Dilema Cinta Arsitek Muda

Dilema Cinta Arsitek Muda
Dunia Gelap Yuki


__ADS_3


Setelah jam kuliah usai, Yuki langsung menemui Prisca yang sudah menunggunya di taman kampus. Mereka berdua langsung pergi meninggalkan kampus dan menuju ke butik yang terkenal di salah satu pusat perbelanjaan kota.


“Prisca, memangnya kita perlu membeli gaun mahal di sini?” tanya Yuki saat turun dari mobil Prisca.


“Bukan hanya membeli gaun, aku juga akan membawamu ke salon ternama di mall ini.”


“Tapi Prisca, kau tahu bukan jika aku belum ada uang sama sekali untuk ...”


“Sssttt!” Prisca meletakkan jari telunjuknya di mulut. “Jangan pikirkan tentang hal ini. Yang jelas kau harus tampil cantik malam ini agar klien yang memesanmu tidak kecewa dan memberi tip yang besar!” jelas Prisca membuat Yuki bergidik ngeri.


Ingin rasanya mundur dari keputusan yang sudah ia buat tadi pagi dengan Prisca. Namun, mengingat keadaan Yuri yang kondisinya masih belum pulih, membuat Yuki harus tetap menjalani apa yang sudah menjadi pilihannya.


Meski berat, ia tetap harus melalui ini semua. Kini Yuki hanya mengharapkan sebuah keajaiban Tuhan untuknya agar bisa melalui ini semua dengan baik.


“Oh iya Yuki, kamu sudah mantap kan untuk melayani tamu malam ini?” tanya Prisca sambil menggandeng tangan Yuki menaiki eskalator.


“Ya, aku sudah mantap untuk memilih ini, Prisca!” jawab Yuki dengan wajah yang asih terlihat begitu datar.


“Tersenyumlah, Yuki. Aku yakin ini tidak seburuk yang kau kira!” ucap Prisca membuat Yuki menarik bibirnya dengan terpaksa untuk melukiskan senyumannya.


Yuki Aurora’s Point of View


‘Apa? Tidak seburuk yang aku kira?’ gumam Yuki dalam hati.


‘Ini bahkan adalah hal yang terburuk dalam hidupku, Prisca. Aku sama sekali tidak pernah berfikiran untuk menjadi wanita malam atau ayam kampus seperti mahasiswa yang lainnya.’


‘Namun, kali ini aku benar-benar sedang membutuhkan uang dalam jumlah yang sangat besar!’


‘Jika orang bilang aku adalah orang yang sangat bodoh. Kali ini aku benar-benar mengakui kebodohanku sendiri yang rela untuk terjun dalam dunia hitam!’


‘Tapi aku sama sekali tidak pernah menyesal dengan keputusanku kali ini.’

__ADS_1


‘Selain aku bisa membuat keadaan Yuri pulih seperti sedia kala, aku juga bisa membuat Kak Ozzie menjauh dari ku karena aku bukan lagi wanita yang baik untuknya.’


‘Biarlah aku buruk dan ternoda, asal Yuri tetap hidup bahagia! Lagi pula Prisca juga sudah mengatakan jika aku tidak akan kehilangan keperawananku!’


‘Jika hanya dipegang-pegang oleh tangan-tangan nakal, bagiku tidak masalah asalkan aku tetap bisa menjaga segel milikku!’


🥺🥺🥺


Sesampainya di butik Prisca memilihkan model gaun yang tampak begitu terbuka untukku. Saat aku mengecek gaun yang dipilihkan oleh Prisca, aku sedikit enggan untuk mencobanya.


Gaun ini terlalu memperlihatkan leher jenjang dan mengeksplor seluruh bahuku.


“Prisca, ini terlalu terbuka untukku!” aku melayangkan protesku pada Prisca. Sayangnya jawaban Prisca lagi-lagi membuatku bungkam dan tidak berkutik.


“Ini adalah cara untuk mendapatkan tip yang besar, Yuki! Percayalah, tamu laki-laki untukmu malam ini akan memberikan tip yang besar jika kau mengenakan ini!”


“Lagi pula kau terlihat sangat 53k5i jika mengenakannya!” bisik Prisca tepat di telingaku.


Lagi-lagi aku hanya bisa memaksakan senyumanku dibalik hatiku yang begitu tersiksa. Aku hanya bisa berteriak dalam hati jika ini benar-benar bukan diriku sendiri.


Setelah membeli 2 buah gaun untukku, Prisca mengajakku ke sebuah salon untuk sedikit memoles wajahku agar terlihat cantik di mata tamu yang sudah memesanku. Sepanjang wajahku di make over dan rambutku di tata oleh hair styles salon, aku terus saja merutuki kebodohanku kali ini.


Aku kini menyadari bahwa selepas malam ini, aku bukanlah wanita yang baik seperti saat ini. Aku hanyalah wanita malam yang rela menjual tubuhku untuk pria hidung belang untuk ia sentuh sesuka hatinya. Aku terus saja memikirkan kemalanganku hari ini, sampai akhirnya malam yang dinantikan pun tiba.


Prisca membawaku ke sebuah hotel bintang 5 dan sesampainya di meja resepsionis ia langsung memesankan kamar untukku. Setelah mendapatkan kartu kamar, ia mengantarku ke kamar yang ia pesan untuk menunggu tamu yang ia janjikan.


Awalnya aku pikir ia akan mengenalku kepada seorang mucikari sebelum membawaku ke hotel. Namun ternyata dugaanku sama sekali tidak benar karena Prisca justru langsung membawaku ke hotel.


Sampai aku beranggapan bahwa Prisca adalah mucikari muda yang sering menyalurkan mahasiswa untuk menemani pria dewasa di hotel.


“Jangan gugup, Yuki! Tarik nafasmu dalam-dalam dan hembuskan perlahan!” pinta Prisca padaku saat kita berada di dalam lift yang akan mengantarkanku ke lembah jurang kegelapan yang paling dalam.


Aku pun mengikuti saran dari Prisca untuk menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah melakukannya, aku sedikit merasa rileks meskipun masih dilanda rasa gugup yang mendalam.

__ADS_1


“Aku memang sedikit gugup Prisca. Bukankah ini hal yang wajar untukku yang baru pertama kalinya bekerja seperti ini!” ucapku membalas apa yang dikatakan Prisca barusan.


“Yaah, ini memang sangat wajar, Yuki. Yang terpenting, jangan lupa untuk menyunggingkan senyumanmu kepada tamu khususmu malam ini!”


Aku langsung menganggukkan kepalaku menimpali pesan dari Prisca. Tak lama kemudian, pintu lift pun terbuka. Debaran di dadaku semakin tidak karuan saat kakiku mulai melangkah menuju ke kamar yang sudah di pesan.


Rasanya aku ingin lari dan menggagalkan semua hal yang sudah aku setujui dengan Prisca tadi pagi. Sayangnya kakiku tetap saja melangkah menuju ke kamar yang direservasi.


Saat pintu kamar terbuka, betapa terkejutnya aku saat melihat kamar hotel ini di desain seromantis mungkin. Banyak bunga-bunga segar yang menghiasi dinding dan juga...


Tunggu! Kenapa ada bunga-bunga juga yang dihias di atas tempat tidur? Ini terlihat seperti sepasang pengantin yang akan melakukan malam pertama mereka.


“Prisca, aku tidak akan kehilangan keperawananku malam ini kan?” tanyaku dengan nada yang bergetar.


Bukannya menjawab pertanyaanku, Prisca justru menunjukkan ke meja makan yang sudah tertata berbagai menu hidangan untuk dua orang. “Yuki, kau akan melayani tamu khususmu malam ini di sana!”


“Iya, aku tahu Prisca. Tapi kenapa ada banyak bunga di atas tempat tidur itu?” tanyaku sambil menunjuk ke arah tempat tidur yang penuh dengan hiasan bunga.


“Kau sudah berjanji tidak akan menjual keperawananku, bukan?”


Pertanyaanku kali ini tidak kunjung dijawab oleh Prisca dan tentunya membuat aku semakin penasaran di buatnya.


“Yang jelas, layani tamu khususmu malam ini dan berikan apapun yang ia minta, Yuki. Termasuk keperawananmu!”


Ucapan Prisca kali ini membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ingin rasanya aku berlari pergi untuk menyelamatkan diri, namun kakiku justru terasa sulit untuk digerakkan.


“Selamat bekerja Yuki!” ucap Prisca kemudian yang meninggalkan aku sendiri.


Kali ini aku sudah tidak kuat lagi untuk berdiri. Aku terduduk lesu sambil menekuk kakiku dan memeluknya dengan sangat erat. Tangisku seketika pecah begitu saja. Aku tidak rela menjual tubuhku demi 2000 poundsterling. Namun, aku juga tidak punya pilihan lain selain ini.


Aku terus saka menangis tersedu-sedu merutuki betapa bodohnya aku sampai aku mendengar suara pintu kamar yang mulai terbuka.


“Selamat datang dunia kehancuranku!”

__ADS_1


__ADS_2