
“Yuki!” panggil Mama dengan tatapannya yang sangat tajam.
“Apa benar dengan apa yang dikatakan oleh Yuri?” tanya mama membuat Yuki hanya diam sambil menggelengkan kepalanya.
Plak! Tamparan keras dari mamanya langsung mendarat mulus dari pipi Yuki.
“Siapa yang sudah mengajarimu melakukan pekerjaan rendahan seperti itu Yuki?!” gertak Mama.
Meski di Jepang melakukan hal seperti itu adalah hal yang wajar, tapi tidak bagi Mama Yuni yang asli dari Indonesia. Baginya hal seperti itu adalah hal yang tabu dan ia menekankan kepada putrinya untuk tidak mengikuti gaya hidup bebas teman-temannya.
Papa Yuketama pun meskipun berdarah asli Jepang juga tidak setuju jika putrinya mengikuti gaya hidup bebas remaja di Jepang pada umumnya. Dia pun ikut menerapkan aturan yang dikehendaki oleh istrinya dalam mendidik putrinya.
Melihat Yuki ditampar oleh mamanya, membuat papa Yuke langsung mengajak Yuki untuk keluar dari ruangan.
“Jangan membuat keributan di rumah sakit, Ma. Biar papa yang berbiacara dengan baik-baik pada Yuki!”
Kini tinggal Yuri dan mamanya yang ada di ruangan. Yuri pun terus saja menceritakan tentang kecintaannya pada Ozzie kepada Mama Yuni dan Mama Yuni menanggapinya dengan sangat antusias.
“Bantu Yuri untuk mendapatkan Kak Ozzie ya ma!” pinta Yuri di akhir ceritanya.
“Tentu saja sayang! Mama akan membantumu mendapatkan Kak Ozzie sebelum mama kembali ke Jepang.”
🍄🍄🍄
Sedangkan di sisi lain, Prisca yang mulai merasakan lapar pun membuka matanya perlahan. Namun, saat matanya terbuka, ia sangat terkejut saat melihat bajunya sudah berganti dengan piyama. Kemudian ia menyibakkan selimutnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
__ADS_1
“Kak Leooo!” pekik Prisca saat melihat Leo tengah terlelap di sofa yang ada di kamarnya.
Suara Prisca yang melengking tentunya membuat Leo mengerjapkan matanya dan membetulkan posisi duduknya.
“Kenapa sih teriak-teriak? Ganggu orang tidur aja!” gerutu Leo kesal.
“Kak Leo kenapa tidur di kamar aku?”
“Heh! Kalo mau protes itu melek dulu yang bener! Coba deh kamu lihat ini kamar siapa?” balas Leo yang masih sambil memejamkan matanya.
Prisca pun melihat sekelilingnya dengan seksama. Meski penataan kamarnya hampir sama, tetapi tidak ada satupun barang miliknya ada di sana.
“Trus kenapa aku bisa tidur di kamar Kak Leo?” tanya Prisca kemudian.
“Aku gak punya kunci kamar kamu!”
Kali ini Leo membuang nafasnya kasar. “Yang gantiin baju kamu itu Maid Dera, bukan aku!” balas Leo sembari merapatkan selimutnya kembali.
“Kalo laper, aku udah siapin makan malem buat kamu di bawah. Kalau dingin, kamu bisa panasin sendiri!” lanjut Leo lagi.
Prisca pun hanya menjawabnya dengan deheman singkat dan kemudian turun dari tempat tidur Leo. “Yaudah, setelah makan aku akan balik ke kamar aku sendiri. Kak Leo bisa tidur di tempat tidur!” tutur Prisca sambil berjalan keluar kamar.
Dengan langkah gontai, Prisca pun menuruni anak tangga dan menuju ke ruang makan. Tampak di meja makan tersaji makanan kesukaannya plus susu kotak yang sengaja disiapkan oleh Leo tentunya.
“Selamat malam Non Prisca! Tuan Leo berpesan kepada saya untuk menyiapkan makan malam jam 8 karena kemungkinan anda akan bangun pada saat itu. Ternyata perhitungan Tuan Leo sangat tepat ya!” tutur Maid Dera.
“Hanya kebetulan saja Maid Dera. Terima kasih banyak sudah disiapkan dengan baik.”
__ADS_1
“Sama-sama Non. Selamat menikmati!”
Maid Dera pun pergi meninggalkan ruang makan dan Prisca mulai menikmati makan malamnya. Beef teriyaki, salad sayur, dan egg chicken roll yang ada di atas meja pun kini sudah berpindah tempat ke perut Prisca.
Setelah kenyang, Prisca memutuskan untuk ke kamarnya. Namun suasana Mansion yang sangat sunyi malam ini membuat bulu kuduknya merinding.
Jiwa penakut Prisca kali ini mulai meronta-ronta. Jika disuruh memilih, ia lebih berani mengendarai mobil sendirian di jalan besar saat malam dari pada harus tinggal sendirian di Mansion sebesar ini. Akhirnya Prisca pun memutuskan untuk kembali ke kamar Leo.
“Kak Leo!” panggil Prisca sambil menggoyangkan tubuh Leo.
“Malam ini aku tidur di sini lagi yaa!” pinta Prisca.
Leo yang sudah sangat mengantuk pun hanya menjawabnya dengan deheman singkat.
“Tapi aku gak mau tidur di sofa kak. Aku maunya tidur di ranjang kakaaak!” lanjut Prisca lagi sambil tetap menggoyangkan badan Leo berkali-kali.
“Ck, Priscaa! Ganggu banget sih kamu nih. Tidur aja di kamar kamu sendiri sana!” usir Leo tanpa membuka matanya sedikit pun.
“Gak mau kaaak. Aku takuut!”
“Yah aku juga gak mau tidur di sofa. Kalau kamu mau ya tidur aja di sini bareng aku!” balas Leo yang tak lama kemudian kembali lagi ke alam mimpinya.
“Huft, ya udah deh. Prisca tidur di sofa aja!”
Prisca pun mengambil bantal dan juga selimut dan membawanya ke sofa. Kemudian ia menata bantalnya dan kemudian merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut.
__ADS_1