
Sebelum menuju ke rumah sakit, Ozzie mengajak Yuki untuk mampir ke sebuah butik untuk mengganti gaun pengantinnya. Yuki pun langsung memilih pakaian casual dan mengganti gaunnya.
Setelah itu, mereka berdua langsung melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Ozzie terus saja menggenggam tangan Yuki tanpa melepaskannya sedikit pun. Sesekali Ozzie mencium punggung tangan Yuki dengan mesra.
“Meski awal pernikahan kita harus menghadapi masalah seperti ini, percayalah Ara. Aku akan selalu ada di sampingmu!” tutur Ozzie membuat Yuki memaksakan senyuman di bibirnya.
Perlahan Yuki mendekat ke arah Ozzie dan menyandarkan kepalanya di bahu Ozzie. Namun, Ozzie justru merentangkan tangannya dan menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya.
“Jangan takut, sayang. Kita hadapi masalah ini bersama-sama!” tukas Ozzie sambil mencium ubun-ubun kepala Yuki.
“Terima kasih banyak, Kak. Aku berhutang budi padamu!”
“Hah?!” Ozzie melepaskan pelukannya dan memandangi Yuki sambil memegang dagunya.
“Ara! Aku adalah suamimu. Tidak ada hutang apa pun di antara kita berdua. Kita menikah secara resmi, dan jangan salah, papiku bahkan sudah meminta izin kepada papamu.”
“Kau istriku, Ara! Pernikahan kita bukan main-main. Ini pernikahan sah di mata negara!” tegas Ozzie.
Yuki langsung membelalakkan matanya saat mendengar papi Ozzie sudah meminta izin kepada papanya. Entah apa yang mereka bicarakan sampai papanya setuju menikahkan ia dengan Ozzie.
“A-aku, a-aku tidak tahu harus bilang apa sekarang, kak!”
“Ini semua jauh dari bayanganku sebelumnya!”
“Kau cukup mengatakan jika kau mencintaiku, Ara!” balas Ozzie.
“Aku mencintaimu kak Ozzie, sangat mencintaimu!” ucap Yuki sambil melingkarkan tangannya di leher Ozzie.
Perlahan Yuki mendekatkan bibirnya ke bibir Ozzie dan memberikan kecupan singkat di bibir Ozzie lebih dahulu.
“Aku sangat mencintaimu, kak!” ucap Yuki lagi.
Ozzie yang sedari tadi ingin mencium bibir Yuki, sengaja menahannya karena takut Yuki masih kalut memikirkan keadaan Yuri di rumah sakit. Namun kini Yuki justru menciumnya terlebih dahulu seolah memberi kode bahwa dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
“Terima kasih, Ara!” balas Ozzie sambil menarik tengkuk leher Yuki dan mencium bibir istrinya sedikit 94n45.
Pengantin baru itu kini saling memagut satu sama lain dan meluahkan perasaan cinta mereka yang bak bunga yang bermekaran di taman. Sampai mobil mereka tiba di halaman parkir rumah sakit, mereka baru mengakhiri pagutan mereka berdua.
“You’re too sweet for me, baby!” ucap Ozzie sambil mengusap bibir Yuki yang sedikit membengkak karena ulahnya.
Yuki hanya menundukkan kepalanya tersipu malu dan membuat Ozzie langsung mengacak rambutnya pelan.
“Turun yuk! Yuri sudah menunggu kita!” ajak Ozzie dan Yuki pun langsung menganggukkan kepalanya.
Keduanya langsung turun dari mobil dan bergandengan tangan menuju ke ruangan Yuri. Sesampainya di dalam ruangan, Yuki langsung menarik tangan Ozzie dan mengajaknya duduk tepat di kursi samping bed Yuri.
“Yuri, aku sudah membawa Kak Ozzie datang kemari. Sadarlah!” pinta Yuki sambil memegangkan tangan Yuri ke tangan Ozzie.
“Lakukan untuk aku, Kak!” pinta Yuki dan Ozzie pun langsung menganggukkan kepalanya.
Perlahan Ozzie menautkan jari jemarinya dengan jemari Yuri dan mulai berbisik pelan.
“Aku datang untukmu, Yuri!” bisik Ozzie.
“Pulihlah! Aku mengkhawatirkanmu!” lanjutnya lagi.
Hal tersebut membuat dokter Brigitta yang kebetulan ada di situ merasa begitu lega.
“Meski belum ada pergerakan sama sekali, denyut jantungnya sudah mulai ada peningkatan yang baik! Jika bisa, tolong ajak pasien berbicara!” pinta dokter Brigitta.
Ozzie pun menganggukkan kepalanya dan langsung mencoba mengajak Yuri berbincang. Kali ini Ozzie mencoba membicarakan tentang tuna steak buatan Yuri yang ia rindukan.
Mulai dari tekstur dagingnya yang lembut dan dipanggang dengan kematangan yang pas, bumbunya yang begitu terasa di lidah Ozzie dan perpaduan sausnya yang pas. Tidak hanya itu, Ozzie juga membicarakan beberapa resep tuna yang pernah Yuki masak saat di Mansionnya.
Ozzie terus mengulang-ulang ceritanya, sedangkan Yuki dengan telaten memnyiapkan minum untuk Ozzie saat tenggorokannya mulai kering saat terus bercerita.
Satu jam berlalu, denyut jantung Yuri sudah kembali normal, begitu juga dengan suhu tubuh Yuri. Namun belum terlihat pergerakan sama sekali dari tubuh Yuri.
Yuki pun membisikkan sesuatu kepada Ozzie untuk membuat Yuri bisa cepat sadar.
“Apa aku harus mengatakan hal itu?” tanya Ozzie yang langsung diangguki oleh Yuki.
__ADS_1
“Baiklah!” ucap Ozzie yang terdengar begitu berat.
Ozzie menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia kembali berbisik di telinga Yuri.
“Kumohon cepatlah sadar Yuri, aku ingin kau menjadi kekasihku!”
Ucapan Ozzie barusan benar-benar memberikan efek yang luar biasa. Aliran darah di tubuh Yuri seketika mengalir dengan lancar dan ia mulai menggerakkan jemarinya. Dokter Brigitta dan Yuki langsung saling melemparkan pandang saat melihat Yuri mulai menggerakkan jemarinya.
Yuki pun meminta Ozzie kembali menggenggam tangan Yuri. Dan benar saja, dalam hitungan detik Yuri mulai menggerakkan kelopak matanya. Sedangkan Ozzie sudah mempersiapkan dirinya untuk berakting secara penuh saat Yuri sudah membuka matanya nanti.
Tak lama kemudian mata Yuri mulai terbuka. Senyumnya langsung merekah saat ia melihat Ozzie duduk di dekatnya dan kini tengah menggenggam tangannya.
“Hai Yuri, apa kau mau minum?” tawar Ozzie dan Yuri langsung mengangguk pelan.
Ozzie pun langsung mengambilkan minum untuk Yuri beserta dengan pipetnya dan membantu Yuri untuk minum. Setelah itu Dokter Brigitta dan tim medis yang lain langsung memeriksa kondisi Yuri. Sedangkan Yuki memilih untuk keluar dan menunggu di luar.
Tak lama kemudian, tampak Leo datang dengan membawa makanan di tangannya. Ia pun langsung mendekat dan duduk di samping Yuki.
“Bagaimana keadaan Yuri sekarang?” tanya Leo sambil membuka tas bekal makanannya.
“Kedatangan Kak Ozzie membuat keadaan Yuri membaik kak!”
“Syukurlah jika begitu. Makanlah dulu Nyonya Ozzie. Kau juga tidak boleh jatuh sakit!” ucap Leo sambil menyodorkan bekal makanan yang ia bawa.
“Thanks kak. Tapi Kak Ozzie juga belum makan!”
“Saat kau dirias tadi, dia sudah sempat sarapan meski sedikit. Jangan khawatir, aku juga membawakan makanan untuknya!”
Yuki pun mengangguk dan mulai membuka kotak bekal makanan yang dibawakan Leo. Ia pun menikmati makannya yang sudah tertunda lama. Namun baru sedikit saja, Yuki kembali menutup bekal makanannya.
“Kenapa kau makan sedikit sekali Nyonya Spahic?” tanya Leo. “ Aku sudah bersusah payah membawakan makanan untukmu!”
“Aku kenyang kak, sisanya akan aku makan bersama Kak Ozzie nanti.”
Tak lama kemudian pintu ruangan Yuri pun terbuka dan tampak dokter Brigitta keluar dari ruangan bersama tim medis yang lainnya.
“Yuki Aurora, kita bisa bicara di ruanganku?” tanya dokter Brigitta.
__ADS_1
“Bisa dokter!” jawab Yuki sambil menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah dokter Brigitta.