Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 10 ~ Mertua Edan


__ADS_3

Seketika, Claudia pun tersadar dari lamunan nya dan...


"Aaaaaaaaaa..."


Ia berteriak histeris dan langsung berdiri dari pangkuan Hermawan, sambil menyambar handuk yang tergeletak di lantai.


Setelah melilitkan handuk ke tubuh polos nya, Claudia pun segera berlari kecil menuju lemari pakaian.


Dengan gerakan cepat, ia mengambil baju daster berwarna ungu dan pakaian dalam, lalu kembali berlari ke dalam kamar mandi.



Hermawan hanya tersenyum miring melihat kelakuan istri kecil nya. Ia kembali duduk di pinggir ranjang dan menyalakan rokok.


Selesai berpakaian, Claudia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang bergulung di atas kepala. Melihat penampilan Claudia yang cukup menggoda iman, Hermawan pun langsung membulatkan mata nya.


Glek...


Lagi... Hermawan menelan ludah dengan susah payah. Ia terperangah memandangi tubuh ramping Claudia dari atas sampai bawah tanpa berkedip.


Deg... Deg... Deg...


Dada Hermawan kembali berdegup kencang akibat ulah Claudia.


"Haduuuh, ini anak kok bikin aku jantungan terus sih kerjaan nya. Mana penampilan nya seksi banget lagi? Hufff, bikin badan ku panas dingin saja," batin Hermawan membuang nafas kasar.


Lelaki dewasa itu tampak gelisah melihat Claudia yang berpenampilan sedikit seksi. Ia terus saja menelan ludah, sambil memandangi tubuh yang sedang memunggungi nya.



Claudia tidak menghiraukan tatapan aneh Hermawan. Ia berusaha untuk tetap santai dan tenang, sambil terus menyisir rambut dan memoles wajah di depan cermin.


Hermawan terus memandang wajah Claudia dari pantulan cermin, lalu kembali membatin...


"Kamu cantik sekali, Claudia."


Selesai merapikan diri, Claudia menoleh ke belakang dan menatap wajah Hermawan yang masih setia dengan tatapan aneh nya.


"Ada apa, Om? Kenapa nengokin aku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan ku?" tanya Claudia heran.


"Enggak, nggak ada yang aneh kok," bohong nya.


Hermawan mengalihkan pandangan nya ke arah lain, dan berusaha menutupi kekaguman nya pada istri kecil nya tersebut.


"Ooohh, kirain ada yang aneh," balas Claudia.

__ADS_1


Selesai berucap, Claudia beranjak dari kursi dan melangkah ke arah pintu. Saat hendak keluar, Claudia kembali menoleh dan berkata...


"Om, mandi lah! Aku mau ke dapur dulu, mau buat sarapan," ujar nya lalu melangkah keluar dari kamar.


"Oke," jawab Hermawan.


Setelah mematikan api rokok, Hermawan pun segera bangkit dan mengambil handuk yang sudah di gunakan Claudia, lalu menyampirkan nya ke bahu.


Sambil bersiul-siul, lelaki itu pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan rambut basah dan handuk yang melilit di pinggang.


Selesai berpakaian dan menyisir rambut, Hermawan keluar dari kamar lalu berjalan menuju ruang tamu. Dan ternyata sudah ada Roy yang menunggu nya di sana.


"Hai, menantu ku tersayang. Apa kabar? Sehat kan?" sapa Roy sambil tersenyum dan menaik turun kan alisnya.


"Ah, kau ini. Basi banget pertanyaan nya," cibir Hermawan sembari mendudukkan bokong nya di kursi yang berada di depan Roy.


"Hahahaha," gelak Roy. Ia merasa lucu melihat wajah masam menantu nya.


Tak lama kemudian, Claudia datang dengan membawa nampan di tangan nya. Sesudah menghidangkan kopi dan bakwan jagung di atas meja, ia pun mempersilahkan kedua lelaki itu untuk menyantap nya.



"Silahkan, Pak, Om!" ucap Claudia.


Begitu pun dengan Hermawan, ia juga mengucapkan kata yang sama, namun dengan mimik wajah yang berbeda.


"Ya, terima kasih, Clau," jawab Hermawan dengan wajah datar.


Claudia tersenyum tipis dan menganggukkan kepala, menanggapi ucapan kedua lelaki yang ada di hadapannya. Setelah itu ia kembali ke dapur, dan memasak lauk untuk menu makan siang.


"Jadi gimana, Her?" tanya Roy sambil mengunyah bakwan jagung di mulut nya.


Hermawan yang sedang menyeruput kopi pun langsung menoleh, dan balik bertanya dengan kening mengkerut.


"Gimana apa nya?" tanya Hermawan bingung.


"Halaaah, nggak usah pura-pura bego lah. Kau pasti sudah tahu maksud ku kan?" cibir Roy.


Hermawan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelas kopi itu ke atas meja, lalu menyalakan rokok nya.


"Kalau aku tahu, untuk apa aku bertanya lagi?" ucap Hermawan.


Mendengar perkataan Hermawan, Roy pun langsung berdecak kesal. Ia mempercepat kunyahan nya, lalu meneguk kopi hingga setengah gelas. Setelah itu, Roy pun kembali mengoceh.


"Ck, dasar bujang lapuk! Masa di tanya gitu aja nggak paham-paham juga sih? Oon banget," umpat nya geram.

__ADS_1


"Heh, mertua edan! Kalo ngomong itu yang sopan, jangan asal njeplak aja! Oon-oon gini, aku tetap lah menantu mu. Suami dari anak mu, paham!" balas Hermawan tak mau kalah.


Mendengar umpatan Hermawan, tawa Roy pun langsung pecah seketika. Ia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut nya.


"Hahahaha, santai bro, santai. Nggak usah ngegas gitu. Aku cuma bercanda kok, hahahaha!" gelak Roy.


"Nggak lucu," balas Hermawan ketus, lalu menghisap rokok dengan wajah masam.


Claudia yang sedang sibuk berkutat di dapur pun, hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, mendengar perdebatan sengit antara suami dan bapak nya.


"Sudah pada tua gitu pun, masih saja bertingkah seperti anak-anak, heran!" gumam Claudia.


Setelah lelah mentertawai menantu nya, Roy pun mencondongkan tubuh nya dan mendekatkan bibir nya ke telinga Hermawan.


"Maksud ku, gimana acara belah duren nya? Berhasil nggak?" bisik Roy lalu kembali duduk di tempat nya.


"Enggak, duren nya belum mateng. Jadi belum bisa di belah," jawab Hermawan dingin.


"Hah, belum mateng? Maksud nya gimana sih, aku nggak ngerti?" tanya Roy bingung.


Roy terkejut sambil membelalakkan mata nya. Ia sama sekali tidak mengerti akan maksud perkataan Hermawan.


"Claudia belum siap untuk melakukan nya," jawab Hermawan.


"APA?" teriak Roy seakan tidak percaya dengan pendengaran nya.


Hermawan menutup kedua telinganya yang terasa berdengung, akibat suara menggelegar Roy. Masih dengan wajah syok, Roy pun kembali bertanya...


"Ja-jadi kalian belum..." Roy menggantung kata-kata nya.


"Ya, kami belum melakukan apapun semalam. Anak mu menolak ku mentah-mentah. Aku pun tidak bisa memaksanya untuk melakukan hal itu dengan ku," sambung Hermawan membenarkan perkataan Roy.


Hermawan mengangkat gelas lalu meneguk kopi nya sampai tandas. Kemudian, ia meletakkan gelas kosong itu kembali ke tempat semula.


"Kalau mau lebih jelas lagi, tanyakan saja pada anak mu sendiri!" ucap Hermawan.


Roy menghela napas panjang. Ia tidak menduga jika Claudia akan menolak Hermawan seperti itu. Melihat wajah kecewa Hermawan, Roy pun bangkit dari kursi dan duduk di sebelah sahabat sekaligus menantu nya tersebut.


"Sabar ya, Her. Mungkin Claudia memang benar-benar belum siap, untuk menjadi seorang istri sesungguhnya."


"Tapi aku yakin, cepat atau lambat dia pasti akan melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri, percaya lah!" ucap Roy sambil merangkul pundak Hermawan.


"Ya, mudah-mudahan saja ucapan mu itu benar," balas Hermawan penuh harap.


🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak sesudah membaca ya 🥰🌺

__ADS_1


__ADS_2