
Mbok Saripah menghela nafas panjang, lalu memandang wajah Claudia dengan tatapan sendu. Setelah beberapa saat hening, mbok Saripah pun kembali menceritakan tentang masa lalu Hermawan.
"Bukan nya tidak di hukum, Non. Tapi, mereka memanipulasi kematian tuan dan nyonya. Para pembunuh bayaran itu merekayasa kecelakaan itu, seolah-olah tuan dan nyonya murni kecelakaan, bukan karena di bunuh."
Mbok Saripah kembali terdiam. Air mata nya terus saja menetes membasahi kedua pipi keriput nya. Begitu pula dengan Claudia. Ia juga terdiam dan larut dalam pikiran nya sendiri.
Setelah merasa agak tenang, mbok Saripah pun melanjutkan ceritanya kembali.
"Sejak saat itu, pak Hermawan langsung berubah 180 derajat. Ia lebih banyak diam dan mengurung diri. Bicara seperlunya saja dan bersikap dingin pada siapapun," tutur mbok Saripah.
"Ooohh, begitu ceritanya. Pantesan saja si beruang kutub..."
Mendengar kata "beruang kutub" mbok Saripah pun langsung menoleh dengan kening mengkerut.
"Eh, maksud saya Om Hermawan, hehehehe!" jelas Claudia nyengir kuda.
"Pantesan saja sikap Om Hermawan dingin seperti itu. Ternyata, itu toh masalah nya," lanjut Claudia manggut-manggut.
"Tapi Non, jangan bilang-bilang sama pak Hermawan ya kalau saya yang cerita. Takut nya nanti dia marah sama saya, karena sudah lancang menceritakan hal itu pada Non Claudia."
Mbok Saripah mewanti-wanti Claudia, agar tidak memberitahu Hermawan tentang cerita nya tadi. Claudia tersenyum lalu kembali merangkul pundak mbok Saripah, dan berkata...
"Mbok tenang saja. Saya janji, saya tidak akan mengatakan apapun kepada Om Hermawan," ucap Claudia meyakinkan mbok Saripah.
"Alhamdulillah, syukur lah kalau begitu. Saya lega mendengar nya," balas mbok Saripah tersenyum tipis.
Mbok Saripah mulai berdiri dari kursi, dan ingin melanjutkan pekerjaan nya kembali. Ia melangkah ke arah kompor dan menyalakan nya.
"Mbok, saya bantu ya!" ucap Claudia.
"Tidak usah, Non! Nanti pak Hermawan marah kalau melihat Non Claudia ada di sini membantu saya. Lebih baik Non duduk manis saja disitu," ujar mbok Saripah sambil menunjuk ke arah kursi meja makan.
"Om Hermawan nggak bakalan marah kok, mbok. Dia kan lagi kerja, dia nggak bakalan tahu kalau saya lagi disini bantuin mbok masak," lanjut Claudia masih tetap kekeuh dengan keinginan nya.
"Siapa bilang pak Hermawan nggak tahu?" mbok Saripah menoleh dan menautkan kedua alisnya.
"Saya, kan tadi saya yang bilang," jawab Claudia santai sambil menunjuk diri nya sendiri.
Mbok Saripah tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepala. Ia mendekat kan wajah nya pada Claudia, lalu berbisik...
"Asal Non Claudia tahu ya, di setiap sudut rumah ini ada cctv nya. Jadi, pak Hermawan tahu kejadian apa saja yang ada di dalam rumah ini," jelas mbok Saripah.
__ADS_1
Claudia langsung terkejut dan membelalakkan mata nya. Ia terlihat sangat syok, setelah mendengar penjelasan mbok Saripah.
"Whaaaattt... Ada cctv?" pekik Claudia.
"Iya, Non. Emang pak Hermawan nggak ada bilang ya, kalau di rumah ini banyak cctv nya?" tanya mbok Saripah heran.
"Enggak," jawab Claudia menggelengkan kepala.
"Ohhh, mungkin pak Hermawan lupa memberitahukan nya. Ya sudah, mbok lanjut masak lagi ya, Non."
"Non Claudia istirahat lah di kamar, biar saya sendiri saja yang melakukan pekerjaan ini," ujar mbok Saripah lalu melanjutkan aktivitas nya kembali.
"Hmmmm, ya udah deh. Saya ke kamar dulu ya, mbok," pamit Claudia lalu melangkah naik ke lantai atas dengan langkah gontai.
"Ya, Non." Mbok Saripah menoleh dan mengangguk kan kepala.
Sampai di kamar, Claudia celingukan kesana kesini untuk mencari letak cctv. Ia mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut langit-langit kamar.
"Kira-kira, di kamar ini ada cctv nya juga nggak ya?" gumam nya sambil terus mencari keberadaan cctv tersebut.
"Ah, nggak mungkin si beruang kutub memasang cctv di kamar ini. Lagian apa gunanya coba? Aneh-aneh saja," lanjut nya lagi.
Setelah lelah mencari keberadaan cctv yang tak kunjung jumpa, akhirnya Claudia pun pasrah dan merebahkan diri di atas ranjang dan berguling-guling kesana kemari, persis seperti ular yang sedang berganti kulit.
Hermawan merasa terhibur melihat tingkah aneh Claudia. Ia terus memandangi kelakuan istri kecil nya, yang masih berguling-guling ria di atas ranjang milik nya.
Ternyata sebelum menikah dengan Claudia, Hermawan sengaja memasang cctv di bagian kamar dan juga kamar mandi, agar ia bisa memantau pergerakan istri baru nya tersebut.
Begitu pun di setiap sudut ruangan lain nya. Ia juga memasang cctv, agar bisa melihat kegiatan apa saja yang di lakukan Claudia selama berada di rumah nya.
"Claudia... Claudia... Kau memang benar-benar gadis yang aneh," gumam Hermawan sembari tersenyum.
Sedang asyik memandangi tingkah istri nya dari layar laptop, tiba-tiba Hermawan di kejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar ruangan nya.
Tok tok tok...
"Masuk," ujar Hermawan lalu menutup laptop, dan kembali memasang wajah datar.
Ceklek...
__ADS_1
Setelah pintu terbuka, seorang pria yang hampir seumuran dengan nya pun datang mendekat.
"Her, ada yang ingin bertemu dengan mu," ucap Jeky sahabat sekaligus sekretaris pribadi nya.
Visual : Jeky Prasetyo
Usia : 42 tahun
Pekerjaan : Sekretaris pribadi Hermawan
"Siapa?" tanya Hermawan dengan kening mengkerut.
"Nadia," jawab Jeky lalu mendudukkan diri di sofa yang berada di sudut ruangan.
Mendengar jawaban Jeky, Hermawan pun langsung memutar bola mata malas. Ia tampak tidak suka dengan kehadiran mantan pacar nya tersebut.
"Untuk apa lagi dia datang kesini?" tanya Hermawan lalu bangkit dari kursi dan duduk di sebelah Jeky.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Jeky menjawab sambil mengendikkan bahu.
Suasana hening sejenak. Hermawan dan Jeky larut dalam pikiran dan lamunan masing-masing. Beberapa menit kemudian, Jeky pun kembali bersuara.
"Bagaimana? Apakah kau mau menemui nya?" tanya Jeky.
"Tidak, suruh saja dia pergi dari sini. Dan jangan lupa, bilang sama security kalau wanita gila itu datang lagi kesini, usir saja. Aku sudah tidak sudi bertemu dengan nya lagi, paham!" tegas Hermawan.
"Ya ya ya, baik lah. Aku akan mengatakan nya kepada security," ucap Jeky lalu beranjak dari sofa dan melangkah keluar ruangan.
Hermawan menghela nafas panjang sambil terus menatap kepergian Jeky. Ia menyandarkan punggung ke bahu sofa dan mendongakkan kepala. Hermawan kembali mengingat tingkah konyol Claudia, sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Claudia... Aku mencintaimu," gumam Hermawan dengan mata terpejam.
Sedang asyik-asyiknya mengkhayal, tiba-tiba...
Braaakkk...
Pintu ruangan Hermawan terbuka dengan kuat, hingga menimbulkan bunyi yang cukup memekakkan telinga. Dan itu berhasil membuat Hermawan terkejut, dan tersentak dari lamunannya.
"MAU APA LAGI KAU KESINI, HAH?" bentak Hermawan dengan suara menggelegar.
__ADS_1
๐บ Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman, jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya, tengkyu ๐๐ ๐บ