
Setelah beristirahat selama beberapa jam, Hermawan pun mulai terjaga dari tidur nya. Ia membuka mata perlahan lalu menoleh ke samping. Hermawan tersenyum menatap wajah teduh Claudia yang masih menutup mata nya.
"Cantik banget kalau sedang tidur seperti ini," batin Hermawan memuji paras cantik istri nya.
Tidak ingin mengganggu ketenangan Claudia, Hermawan pun mulai beranjak dari ranjang dengan perlahan dan sangat berhati-hati. Ia mengambil handuk yang tergantung di samping lemari pakaian, lalu menyampirkan nya ke bahu.
Hermawan melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia kembali berpakaian dan merapikan penampilan nya di depan cermin.
"Mau kemana, Om? Kok sudah rapi aja?" tanya Claudia dengan wajah bantal dan suara serak khas bangun tidur.
"Gak kemana-mana kok, sayang. Om hanya ingin menemani mu saja disini," jawab Hermawan lalu mendudukkan diri di tepi ranjang.
"Oh, kirain mau pergi tadi, hoamm!" balas Claudia sembari menguap lebar.
Dengan gerakan malas, Claudia pun mulai bangkit dari ranjang dan melangkah sempoyongan ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Hermawan, ia hanya tersenyum tipis melihat wajah kusut Claudia yang tampak menggemaskan menurut nya.
Lima belas menit kemudian, Claudia keluar dengan rambut basah dan handuk yang menutupi tubuh polos nya. Ia kembali berpakaian dan mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Setelah selesai, ia memoles sedikit wajah dan duduk di sebelah Hermawan.
"Bapak kemana, Om? Kok belum pulang-pulang juga dari tadi?" tanya Claudia heran.
"Entah lah, Om juga gak tau dia pergi kemana?" Hermawan menggeleng lalu menyalakan rokok.
Hermawan dan Claudia terdiam sejenak. Mereka berdua sibuk dengan pikiran dan isi kepala masing-masing. Beberapa menit kemudian, Claudia pun kembali bersuara.
"Jadi gimana, Om? Kita mau balek sekarang, atau nunggu bapak pulang dulu?" tanya Claudia.
"Terserah kamu, sayang. Om ngikut saja," jawab Hermawan lalu menghisap rokok yang ada di tangan nya.
"Loh, kok malah terserah aku sih! Emang nya Om gak ada kegiatan lagi di kantor?" tanya Claudia bingung.
"Gak ada, sayang." Hermawan kembali menggelengkan kepala dan tersenyum manis kepada Claudia.
"Oh, ya sudah kalau gitu."
Claudia membalas senyuman Hermawan, lalu menyandarkan kepala di bahu kekar suami nya. Melihat tingkah manja istri nya, Hermawan pun semakin melebarkan senyum nya, dan membelai rambut pirang Claudia dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Om, kira-kira dedek bayi kita kapan jadi nya ya? Aku sudah tidak sabar ingin menimang nya," ucap Claudia lirih sambil mengusap-usap dada bidang Hermawan dengan tangan nya.
"Sabar, sayang! Gak lama lagi pasti dedek bayi nya jadi kok, yang penting kita harus rajin-rajin membuat nya," balas Hermawan.
"Ooohhh, gitu." Claudia manggut-manggut mendengar penuturan Hermawan.
__ADS_1
Hening...
Mereka kembali terdiam dan larut dalam khayalan masing-masing. Claudia mulai mengangkat kepala nya, lalu menatap wajah tampan Hermawan dalam-dalam.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu melihat Om seperti itu?" tanya Hermawan dengan alis yang saling bertautan.
"Tidak ada apa-apa, Om. Aku hanya sedang ingin melihat Om saja," jawab Claudia sambil terus menatap manik mata Hermawan dengan mimik wajah serius.
"Jangan di lihatin terus dong, sayang! Entar lama-lama kamu kepincut pula dengan ketampanan Om ini, hahaha..." canda Hermawan sembari tergelak.
Mendengar candaan garing suami nya, Claudia pun langsung memutar bola mata malas dan menepuk pelan bahu Hermawan.
"Idiiiih, ge er banget sih!" cibir Claudia kesal lalu memalingkan wajah ke samping.
Tawa Hermawan semakin pecah melihat wajah masam Claudia. Ia tampak sangat bahagia, karena telah berhasil membuat Claudia semakin bertambah kesal dengan nya.
"Jangan ngambek gitu dong, sayang! Ntar cantik nya hilang loh, hahahaha!" goda Hermawan sembari menoel-noel dagu Claudia.
"Bodo amat," balas Claudia ketus, lalu segera bangkit dari duduk nya dan melangkah menuju pintu.
"Loh, kok malah pergi sih? Kamu beneran ngambek ya sama Om?" oceh Hermawan heran.
Ia mengikuti langkah Claudia sambil terus mengoceh. Wanita muda itu tidak menjawab. Ia terus melanjutkan langkah nya keluar dari kamar, lalu mendudukkan diri di kursi ruang tamu.
Claudia tidak memperdulikan tingkah nakal suami nya. Ia tetap bungkam sambil terus memasang wajah masam. Sedang asyik menggoda Claudia dengan kenakalan nya, tiba-tiba Hermawan terlonjak kaget ketika mendengar suara salam dari sang mertua.
Ceklek...
"Assalamualaikum," ucap Roy sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
"Wa-wa'laikum salam," jawab Hermawan dan Claudia serempak. Mereka berdua tampak sangat terkejut melihat kehadiran Roy yang secara tiba-tiba.
"Hadeehh, mengganggu kesenangan ku saja pun orang tua satu ini," gerutu Hermawan kesal. Ia menatap sinis ke arah Roy yang sudah berdiri tegak di depan nya.
"Bapak dari mana? Kok jam segini baru pulang?" selidik Claudia.
"Dari rumah teman kerja bapak, Clau. Tadi ada sedikit urusan disana," jawab Roy lalu menjatuhkan bokong nya di kursi kosong yang berada tepat di depan mereka.
"Oooohhh,"
Claudia manggut-manggut menanggapi jawaban bapak nya. Setelah itu, ia pun menoleh ke samping dan bertanya kepada suami nya.
"Gimana, Om? Mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Claudia.
"Sekarang aja, sayang. Om masih ingin bermanja-manja dengan mu," jawab Hermawan lalu mengecup dahi dan kedua pipi Claudia, tanpa menghiraukan tatapan tajam Roy kepada nya.
__ADS_1
"Ekhem, ekhem...!"
Roy mendehem dua kali, sambil terus memandangi gerak-gerik pasangan pengantin baru yang ada di depan nya. Ia merasa sedikit canggung dan risih dengan perbuatan nakal menantu nya.
"Ada apa, Roy? Tenggorokan mu gatel ya?" ledek Hermawan. Ia tersenyum miring sambil melirik ke arah Roy dengan ekor mata nya.
"Bukan tenggorokan ku yang gatel, tapi tingkah mu. Mata ku jadi risih lihat nya, tau gak?" oceh Roy ketus.
"Halah, alasan! Bilang saja kau iri dengan kemesraan kami, ya kan?" ledek Hermawan memiringkan bibir nya.
Hermawan semakin memanas-manasi Roy. Ia mengeratkan pelukannya ke tubuh Claudia, lalu menenggelamkan wajah nya di ceruk leher istri muda nya tersebut.
"Cih, ora sudi! Siapa juga yang iri dengan ku? Buang-buang energi saja," bantah Roy semakin kesal dengan tingkah nyeleneh menantu nya.
Claudia yang sedari tadi bungkam melihat perdebatan suami dan bapak kandung nya pun, mulai melepas kan diri dari pelukan Hermawan.
Ia merasa tidak enak hati dengan kelakukan genit suami nya, yang sudah di lakukan di depan bapak nya sendiri.
"Lepasin, Om! Malu di lihat bapak," ucap Claudia pelan.
"Kenapa mesti malu? Kita kan sudah sah menjadi suami istri, jadi tidak ada yang perlu di..."
Belum sempat Hermawan melanjutkan kata-katanya, Claudia pun langsung memotong nya dengan cepat.
"Ssssttt, udah gak usah pake acara protes segala. Ayo, kita pulang sekarang! Takut nya nanti kemalaman di jalan," omel Claudia.
"Oke, sayang." Hermawan tersenyum lebar lalu berdiri dari tempat duduk nya.
Begitu pula dengan Claudia, ia juga berdiri dari kursi dan berpamitan kepada Roy. Claudia mencium punggung tangan bapak nya dengan takzim, dan memeluk tubuh orang tua tunggal nya itu dengan sangat erat.
"Kami pulang dulu ya, Pak. Lain waktu kami akan datang lagi," pamit Claudia.
"Iya, sayang. Kamu jaga diri baik-baik ya disana! Kalau Hermawan berani macam-macam, bilang saja sama bapak. Biar bapak yang akan menghajar nya," ucap Roy sambil membelai lembut rambut pirang Claudia.
"Iya, Pak." Claudia mengangguk lalu melepaskan pelukan nya di tubuh Roy.
Mendengar penuturan Roy, Hermawan pun langsung membelalakkan mata nya lebar-lebar. Ia tampak tidak terima dengan perkataan aneh mertua nya barusan.
"Heh, Pak tua! Jangan sembarangan kalau ngomong. Siapa juga yang akan macam-macam dengan istri sendiri, hah? Aneh-aneh saja kamu itu," gerutu Hermawan.
"Hehehehe, siapa tau aja penyakit lama mu kumat lagi," jawab Roy asal.
"HAH, penyakit lama? Maksud nya?" pekik Claudia terkejut dengan mata membulat.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya ya 🌺
__ADS_1