Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 33 ~ Kedatangan Nadia


__ADS_3

Melihat keterkejutan Claudia, Roy pun langsung tertawa terbahak-bahak. Ia merasa sangat lucu melihat wajah putri semata wayangnya.


"Hahahaha, gak ada maksud apa-apa kok, sayang. Bapak hanya bercanda saja tadi," oceh Roy.


"Owh, kirain..." balas Claudia lega lalu mengalihkan pandangannya kepada Hermawan.


"Om, ayo kita pulang!" seru Claudia.


"Oke, sayang." Hermawan mengangguk lalu menoleh ke arah Roy.


"Kami pulang dulu ya, Roy. Besok-besok kami kesini lagi," ucap Hermawan berpamitan pada Roy.


"Bapak mertua, Her. Ingat itu!" balas Roy dengan penuh peringatan.


"Iya iya, aku ingat kok. Berisik banget sih!" gerutu Hermawan ketus. Roy hanya tersenyum miring melihat wajah masam menantu nya.


"Ayo kita keluar, sayang!" ajak Hermawan kepada Claudia.


"Ya, Om."


Claudia mengangguk dan berjalan beriringan dengan Hermawan menuju pintu utama. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan memasang sealbeat ke tubuh masing-masing.


Sedangkan Roy, ia mengikuti langkah anak dan menantunya dari belakang, lalu berdiri di depan teras sambil melambaikan tangan nya.


"Kalian hati-hati di jalan ya!" ucap Roy.


"Iya, Pak. Kami pulang dulu ya, Pak. Assalamualaikum," jawab Claudia membalas lambaian tangan orang tua tunggal nya.


"Ya, sayang. Wa'laikum salam," balas Roy.


Selesai menjawab salam anak nya, Roy pun kembali menoleh ke arah Hermawan.


"Jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya, Her. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan putri kesayangan ku," tegas Roy.


"Iyaaa, bapak mertua ku yang baweeel!" cibir Hermawan masih dengan ketus nya.


Selesai berpamitan, Hermawan pun mulai menyalakan mesin mobil nya dan melajukan kendaraan roda empat nya itu menuju ke kediaman nya.


Roy memandangi kepergian mereka dengan tatapan nanar. Ia tampak terharu sekaligus bahagia, melihat kehidupan putri kesayangan nya yang tidak kekurangan sesuatu apapun bersama Hermawan.


"Semoga kebahagiaan selalu menyertai mu, nak. Amin amin ya rabbal a'lamin," gumam Roy.


Setelah bayangan mobil Hermawan hilang dari pandangan, Roy pun kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Hermawan pun menghentikan mobil nya tepat di depan rumah mewah nya.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," ucap syukur Claudia sembari melepas sealbeat dari tubuh nya.


Hermawan hanya tersenyum mendengar ucapan Claudia, lalu mengajak nya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ayo, kita masuk, sayang!" seru Hermawan lalu melangkah keluar dari mobil hitam nya.

__ADS_1


"Oke, Om."


Claudia dan Hermawan berjalan menuju pintu sambil bergandengan tangan. Saat hendak memegang handle pintu, tiba-tiba mereka berdua di kejutkan dengan suara pekikan seorang wanita.


"HERMAWAN, TUNGGU...!" teriak Nadia sembari keluar dari dalam mobil putih nya.


"Hah, Nadia?" gumam Hermawan dengan mata membulat sempurna.


Begitu pun dengan Claudia. Ia juga tak kalah terkejutnya dengan Hermawan. Claudia langsung terpaku dengan mata terbelalak dan mulut menganga.


"Loh, dia itu kan..." Claudia menjeda kata-kata nya.


"Ya, dia wanita yang ada di restoran waktu itu," sahut Hermawan membenarkan dugaan istri nya.


"Ma-mau apa dia kesini, Om?" tanya Claudia tergagap.


"Entah lah, Om juga gak tau." Hermawan menjawab sembari mengendikkan bahu nya.


Melihat Nadia yang semakin mendekat, Hermawan pun menoleh kepada Claudia lalu menyuruh nya untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Kamu masuk ke dalam dulu ya, sayang. Biar Om saja yang akan mengurus perempuan gila satu ini," titah Hermawan.


"Ba-baik, Om."


Claudia langsung menurut dan bergegas masuk ke dalam rumah. Karena penasaran, akhirnya ia pun memutuskan untuk berdiri di samping jendela kaca, lalu mengintip dari balik tirai.


"Ada perlu apa kau datang kesini, hah?" tanya Hermawan dengan nada lantang, sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana nya.


Dengan sigap Hermawan pun langsung mundur beberapa langkah ke belakang, dan merentangkan satu tangan nya ke depan Nadia.


"Stop...! Jangan mendekat, kalau tidak jangan salahkan aku, jika aku akan berbuat kasar dengan ku!" ancam Hermawan dengan wajah geram.


Tawa Nadia pun langsung pecah seketika, saat mendengar ketegasan dari mantan kekasih nya.



"Hahahaha...! Hermawan... Hermawan... Kamu pikir aku akan percaya dengan ancaman receh mu itu, hah?" cibir Nadia.


Hermawan tidak menggubris perkataan Nadia. Ia melipat kedua tangan di atas perut, dan menajamkan tatapan nya kepada wanita dewasa yang ada di hadapannya.


"Aku yakin, kamu pasti tidak akan tega berbuat kasar dengan ku. Karena kamu masih sangat mencintai ku, ya kan?" lanjut Nadia dengan kepedean tingkat dewa.


Mendengar celotehan Nadia yang semakin ngelantur, Hermawan pun langsung tersenyum miring dan menjawab...


"Cih, pede sekali kamu, Nadia. Siapa juga yang masih mencintai mu, hah?" cibir Hermawan ketus.


"Ya kamu lah, sayang. Emang nya siapa lagi kalau bukan kamu?" jawab Nadia dengan suara manja.


"Hahahaha, jangan mimpi! Aku tidak akan sudi mencintai wanita penghianat seperti mu, ingat itu baik-baik!" tegas Hermawan.


Nadia mengepalkan kedua tangan nya. Ia tampak sangat emosi mendengar cibiran pedas dari bibir Hermawan. Wanita berambut ikal itu menatap tajam wajah Hermawan dengan mata elang nya.

__ADS_1


"Jangan munafik, Hermawan. Aku tau, kalau sebenarnya kau masih sangat mencintai ku. Ya kan, ngaku aja deh!" oceh Nadia sembari memiringkan bibir nya.


Tawa Hermawan kembali pecah. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran mantan kekasih nya tersebut.


Karena tidak ingin berlama-lama menghadapi kegilaan Nadia, Hermawan pun memutuskan untuk mengusir wanita dewasa itu dari kediaman nya.


"Lebih baik, kamu pergi dari sini sekarang juga. Atau kalau tidak, aku tidak akan segan-segan untuk menyeret mu dengan paksa," ancam Hermawan lagi.


Bukan nya merasa takut dengan wajah horor Hermawan, Nadia malah semakin berani dengan tingkah nya. Ia tersenyum manis lalu melangkah dengan perlahan mendekati Hermawan.


"Jangan galak-galak gitu dong, sayang! Apakah kau tidak merindukan kehangatan tubuh ku ini?" goda Nadia sembari tersenyum genit dan mengerlingkan mata nya.


Wanita seksi itu mengulurkan tangan untuk membelai pipi Hermawan. Ia semakin nekat dengan aksinya dan mulai mendekatkan wajah nya ke wajah Hermawan.


Hermawan semakin mengeratkan kepalan tangan nya. Ia tampak sangat murka dengan kelakuan Nadia yang semakin lama semakin menjadi-jadi.


Saat Nadia hendak menyatukan bibir nya dengan bibir Hermawan, lelaki tampan itu pun langsung reflek mendorong tubuh Nadia dengan kuat. Hingga membuat wanita cantik itu jatuh tersungkur ke lantai.


Gedebuk... Suara jatuh Nadia.


"Auw, sakiiiiit...!" pekik Nadia dengan suara melengking.


Ia meringis kesakitan sambil memegangi lutut dan kaki nya yang tampak memar, akibat terbentur dengan lantai keramik teras rumah Hermawan.


Claudia yang sedari tadi bersembunyi di balik tirai pun langsung tersenyum puas, saat melihat Nadia terjatuh dan kelesotan di atas lantai.


"Hahahaha, kapok! Siapa suruh kegatalan sama suami orang?" gelak Claudia dengan suara tertahan.


Bukan nya merasa kasihan melihat keadaan Nadia, Hermawan malah semakin kasar dengan perbuatannya. Ia berjongkok di depan Nadia lalu mencengkram erat dagu wanita itu.


"Jangan pernah mengganggu ketenangan ku, jika kau tidak ingin merasakan akibat nya, camkan itu baik-baik!" tegas Hermawan dengan penuh peringatan.


Setelah itu, Hermawan pun melepaskan cengkraman tangan nya dari dagu Nadia dengan sangat kasar, hingga membuat wajah wanita dewasa itu terlempar kuat ke samping.


Hermawan berdiri tegak di hadapan Nadia, dan kembali memberikan peringatan keras kepada mantan kekasih nya itu.


"Cepat angkat kaki dari sini! Kalau tidak, apa perlu aku panggil kan security untuk menyeret mu, HAH?" bentak Hermawan dengan wajah memerah akibat menahan amarah nya sendiri.


Glek...


Nadia menelan ludah dengan susah payah. Ia tampak ketakutan dengan kemarahan Hermawan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri," balas Nadia ketus lalu segera bangkit dari lantai.


Nadia menatap sinis ke arah Hermawan, lalu mengayunkan langkah nya menuju mobil dengan wajah kesal.


Setelah memasang sealbeat ke tubuh nya, Nadia pun langsung menjalankan kendaraan nya menuju jalan raya.


"Hufff, akhirnya pergi juga dia," gumam Hermawan bernafas lega.


🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya untuk mendukung karya Author ya 🌺

__ADS_1


__ADS_2