
“Papaku adalah pegawai kantoran di sebuah perusahaan pembuatan mobil di Jepang. Saat ini ia menjabat sebagai manager pemasaran di sana. Sedangkan mama membuka restoran kecil di sebuah ruko di pinggir jalan.”
“Selama ini hanya Yuri yang bisa membantu mama mengelola restoran sedangkan aku justru menghabiskan waktuku di sebuah bengkel mobil. Dari situ Mama tampak lebih menyayangi Yuri daripada aku!”
“Terlebih dengan kondisi Yuri yang tidak bisa menerima sebuah penolakan. Dan aku selalu diminta papa untuk bisa mengalah demi kebaikan Yuri!” jelas Yuki yang menceritakan keluarganya secara singkat.
“Lalu, apa kali ini kau akan mengalah lagi?” tanya Prisca membuat Yuki terdiam sejenak.
“Emmm, aku akan berusaha meminta tolong pada kak Ozzie tentang ini. Kondisinya benar-benar kritis dan tidak ada lagi yang bisa aku lakukan Prisca.”
“Tapi aku sama sekali tidak rela kakakku menjadi tumbal kali ini! Dia baru saja jatuh cinta setelah bertahun-tahun kami menunggunya, dan kini dia justru harus terjerumus dalam hal gila ini?” Prisca langsung menepikan mobilnya.
“Aku tidak akan membiarkan hal ini menggeret kakakku, Yuki. Maaf, kali ini aku tidak bisa membantumu!”
“Jika kau memikirkan keselamatan Yuri, maka kali ini aku juga memikirkan keselamatan perasaan kakak kesayanganku! Lebih baik kau turun dari mobilku, dan cari jalan keluar yang lain! Jangan libatkan kak Ozzie dalam masalah pelik ini!” timpal Prisca.
Dengan berat Yuki menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Terima kasih atas bantuanmu Prisca. Aku akan mencari cara sendiri untuk membuat Yuri pulih kembali!” tutur Yuki sambil membuka pintu mobil Prisca.
“Tunggu Yuki!” tahan Prisca.
“Apa kau tidak bisa memikirkan tentang kebahagiaanmu sendiri?” tanya Prsica yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh memintanya untuk turun dari mobilnya.
“Apa kau juga tidak sungguh-sungguh mencintai kakak kandungku?”
“Apa kau tega membuat kakakku kembali trauma karena jatuh cinta dengan seorang wanita?”
“Belasan tahun keluarga kami menunggu kakakku jatuh cinta pada seorang wanita dan meminangnya. Apa kau tega menyakiti keluarga kami, Yuki?”
Yuki kini benar-benar dihadapakan dengan pilihan yang sangat sulit. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia menginginkan untuk mempertahankan cinta pertamanya. Namun di sisi lain, nyawa Yuri tengah terancam. Jangan ditanya bagaimana lelahnya Yuki yang selama ini selalu mengalah demi Yuri.
__ADS_1
Tapi ia sama sekali tidak bisa untuk memikirkan dirinya sendiri di kala nyawa Yuri kini menjadi taruhannya. Yuki menghela nafasnya panjang dan menatap ke arah Prisca.
“Keduanya sama sama berarti untukku, Prisca! Tapi kali ini aku tetap harus memilih salah satu di antara mereka!”
“Tenang saja, aku tidak akan mengganggu kehidupan keluarga Kak Ozzie lagi! Anggap saja kalian semua tidak pernah bertemu denganku ataupun Yuri!”
“Aku memang lemah dan tidak bisa mempertahankan kebahagiaanku sendiri. Tapi aku pastikan aku tidak akan kecewa dengan yang aku pilih kali ini!”
“Aku pamit dan sampaikan salamku pada Kak Ozzie. Katakan padanya untuk melupakan aku sekarang juga karena aku sama sekali tidak bisa membawa kebagahiaan untuknya!”
Yuki pun keluar dari mobil Prisca diselingi dengan teriakan Prisca yang terdengar menyayat hati. “Jangan pergi Yuki!” pekik Prisca yang kemudian keluar dari mobilnya dan mengejar langkah Yuki yang menjauh darinya.
“Tunggu Yuki! Aku mohon tunggu aku!” pinta Prisca berlari mengejar Yuki yang mempercepat jalannya.
“Awh!” Prisca pun terjatuh dan sayangnya Yuki sudah berlari semikn jauh darinya.
“Yukiiiiiii!” teriak Prisca yang sudah tidak bisa lagi menggapainya.
“Araaaaaa!” Badan Ozzie terguncang hebat sambil membuka matanya yang masih memerah.
Ia mulai mengatur nafasnya yang tidak beraturan dan seperti orang yang habis lari dikejar anjing. Ozzie mulai menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia lakukan berkali kali sampai nafasnya kembali tenang.
“Ara pasti dalam masalah besar!” gumam Ozzie yang langsung menghubungi ponsel Yuki.
Panggilan pertama, Yuki langsung mereject dan menon aktifkan ponselnya. Panggilan kedua dan berikutnya sama sekali tidak tersambung dan tentunya membuat Ozzie gusar. Ia pun langsung menyibakkan selimutnya dan keluar dari kamarnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil Prisca berhenti di depan Mansion dan Ozzie pun langsung menuruni anak tangga. Pintu Mansion pun terbuka dan tampak Prisca tertatih-tatih masuk ke dalam Mansion.
“Kamu kenapa?” tanya Ozzie yang langsung memapah adiknya dan membawanya untuk duduk di sofa.
“Jatuh tadi waktu mau ngejar Yuki!”
“Kok bisa? Memang Ara kemana?” tanya Ozzie gusar. “Kamu gak nemenin dia di rumah sakit?”
__ADS_1
“Awalnya sih kita di rumah sakit kak! Tapi setelah Yuki bertemu dengan dokter Brigitta, dia langsung ajak aku pulang ke Mansion untuk bujuk kakak menemani Yuri yang kondisinya semakin parah!”
“Trus sekarang dimana Ara?!”
“Dia turun dari mobil tepat di Carnaby Street dan berjalan ke arah utara. Sepertinya ia berjalan menuju ke asrama!” jawab Prisca.
“Tapi itu masih sangat jauh dari kampusnya dan harus melewati kawasan preman, Prisca!”
Prisca langsung memberikan kunci mobilnya kepada kakaknya. “Kalau begitu cari Yuki dengan mobilku, kak! Aku juga mengkhawatirkannya.”
Ozzie pun mengambil kunci mobil Prisca dan bergegas mencari keberadaan Yuki kali ini. Dilihatnya saat ini waktu tengah menunjukkan jam 3 dini hari dimana para preman yang berada di dekat Yuki turun tadi sedang menikmati alkohol mereka.
“Ck, Ara! Apa yang sebenarnya membuatmu nekat seperti ini?!” gerutu Ozzie sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Terlebih saat mengingat Yuki masih mengenakan pakaian yang terbuka dan tentunya membuat preman yang sedang mabuk-mabukan langsung ingin melahapnya meskipun ia sangat yakin Yuki masih mengenakan jasnya.
Sedangkan Yuki yang merasa lelah berlari, kini ia duduk di sebuah kursi panjang yang ada di persimpangan antara gedung tua yang tidak terpakai dan juga pasar tradisional. Ia mencoba mengatur nafasnya sambil memandang ke jalan menuju kampusnya yang harus ia tempuh sekitar satu kilometer lagi.
Malam ini begitu sunyi dan dingin membuat Yuki mengeratkan jas yang ia kenakan untuk mengusir hawa dingin yang kini tengah menyelimutinya. Di jalanan hanya terlihat beberapa mobil yang berlalu lalang di depannya dengan kecepatan yang sangat tinggi karena memang jalanannya sepi.
Namun tiba-tiba dari arah pasar, tampak ada 5 orang preman yang berjalan ke arahnya dengan memegang botol minuman keras. Yuki yang sadar ada bahaya yang tengah mendekat ke arahnya pun siap-siap untuk kembali berjalan untuk meneruskan perjalanannya ke arah asrama kampusnya.
“Hai wanita malam! Mau kemana kau?” tanya salah satu preman yang paling hitam di antara yang lainnya.
“Apa kau tidak mau menemani kami?” sambung preman yang paling tinggi dan mulai berlari mengejar Yuki.
Kini Yuki mempercepat jalannya menjauhi mereka. Jarak antar Yuki dengan preman tersebut ada sekitar seratus meter. Namun dua orang preman yang sama tinggi hampris berhasil mengejar langkah Yuki.
“Berhentilah cantik! Kami tahu kamu pasti kesepian dan sedang butuh kehangatan bukan?”
Dengan kekuatan yang tersisa, Yuki pun langsung berlari tanpa berani menoleh ke belakang.
Meskipun ia jagi berkelahi, tetap saja ia akan kalah melawan ke lima orang preman tersebut, apa lagi saat ini tenaganya juga sudah mulai terkuras habis.
__ADS_1