinta harus seribet ini sih?!” gerutu Ozzie. “Aku harus memastikan Yuki baik-baik saja setelah Yuri masuk ke dalam kamarnya.”


🍄🍄🍄


Sedangkan Yuki sendiri kini tengah membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket setelah baku hantam di pasar. Setelah beberapa hari ia merasa tertekan karena tidak menjadi dirinya sendiri, kini ia merasa bebas meski posisinya masih di dalam Mansion yang ia rasakan bak bui.


Yuki terus saja bersenandung di dalam kamar mandi meluahkan betapa bahagianya ia saat ini. Saking senangnya, Yuki sampai menjatuhkan pakaian ganti yang ia bawa ke kamar mandi.


“Yah, malah jatuh. Ck, terpaksa deh harus keluar pakai handuk!” gumam Yuri kembali bersenandung dan melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya.


Yuki pun keluar dari kamar mandi sambil berjinjit-jinjit dan menari kecil mengikuti irama lagu yang sedang ia nyanyikan.


Bahkan setelah keluar kamar mandi dengan bahagianya Yuki menari berputar menuju ke meja rias dan mulai menyalakan hair dryer.


Dengan gembira Yuki mengeringkan rambutnya sambil terus bernyanyi. Ia sampai tidak menyadari keberadaan Ozzie yang tengah menunggunya sedari tadi sambil menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


Tubuh Yuki yang kini hanya berbalut handuk yang hanya menutupi sebagian kecil tubuhnya membuat Ozzie benar-benar terpana melihatnya. Paha mulusnya yang hanya tertutup sedikit membuat nafasnya sedikit terasa sesak.


Perlahan Ozzie mendekat ke arah Yuki yang masih bernyanyi sambil mengeringkan rambutnya.


“Apa sebenarnya yang membuatmu sebahagia ini, Yuki?” tanya Ozzie membuat Yuki seketika mematung.


“Kok kayak denger suara malaikat pencabut nyawa ya?” gumam Yuki.


“Malaikat pencabut nyawa?” tanya Ozzie mengulangi ucapan Yuki.


Yuki pun berbalik dan langsung terkejut saat melihat Ozzie sudah berdiri tepat di belakangnya.


“Aaaaaaaa!” teriak Yuki sambil melemparkan hair dryer yang ia pegang begitu saja.


Dengan sigap Ozzie menangkap hair dryer tersebut dan mencabutnya dari stop kontak.


“Jangan teriak-teriak!” ucap Ozzie sambil menatap tajam ke arah Yuki.


“Ngapaiin kakak ada di sini?” tanya Yuki dengan nada yang masih sangat kencang membuat Ozzie mau tidak mau menutup mulut Yuki dengan tangannya.


“Jangan teriak, Ara! Kamu mau Mami Erin tiba-tiba masuk dan langsung menikahkan kita karena melihat kita berdua seperti ini?” tanya Ozzie membuat Yuki langsung mendorong tubuh Ozzie agar menjauh darinya dan membetulkan handuknya yang hampir saja melorot.


“Mendingan kakak keluar deh! Ngapaain coba masuk kamar aku!” usir Yuki sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Apa aku salah jika aku ingin memeriksa keadaan perempuan yang aku cintai?” tanya Ozzie membuat Yuki langsung mengerutkan dahinya.


“Kakak udah gila ya?” sarkas Yuki dengan tatapan nyalangnya.


“Kakak boleh siksa aku dengan berbagai perintah gila kakak selama ini. Kakak juga bisa sesuka hati kakak ngerjain aku. Tapi kakak sama sekali tidak berhak untuk mempermainkan perasaan saudara kembar aku!” gertak Yuki yang sudah tidak takut dengan Ozzie sama sekali.


Hal ini membuat Ozzie semakin mengikis jarak mereka. Ozzie terus mendekat ke arah Yuki dan membuatnya terkunci di dinding kamarnya sendiri.


“Kakak mau apa?!” tanya Yuki yang sudah mulai kalang kabut dengan posisinya saat ini.


Dia bisa saja memberi pelajaran untuk Ozzie yang saat ini sudah tidak berjarak dengannya. Bukan hal yang sulit untuknya baku hantam dengan Ozzie.

__ADS_1


Permasalahannya, saat ini tubuhnya hanya terlilit dengan handuk yang ukurannya juga tidak besar. Jika ia menyerang Ozzie, Yuki takut jika handuknya justru terjatuh dan membuat seluruh tubuhnya terekspos sempurna di depan Ozzie.


__ADS_2