
"Bukan gak laku, tapi belum ada jodoh," sahut Jeky meluruskan.
"Sama saja lah itu. Apa jangan-jangan, jodoh mu masih di dalam kandungan ibu nya ya? Wkwkwkwk..." canda Arman tertawa terbahak-bahak.
"Hush, ngawur aja kalo ngomong! Keburu tua lah aku, kalau di suruh nungguin jodoh yang masih di dalam perut ibu nya," gerutu Jeky.
Tawa Arman kembali pecah mendengar gerutuan Jeky.
"Hahahaha, dasar bujang lapuk gak tau diri! Gak nyadar juga dia rupanya. Asal kau tau ya sahabat ku yang paling baik sedunia. Kau itu sudah tua, sudah bau tanah. Jadi, terima saja nasib malang itu dengan ikhlas dan lapang dada, hahahaha..." ledek Arman lagi.
Arman tidak bosan-bosannya meledek dan mentertawai Jeky, dari sambungan ponsel nya.
"Heh, kamvret! Jangan asal njeplak kalau ngomong! Siapa juga yang sudah bau tanah? Aku ini masih muda, masih segar, dan masih perjaka asli. Belum tersentuh oleh wanita mana pun. Bukan seperti kau yang sudah kotor dan hobi celup sana-sini," omel Jeky kesal.
Ia tersenyum miring sambil terus menempelkan ponsel itu ke telinga kanan nya.
Jeky si pria brewok
"Ya ya ya, ngalah aja lah. Dari pada gak dapat duit nanti, hihihihi..." balas Arman cekikikan.
"Naaah... Tu tau," balas Jeky.
"Hmmmm, ya lah. Jadi gimana? Apa yang harus aku kerjakan?" tanya Arman mengalihkan pembicaraan.
"Kau ajak dua orang teman mu untuk menjaga rumah bos Hermawan. Soal bayaran, kita akan bicarakan nanti," jawab Jeky.
"APA? MENJAGA RUMAH?" teriak Arman dengan suara melengking, hingga membuat telinga Jeky sedikit berdengung mendengar nya.
"Woy, setan! Kira-kira dong kalo ngomong. Udah kayak di hutan aja lu, pake teriak-teriak segala," umpat Jeky asal.
"Hehehehe... Sorry bro, gua kagak sengaja. Lagian bos mu aneh-aneh saja sih. Di kira aku ini satpam apa, harus menjaga rumah nya segala? Kayak gak ada kerjaan lain saja," gerutu Arman tak mau kalah.
"Udah ah, gak usah banyak bacot! Sekarang langsung to do point saja, kamu mau menerima pekerjaan ini atau tidak?" tanya Jeky.
"Hmmmm... Gimana ya...? Sebenarnya sih aku mau-mau saja. Tapi..." Arman menjeda kata-kata nya.
"Udah, gak usah pake tapi-tapian lagi! Besok pagi kau harus datang ke rumah bos Hermawan. Nanti aku kirim kan alamat nya, oke!" ujar Jeky.
"Ya, baik lah." Arman hanya bisa pasrah dan menuruti perintah Jeky.
"Ya sudah kalo gitu, aku tutup dulu ya! Sampai ketemu besok, bye." Jeky menutup panggilan sepihak.
"Oke, bye!" balas Arman.
"Hufff, akhirnya selesai juga urusan nya," gumam Jeky menghela nafas panjang.
__ADS_1
Setelah panggilan berakhir, Jeky menyimpan ponsel nya kembali ke dalam saku celana. Kemudian, ia pun kembali membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda.
🌺 Kembali ke kediaman Hermawan 🌺
Setelah memarkirkan mobil di dalam bagasi, Hermawan bergegas masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa. Ia terus mengayunkan langkah lebar nya menuju kamar yang berada di lantai atas.
Saat membuka pintu, mata Hermawan langsung membulat sempurna, ketika melihat Claudia yang sedang tertidur pulas di atas ranjang, hanya dengan menggunakan daster transparan berwarna ungu. Ia berjalan mengendap-endap sambil menelan ludah dengan kasar.
"Waaahh, cantik sekali istri kecil ku ini. Bikin dedek ku bangun saja di buat nya," gumam Hermawan pelan.
Ia menatap kagum atas kecantikan Claudia, lalu mendudukkan diri di sebelah tubuh istri nya. Hermawan mengulurkan tangan untuk merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Claudia, kemudian mengecup bibir nya.
Merasa ada pergerakan, Claudia pun mulai terjaga dari mimpi indah nya. Ia membuka mata perlahan, dan memandangi wajah Hermawan dengan sedikit buram.
"Loh, kok sudah pulang, Om? Emang nya sekarang sudah jam berapa sih?" tanya Claudia sambil menatap ke arah jam dinding yang tergantung di dinding.
"Sudah jam 11:30, sayang."
Hermawan merebahkan diri di samping Claudia, lalu membawa tubuh wanita muda itu ke dalam dekapan nya. Hermawan membelai rambut pirang Claudia sambil sesekali mengecup dahi nya.
Mendapat perlakuan hangat dari Hermawan, Claudia pun langsung tersenyum, kemudian menenggelamkan wajah cantik nya di dada bidang lelaki setengah baya itu.
"Sayang, Om boleh minta ini gak?" tanya Hermawan sambil menempelkan telapak tangan di area pribadi Claudia.
"Boleh, tapi nanti ya selesai makan siang," jawab Claudia.
Hermawan tersenyum tipis, lalu melepaskan pelukan nya. Ia segera bangkit dari ranjang dan membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh nya.
"Lololoh, kan sudah aku bilang main nya nanti, kenapa baju nya di buka sekarang?" tanya Claudia bingung.
"Badan Om gerah, sayang. Om mau mandi dulu sebentar. Siap tu, baru kita makan," jelas Hermawan.
"Oooohhh, kirain mau itu, hehehehe..." balas Claudia cengar-cengir salah tingkah.
"Huuuuu, ngeres aja otak nya!" ledek Hermawan lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dengan handuk yang tersampir di pundak.
Sambil menunggu Hermawan selesai mandi, Claudia pun mulai turun dari ranjang, lalu berjalan ke arah lemari pakaian. Ia mengambil baju kaos hitam dan celana jeans pendek, laku memakai nya.
Setelah itu, ia merapikan rambut dan memoles sedikit wajah, agar terlihat lebih fresh dan segar.
"Oke, selesai."
Claudia tersenyum sambil terus memandangi wajah dan penampilan nya, dari pantulan cermin meja rias.
Tak lama kemudian, Hermawan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang melilit di pinggang. Ia memakai pakaian santai dan menyisir rambut di depan cermin. Setelah itu, ia mengajak Claudia untuk turun ke lantai bawah.
__ADS_1
"Ayo kita turun, sayang!" seru Hermawan lalu menggandeng tangan Claudia.
"Yok...!" balas Claudia mengangguk.
Mereka berdua keluar dari kamar, lalu berjalan beriringan menuju meja makan yang berada di lantai dasar.
Sampai di tempat tujuan, Hermawan dan Claudia duduk bersebelahan di atas kursi, lalu mulai menyendokkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring masing-masing.
"MBOOOK... Sini, kita makan bareng-bareng!" teriak Claudia.
Mbok Saripah yang sedang mencuci alat-alat dapur pun langsung menoleh, dan menghentikan pekerjaan nya. Ia tergopoh-gopoh menghampiri sang majikan, lalu berkata...
"Maaf, Non. Bukan nya si mbok gak mau. Tapi... Si mbok lagi puasa Sunnah senin kamis," tutur mbok Saripah.
"Ooohhh, maaf ya, mbok. Aku gak tau kalau mbok lagi puasa Sunnah," balas Claudia merasa tidak enak hati.
Sementara Hermawan, ia hanya diam sambil mendengar kan percakapan dua wanita beda usia yang ada di depan nya.
"Iya, gak papa kok, Non. Ya sudah, si mbok balik ke dapur lagi ya. Mau lanjut nyuci piring," pamit mbok Saripah lalu melangkah pergi menuju dapur.
"Oke, mbok." Claudia mengangguk lalu mengalihkan perhatian nya kepada Hermawan.
"Ayo di makan, Om! Mumpung masih anget," seru Claudia.
"Ya," balas Hermawan singkat.
Mereka berdua mulai menyantap makanan masing-masing dengan santai dan hening, tanpa perbincangan apa pun.
Setelah acara makan siang selesai, Hermawan langsung beranjak dari kursi. Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu mendudukkan bokong nya di atas sofa. Lelaki itu menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan.
Sedangkan Claudia, ia membantu mbok Saripah untuk membersihkan meja, dan menyimpan sisa makanan itu ke dalam lemari makan. Saat hendak mencuci piring dan gelas yang baru saja ia gunakan, mbok Saripah pun langsung melarang nya.
"Sudah, Non. Biar si mbok saja yang mengerjakan nya. Non pergi saja kesana, temani Pak Hermawan!" ujar mbok Saripah sambil menunjuk ke arah Hermawan dengan dagu nya.
"Tapi, mbok..."
Belum sempat Claudia melanjutkan kata-katanya, mbok Saripah pun langsung memotong nya dengan cepat.
"Sudah, tidak ada tapi-tapian lagi. Ayo, pergi lah, Non! Pak Hermawan sudah menunggu tuh," lanjut mbok Saripah.
"Hmmmm, ya udah deh. Aku kesana dulu ya, mbok!" pamit Claudia lalu melangkah pergi menghampiri suami nya.
"Oke, Non."
Mbok Saripah mengangguk, lalu melanjutkan aktivitas nya kembali.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya untuk mendukung karya tulis Author ya 🌺
__ADS_1