
"Apa barang-barang mu sudah selesai di kemasi, Claudia?" tanya Hermawan ketika melihat hanya ada satu koper di samping koper nya.
"Su-sudah, Om. Sudah aku kemasi kok, tuh!" tunjuk Claudia ke arah koper nya.
"Oh ya sudah, ayo kita keluar!" ajak Hermawan lalu menyeret dua koper itu keluar dari kamar.
"Iya, Om." Claudia mengikuti langkah Hermawan sampai ke ruang tamu.
Ternyata di sana sudah ada Roy yang menunggu kedatangan mereka. Melihat orang tua tunggal nya sudah menunggu, Claudia pun langsung berhambur memeluk tubuh kekar itu dengan linangan air mata.
"BAPAK..." teriak Claudia.
"Clau..." gumam Roy.
Roy membalas pelukan putri nya, dan sesekali mendaratkan kecupan kilat di dahi gadis tersebut. Claudia menenggelamkan wajah nya di dada bidang Roy, sambil menangis sesenggukan.
"Pak, jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Clau!" ucap Claudia mewanti-wanti Roy.
"Iya, sayang. Kamu juga jaga diri baik-baik ya di sana. Jangan nakal-nakal, jangan pernah membantah apa lagi melawan perkataan suami mu, dosa." Roy memberi wejangan kepada anak semata wayangnya.
"I-iya, pak. Clau akan selalu mengingat semua pesan bapak." Claudia mulai melepas pelukannya, dan menyeka air mata dengan punggung tangan nya.
"Bagus, itu baru nama nya putri kesayangan bapak." Roy tersenyum dan merangkul pundak Claudia, lalu kembali berceloteh.
"Dan satu hal lagi yang harus kau ingat baik-baik, Clau. Kalau kau tidak melaksanakan kewajiban mu sebagai istri, itu juga termasuk dosa besar. Ribuan malaikat akan mengutuk perbuatan mu itu. Kamu paham maksud bapak kan, Clau?" tanya Roy.
"Pa-paham, pak." Claudia mengangguk pelan, lalu melirik ke arah Hermawan dengan ekor mata nya.
Begitu pun dengan Hermawan, ia juga melirik ke arah Claudia yang masih saja bermanja-manja dengan Roy, bapak kandung nya.
"Huh, kalau sama Roy, manja nya minta ampun. Coba kalau sama aku, boro-boro manja, di peluk aja kagak. Oalah nasib... nasib..." gerutu Hermawan dalam hati.
Hermawan tampak iri melihat kedekatan bapak dan anak tersebut. Ia juga ingin berada di posisi Roy, yang bisa menjadi tempat bermanja-manja istri kecil nya tersebut.
Hermawan terus saja memandang ke arah Roy dan Claudia dengan tatapan tidak suka. Ia semakin cemburu melihat kemesraan antara mertua dan istri nya itu.
"Udah udah, nggak usah lama-lama pelukan nya. Udah kayak Teletubbies aja tingkah kalian berdua," ucap Hermawan ketus dan memasang wajah masam.
__ADS_1
Bukan nya marah, Roy malah tersenyum geli melihat kecemburuan menantu nya tersebut. Ia malah semakin memanas-manasi Hermawan, dan semakin mempererat pelukannya pada Claudia.
"Ciyeee... Ada yang cemburu niyeee, hahahaha!" ledek Roy.
Mendengar ledekan bapak nya, Claudia pun langsung menoleh ke arah Hermawan sambil cekikikan.
"Ternyata si beruang kutub bisa cemburu juga rupanya, hihihihi..." gumam nya pelan.
"Bukan nya cemburu, Roy. Tapi mata ku sepet lihat tingkah kalian yang terlalu kekanak-kanakan," elak Hermawan.
"Halah, alasan! Bilang saja kamu cemburu. Ya kan, ngaku aja deh!" ledek Roy lagi.
"Suka-suka kau lah situ, mau bilangin aku apa?" oceh Hermawan. Ia tampak semakin kesal dengan candaan receh mertua nya tersebut.
Roy semakin terkekeh melihat raut wajah Hermawan. Ia terlihat sangat senang, mengganggu sahabat sekaligus menantu nya itu.
"Hahahaha... Nggak usah ngambek gitu, Her! Kau tenang saja, cepat atau lambat kau juga akan berada di posisi ku ini kok," ucap Roy sembari tergelak.
"Ya lah," jawab Hermawan pasrah.
Claudia hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah kocak kedua lelaki yang sangat berarti dalam hidup nya tersebut.
"Hmmm, ya udah deh, pak. Kami pamit dulu. Bapak jaga diri baik-baik ya disini. Jangan telat makan, jangan tidur sampai larut, dan jangan..."
Belum sempat Claudia meneruskan kata-kata nya, tiba-tiba Roy menyambarnya dengan cepat.
"Iya iya, kamu tidak usah khawatir, sayang. Bapak akan jaga diri baik-baik kok," balas Roy kembali memeluk Claudia dan mengecup kening nya.
Setelah itu, Roy pun beralih kepada Hermawan. Ia juga memberi wejangan kepada menantu tua nya tersebut.
"Her, aku titip anak ku ya. Jaga dia baik-baik, seperti aku menjaga selama ini. Jangan pernah membentak nya, apa lagi sampai mengasarinya."
"Kalau pun dia melakukan kesalahan, tegur dia baik-baik. Jangan langsung emosi atau pun memukul nya, ingat itu!"
"Aku percayakan anak ku dengan mu, karena aku yakin kau pasti akan menjadi imam yang baik untuk nya," tutur Roy panjang lebar.
Mendengar perkataan bapak nya, mata Claudia pun kembali berkaca-kaca. Ia tidak sanggup menahan kesedihan nya. Hingga akhirnya, ia pun kembali meneteskan air mata.
Karena tidak ingin melihat Claudia semakin larut dalam kesedihan, Hermawan pun langsung mengangguk dan berkata...
__ADS_1
"Kau tidak usah khawatir, Roy. Aku pasti akan menjaga istriku sebaik mungkin, percayalah!" balas Hermawan tersenyum tipis.
"Oke, aku percaya dengan mu." Roy mengangguk lalu memeluk tubuh kekar menantu nya, dan berbisik...
"Cepat beri aku cucu ya, Her! Aku sudah tidak sabar ingin menggendong nya, hehehehe!" bisik Roy lalu melepaskan pelukan nya.
"Kau tenang saja, mertuaku yang resek. Aku pasti akan segera mengabulkan keinginan mu itu," jawab Hermawan dengan penuh percaya diri.
"Oke good. Itu lah yang aku suka dirimu, hahahaha!" gelak Roy sambil menepuk-nepuk bahu Hermawan.
Claudia hanya diam sambil terus memperhatikan tingkah Roy dan Hermawan, yang terlihat sedikit aneh menurut nya.
"Mereka lagi ngomongin apaan sih, pake bisik-bisik segala? Bikin jiwa kepo ku meronta-ronta saja," gerutu Claudia dalam hati.
"Ya udah kalo gitu, kami pamit dulu ya, Roy. Assalamualaikum," ucap Hermawan lalu menjabat tangan Roy.
"Oke, wa'laikum. Hati-hati di jalan ya, Her!" balas Roy tersenyum lebar.
Hermawan melangkah keluar menuju mobil, dan menyimpan koper ke dalam bagasi. Setelah selesai, ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang stir kemudi.
Begitu pula dengan Claudia. Ia juga berpamitan dengan Roy. Claudia kembali memeluk tubuh bapak nya dan mencium punggung tangan nya takzim.
"Pak, Clau pamit ya. Clau janji, Clau bakalan sering-sering main kesini nanti," ucap Claudia.
"Iya, sayang. Kapan pun kau ingin berkunjung, datang lah! Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk mu," balas Roy sambil membelai rambut putri nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Lagi... Claudia menitikkan air mata nya di dada bidang Roy. Ia terlihat sangat berat untuk berpisah dengan orang tua tunggal nya tersebut.
Melihat putri nya kembali menangis, Roy pun melepas pelukannya, dan menyuruh Claudia untuk segera ikut bersama Hermawan.
"Ya sudah, pergilah! Hermawan sudah menunggu mu," ujar Roy sembari melirik ke arah Hermawan yang sudah standby di belakang stir kemudi nya.
"Iya, pak. Clau pergi dulu ya, assalamualaikum," pamit Claudia lalu keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil Hermawan.
"Ya, wa'laikum salam." Roy berdiri di depan pintu, lalu melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
"Hufff, mudah-mudahan saja kau bahagia dengan nya, nak!" gumam Roy sambil memandangi kepergian anak dan menantunya.
__ADS_1
๐บ Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman.. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, tengkyu ๐๐๐บ