
Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir setengah jam, mobil yang di kendarai Hermawan pun tiba di depan gerbang besi yang menjulang tinggi.
Tin tin tin...
Hermawan membunyikan klakson untuk memanggil Anto, satpam yang bertugas menjaga kediaman nya.
Lelaki yang berusia 35 tahun itu pun langsung berlari dari pos penjagaan. Ia segera membuka pintu gerbang, saat mendengar suara klakson mobil majikan nya.
Setelah pintu gerbang terbuka, Hermawan pun menjalankan mobil nya kembali dan berkata...
"Makasih ya, To," ucap Hermawan tersenyum tipis.
"Ya sama-sama, pak." Anto mengulas senyum dan menutup pintu gerbang kembali.
Setibanya di halaman rumah Hermawan, Claudia pun langsung terkejut melihat rumah Hermawan yang sangat megah.
"Waaahh, ini rumah atau istana? Bagus banget," gumam Claudia dengan wajah berbinar.
"Bukan kedua nya," sahut Hermawan.
"Hah, maksud nya?" tanya Claudia bingung.
Ia menoleh ke arah Hermawan, dan menatap nya dengan kening mengkerut. Hermawan yang baru saja membuka sealbeat dari tubuh nya pun ikut menoleh, dan membalas tatapan aneh Claudia.
"Ini bukan rumah atau pun istana. Tapi ini kandang ayam," canda Hermawan dengan wajah tanpa ekspresi.
"HAH, yang bener aja dong, Om? Masa iya, kandang ayam semegah ini? Aneh-aneh saja," oceh Claudia semakin terkejut, mendengar penuturan Hermawan yang tidak masuk akal menurut nya.
Hermawan tidak menggubris celotehan Claudia. Ia hanya mengulum senyum lalu keluar dari mobil. Lelaki itu juga tidak menghiraukan istri nya, yang masih tampak syok sambil melihat ke arah rumah megah nya.
"Lololoh, kok malah di tinggal sih? Nggak romantis banget. Seharusnya kan di ajak keluar, trus di bukain pintu. Ini kok malah main kabur aja, nggak peka banget jadi cowok," gerutu Claudia kesal.
"Kamu masih mau di sini, atau mau ikut masuk ke dalam?" tanya Hermawan sambil membuka bagasi mobil, lalu mengeluarkan koper milik nya dan juga milik Claudia.
"Ya ikut masuk lah, Om. Ngapain juga aku harus berlama-lama disini? Di kira aku ini tukang parkir apa?" oceh Claudia dengan wajah masam.
Dengan perasaan dongkol, Claudia pun segera membuka sealbeat dan keluar dari mobil. Ia mengikuti langkah Hermawan yang sudah berjalan duluan di depan nya, sambil menyeret dua koper di tangan nya.
"Hadehh... Emang dasar beruang kutub. Dingin nya kok ngalah-ngalahin kulkas dua pintu, adem banget. Hiiiiii..." gerutu Claudia dalam hati.
Ia terus mengumpat sambil memandangi punggung Hermawan dengan tatapan sinis. Sampai di depan pintu, Hermawan pun memencet bel beberapa kali.
__ADS_1
Ting tong ting tong...
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar dan nampak wajah keriput Mbok Saripah, yang menyambut kedatangan mereka dengan senyum sumringah.
"Selamat datang, pak, bu," ucap mbok Saripah.
"Terima kasih, mbok." Hermawan tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam.
Hermawan terus mengayunkan langkah nya sampai ke lantai dua, tanpa memperdulikan Claudia yang masih setia berdiri di tempat nya.
Sampai di dalam kamar, Hermawan meletakkan koper di samping lemari pakaian, lalu menoleh ke belakang.
"Loh, mana dia? Kok nggak ada?" gumam Hermawan heran karena tidak mendapati Claudia di belakang nya.
"Jangan-jangan dia masih ketinggalan di bawah lagi?" lanjut Hermawan.
Sementara Claudia, ia hanya mematung di depan pintu sambil celingukan kesana kemari. Melihat wajah bingung Claudia, mbok Saripah pun kembali tersenyum dan berkata...
"Ayo, silahkan masuk, bu! Kamar nya ada di lantai atas," ucap mbok Saripah.
"Jangan panggil saya ibu, mbok. Panggil saja saya Claudia," ujar Claudia merasa tidak enak hati.
"Nggak boleh begitu, bu. Biar bagaimanapun juga, ibu adalah istri dari pak Hermawan. Jadi saya juga harus menghormati ibu, seperti saya menghormati pak Hermawan," jelas mbok Saripah panjang lebar.
Mbok Saripah terdiam sejenak. Ia sedang memikirkan panggilan yang tepat untuk Claudia. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya mbok Saripah pun memutuskan untuk memanggil Claudia dengan sebutan nona.
"Hmmmm, gimana kalau saya panggil nona saja?" tanya mbok Saripah meminta pendapat Claudia.
"Oke, itu pun boleh, mbok." Claudia mengangguk, ia langsung setuju dan tersenyum manis pada wanita tua yang ada di depan nya.
Selesai berbincang-bincang dengan mbok Saripah, Claudia pun mulai melangkah masuk ke dalam rumah mewah milik suaminya tersebut.
Ia berjalan menuju ke lantai dua, sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan yang ia lewati.
"Ck, ck, ck, ternyata si beruang kutub benar-benar orang kaya rupanya. Aku pikir dia cuma kaya bo'ongan. Eehhh, ternyata kaya beneran," gumam Claudia sambil memandang takjub ke arah ruang tengah.
Setelah menutup pintu utama, mbok Saripah pun kembali ke dapur dan melanjutkan aktivitas nya kembali.
Setelah menapaki beberapa anak tangga, Claudia pun sudah tiba di depan pintu kamar. Ia terlihat gugup dan ragu untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Claudia kembali mematung sambil menatap ke arah knop pintu. Ia menggigit bibir bawahnya, sambil membatin...
"Kira-kira si beruang kutub lagi ngapain ya di dalam? Apa dia lagi mandi? Atau lagi..."
Sedang asyik menerka-nerka tentang Hermawan, tiba-tiba Claudia terlonjak kaget ketika melihat pintu sudah terbuka lebar.
Ceklek...
"Ngapain masih berdiri di situ? Apa kamu ingin menjadi penjaga kamar ini?" tanya Hermawan sambil menautkan kedua alisnya.
Claudia langsung gelagapan. Dada nya juga berdebar-debar kencang, karena melihat penampilan Hermawan yang hanya menggunakan handuk di pinggang.
Gadis itu melongo dan menelan ludah dengan susah payah. Ia tampak gelisah sambil mencuri-curi pandang ke arah roti sobek Hermawan yang terpampang jelas di depan mata nya.
"Haduuuh, si beruang kutub ini bikin jantung ku mau copot saja sih kerjaan nya. Mana seksi banget lagi penampilan nya? Bikin gerogi saja," umpat Claudia dalam hati.
Claudia menunduk. Ia tidak berani menatap tubuh kekar Hermawan lebih lama lagi. Ia memilin-milin ujung baju nya, lalu menjawab...
"Ya... Ya nggak lah, Om. Masa cewek secantik dan seimut aku harus menjadi penjaga kamar sih? Aneh-aneh saja," omel Claudia tidak terima dengan perkataan Hermawan.
"Cih, pede sekali kamu. Siapa juga yang bilang kamu itu cantik, hah? Sudah rabun mata nya, kalau ada orang yang bilang kamu itu cantik," oceh Hermawan tak mau kalah.
Claudia memanyunkan bibir mendengar ucapan pedas Hermawan. Ia terlihat kesal dan jengkel dengan cibiran suaminya tersebut. Karena tidak ingin memperpanjang perdebatan, akhirnya Claudia pun mengalah.
"Ya lah, terserah Om saja mau ngata-ngatain aku apa?" balas Claudia lalu nyelonong masuk ke dalam.
Ia melewati Hermawan begitu saja, tanpa memperdulikan wajah aneh lelaki yang bergelar suami tersebut.
Hermawan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istri kecil nya, lalu menutup pintu kembali.
Saat Hermawan hendak membuka handuk nya di depan Claudia, tiba-tiba gadis itu pun langsung menjerit dan reflek menutup wajah nya.
"Aaaaaaaaaa...!"
"Om... Om mau ngapain sih buka-bukaan di sini? Kemarin kan sudah ku bilang, kalau aku belum siap untuk melakukan hal itu. Kenapa Om nggak ngerti juga sih?" oceh Claudia sambil terus menutup wajah dengan kedua tangan nya.
"Heh, bocah sableng! Siapa juga yang ingin melakukan itu dengan mu, hah? Nggak usah kege'eran jadi orang. Om cuma ingin berganti pakaian, bukan ingin menerkam mu, paham!" omel Hermawan kesal.
Setelah mendengar penuturan Hermawan, Claudia pun mulai menurunkan kedua tangan dari wajah nya. Ia tampak salah tingkah, ketika melihat Hermawan yang sedang memakai celana pendek di depan nya.
"Oohhh, kirain mau itu, hehehehe!" ucap Claudia nyengir kuda. Ia menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Huuuuu, ngeres saja isi kepala mu itu!" omel Hermawan lagi.
__ADS_1
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya 🌺