Dilema Cinta Arsitek Muda

Dilema Cinta Arsitek Muda
Cuek Bebek


__ADS_3


“Kamu mau pulang kan?” tanya Leo.


Belum sempat dijawab oleh Prisca, Leo sudah menarik tangan Prisca dan membawanya masuk ke dalam lift.


“Aku akan mengantarkanmu sampai di Mansion dengan selamat!” lanjut Leo membuat Prisca membuang nafasnya kasar.


“Aku gak perlu dianter kayak anak sekolah Kak Leo! Aku bisa pulang sendiri! Lagi pula aku juga bawa mobil kok!” balas Prisca dengan nada yang sedikit ketus.


“Ban mobil kamu udah aku kempesin semua! Jadi kamu udah gak bisa menolak pertolongan dari malaikat tampan kayak aku!” balas Leo.


Prisca pun langsung memukuli lengan Leo dengan kesal. “Hiiiih, Kak Leo nih iseng banget sih! Kenapa ban mobil aku dikempesin hah!?”


“Ya biar kamu mau pulang sama aku lah. Tenang aja, ntar juga pasti aku panggilin montir buat benerin ban mobil kamu!”


“Dasar boros! Buat apa coba buang-buang uang kayak gitu!”


“Yaelah Prisca, namanya juga lagi usaha. Hargain dikit napa?” balas Leo.


Prisca yang sudah merasa lelah dan enggan berdebat panjang dengan Leo pun akhirnya memilih diam. Bahkan sampai ia masuk ke dalam mobil Leo pun juga masih memilih bungkam dari pada berbicara dengan Leo. Lama kelamaan, Prisca pun tertidur di mobil.


🍄🍄🍄


Sedangkan Ozzie kini memilih duduk di sofa sambil mengecek pekerjaannya di iPad miliknya. Tak lama kemudian Yuri pun terjaga dari tidurnya dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Senyumnya langsung merekah lebar saat melihat Ozzie duduk di sofa sambil menscroll iPad yang ada di tangannya. Perlahan Yuri menaikkan bed dan membuatnya duduk bersandar agar ia puas memandangi Ozzie yang tengan sibuk.


Bahkan saking sibuknya, Ozzie sampai tidak sadar jika Yuri tengah memandanginya.


“Ehm!” Yuri sengaja berdehem agar Ozzie memandang ke arahnya. Benar saja, Ozzie langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Yuri.

__ADS_1


“Hai Kak Ozzie!” sapa Yuri.


“Hai!” balas Ozzie singkat dan kembali menyibukkan dirinya dengan iPadnya.


“Apa kakak bisa membantuku untuk mengambil minum?” tanya Yuri kemudian.


Ozzie kembali memandang ke arah Yuri dan juga ke arah minuman yang ada di atas nakas di samping bed Yuri.


“Aku rasa tanganmu masih sampai untuk menggapainya Yuri. Cobalah sendiri untuk mengambilnya!” balas Ozzie.


Yuri pun menghela nafasnya panjang dan mencoba mengambil minum untuknya. Setelah Ozzie memastikan Yuri bisa mengambil minuman sendiri, Ozzie kembali fokus pada pekerjaannya.


Setelah minum, Yuri kembali memandangi Ozzie sambil terus memikirkan bagaimana caranya agar Ozzie mau mendekat ke arahnya.


Tak berapa lama kemudian, kudapan sore untuk pasien pun diantarkan oleh pegawai pantry. Hal ini membuat Yuri memiliki alasan agar Ozzie bisa mendekat ke arahnya.


“Kak Ozzie, apa kakak bisa menolongku?” tanya Yuri.


Yuri terdiam sejenak saat Ozzie benar-benar tidak memperdulikannya sama sekali. Kini ia melihat Ozzie benar-benar gila kerja seperti apa yang diceritakan Prisca kepadanya.


“Jika untuk menikmati kudapan, aku rasa kau juga bisa sendiri kan tanpa harus aku suapi?” lanjut Ozzie lagi.


“Iya kak. Tapi sekarang aku ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil!” kilah Yuri yang sudah tidak tahu harus beralasan apa lagi agar Ozzie mau mendekat ke arahnya.


“Aku akan panggilkan perawat jaga untuk itu!” balas Ozzie yang langsung memencet tombol pemanggil perawat yang ada di dekatnya.


Tak perlu menunggu lama, perawat jaga pun datang ke ruangan Yuri.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Perawat tersebut karena tahu jika Ozzie yang telah memanggilnya untuk datang.


“Yuri membutuhkan bantuan untuk pergi ke kamar mandi. Tidak mungkin bukan jika aku yang harus mengantarnya?”

__ADS_1


“Baik Tuan!” Perawat tersebut pun langsung mendekat ke arah Yuri dan membantu memapahnya menuju ke toilet. Sesampainya di toilet, perawat tersebut menjaga di pintu luar.


Namun tak berapa lama, terdengar suara teriakan Yuri dari dalam toilet dan tentunya membuat perawat jaga yang ada di depan pintu pun langsung panik.


“Ada apa, Nona? Apa yang sudah terjadi?” tanya perawat tersebut sambil membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci.


Betapa terkejutnya ia saat melihat Yuri terduduk di lantai seperti habis terpeleset. Perawat tersebut pun langsung memanggil Ozzie untuk membantu mengangkat Yuri.


“Tuan, tolong saya! Nona Yuri terpeleset di kamar mandi!” ucap perawat tersebut dengan panik.


Ozzie pun langsung menghela nafasnya panjang dan mengikuti langkah perawat tersebut menuju ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Ozzie tidak langsung menolong Yuri, melainkan justru menatap tajam ke arah perawat yang ada di sampingnya.


“Sejak kapan kau bekerja menjadi perawat?” tanya Ozzie dengan ketus.


“Baru satu tahun, Tuan!” jawab perawat tersebut dengan nada ketakutan.


“Seharusnya rumah sakit besar seperti ini tidak mempekerjakan  tenaga medis yang kurang ahli sepertimu!”


“Lihatlah!” Ozzie menunjuk ke arah lantai kamar mandi yang masih terlihat kering.


“Apa mungkin dia terpeleset di lantai yang kering, atau mungkin tersandung sesuatu? Padahal tidak ada sedikit pun penghalang kaki di kamar mandi!”


“Harusnya kau jeli, mana pasien yang benar-benar jatuh terpeleset, dan mana pasien yang pura-pura terpeleset! Jadi lebih baik kau yang membantunya berdiri atau aku tidak segan-segan untuk melaporkan kinerjamu kepada atasanmu!” ancam Ozzie membuat perawat tadi bergidik ngeri.


“Baik Tuan, saya akan membantunya berdiri. Saya mohon jangan laporkan saya kepada atasan!”


Ozzie pun berdehem pelan sambil kembali menuju ke sofa dan kembali menyibukkan dirinya.


 


  

__ADS_1


 


__ADS_2