
Claudia cengar-cengir salah tingkah. Ia merasa kikuk dan tidak enak hati, karena sudah berpikiran jelek terhadap Hermawan.
Setelah perdebatan sengit selesai, Hermawan melangkah menuju lemari pakaian, dan mengambil setelan jas nya. Tanpa rasa malu atau pun canggung, Hermawan memakai pakaian nya di depan Claudia dengan santai.
"Kamu di rumah saja ya, jangan kemana-mana. Takut nya terjadi apa-apa dengan mu. Soal nya di kawasan ini banyak penculik berkeliaran. Aku tidak ingin kamu menjadi salah satu korban nya, paham!" tutur Hermawan sambil memasang dasi di depan cermin.
Hermawan memberi peringatan keras kepada Claudia, agar tidak sembarangan keluar dari kediaman nya. Ia takut, kalau saingan bisnis nya akan berbuat yang tidak-tidak kepada istri baru nya tersebut.
"Ya Om, aku paham. Om tenang saja, aku nggak akan kemana-mana kok, suwer ✌️," jawab Claudia mengangguk.
"Oke, Om percaya dengan mu," balas Hermawan masih dengan mode dingin nya.
Selesai berpakaian dan merapikan penampilan nya, Hermawan pun mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja rias, lalu melangkah melewati Claudia begitu saja.
Ketika melihat suaminya hendak memegang handle pintu, Claudia yang sedari tadi plonga-plongo pun kembali bersuara...
"Mau kemana, Om?" tanya Claudia penasaran.
"Ke kantor," jawab Hermawan tanpa menoleh kepada lawan bicara nya.
"Ooohhh, ya udah. Hati-hati di jalan ya, Om. Jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya. Pelan-pelan saja asalkan selamat sampai tujuan," oceh Claudia mewanti-wanti suaminya.
"Ya, terima kasih atas perhatian nya," balas Hermawan lalu melangkah keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.
Ia menuruni anak tangga dan terus mengayunkan langkah nya sampai keluar rumah. Setelah menutup pintu, Hermawan langsung masuk ke dalam mobil, dan menjalankan kendaraan roda empat nya itu dengan kecepatan tinggi.
Sementara Claudia, ia kembali terbengong melihat kepergian suami dingin nya.
"Huuuuu, dasar beruang kutub nggak ada akhlak! Masa main pergi gitu aja sih? Nggak sopan banget."
"Seharusnya nya kan sebagai suami yang baik itu, kayak yang ada di film-film ikan terbang itu. Kalau mau pergi kerja harus peluk dulu. Cipika cipiki dulu, trus cium tangan dulu. Bukan main kabur gitu aja," omel Claudia panjang lebar.
Ia merutuki sikap dingin Hermawan yang tidak peka terhadap diri nya. Selama ini, Claudia selalu membayangkan rumah tangga yang harmonis, dengan orang yang benar-benar mencintai nya.
Namun, harapan lain dengan kenyataan. Ia malah terjebak dengan pernikahan yang sama sekali tidak sesuai, dengan keinginan nya selama ini.
"Oalah, nasib... nasib... Punya suami kok gini amat yak! Apes banget hidup ku," gerutu Claudia kembali merutuki nasib malang nya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat merenung nasib badan, Claudia pun mulai melangkah ke arah koper yang masih teronggok di samping lemari pakaian.
Ia membuka koper itu, lalu menyusun pakaian nya ke dalam lemari. Setelah selesai, ia pun mengganti pakaian nya dengan daster rumahan, lalu kembali duduk di pinggir ranjang.
"Hmmmm, enak nya ngapain ya? Bosan di kamar terus," gumam Claudia bingung.
"Ah, bantuin si mbok di dapur aja lah," lanjut nya.
Claudia keluar dari kamar dan berjalan ke lantai dasar dengan santai. Sampai di dapur, ia duduk di meja makan sambil memperhatikan gerak-gerik mbok Saripah, yang sedang sibuk memasak menu makan malam.
Penampakan dapur
"Ada yang bisa aku bantu nggak, mbok?" tanya Claudia.
Mbok Saripah langsung terkejut, karena mendengar suara Claudia yang secara tiba-tiba di belakang nya.
"Astaga, kaget saya, Non!" Mbok Saripah menoleh lalu mengelus dada.
"Hehehehe, maaf. Saya nggak sengaja, mbok," ucap Claudia sembari nyengir kuda.
"Hmmmm, mbok. Saya boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Claudia ragu.
"Ya pasti boleh dong, Non. Emang mau tanya soal apa?" ucap mbok Saripah.
"Hmmmm, soal... soal Om Hermawan, mbok." Claudia beranjak dari kursi dan mendekati mbok Saripah.
"Ohhh, pak Hermawan. Emang ada apa dengan nya, Non?" tanya mbok Saripah penasaran.
"Ya... ya nggak ada apa-apa sih, mbok. Saya cuma penasaran saja dengan keseharian nya. Apa selama ini sikap Om Hermawan memang seperti itu ya, mbok?" selidik Claudia.
Mbok Saripah menautkan kedua alis. Ia sama sekali tidak mengerti akan maksud perkataan Claudia.
"Seperti itu? Maksud nya gimana sih, Non? Mbok nggak ngerti," cecar mbok Saripah dengan wajah bingung.
"Maksud saya sikap dingin nya itu loh, mbok. Apa memang sudah bawaan dari orok, atau karena ada masalah lain?" jelas Claudia.
"Ooohhh, itu toh."
__ADS_1
Mbok Saripah manggut-manggut menanggapi celotehan Claudia. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Mbok Saripah kembali mengingat kejadian 30 tahun silam, ketika tragedi yang sangat mengerikan menimpa kedua majikan nya.
"Pak Hermawan berubah dingin seperti itu, sejak kedua orang tua nya meninggal, Non. Sekitar 30 tahun yang lalu, kedua orang tua nya meninggal saat di perjalanan menuju kantor."
Mbok Saripah mulai menceritakan kejadian naas itu kepada Claudia.
"Loh, kok bisa, mbok? Emang mereka ada penyakit apa? Kok bisa barengan gitu meninggal nya?" tanya Claudia semakin penasaran.
"Bukan karena penyakit, Non. Tapi karena kecelakaan. Ada yang sengaja ingin melenyapkan nyawa mereka berdua," jelas mbok Saripah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"HAH, serius, mbok?" pekik Claudia terkejut dengan mata membulat.
"Iya, Non." Mbok Saripah mengangguk mengiyakan ucapan Claudia.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un... Ya Allah, kok ada ya manusia sekejam itu?" gumam Claudia tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi, pada kedua orang tua Hermawan.
"Ya begitulah kenyataan nya, Non. Saya juga sempat syok mendengar kabar duka itu," tutur mbok Saripah sambil menyeka air mata nya yang mulai menetes.
Claudia merangkul pundak mbok Saripah. Ia juga turut prihatin atas kejadian tersebut. Setelah beberapa saat larut dalam kesedihan, Claudia pun kembali melontarkan pertanyaan nya.
"Trus, gimana dengan nasib Om Hermawan, mbok?" tanya Claudia pelan.
Claudia mengusap-usap bahu mbok Saripah. Ia seolah-olah sedang memberikan semangat kepada wanita tua tersebut.
"Waktu itu, pak Hermawan baru berusia 19 tahun. Dia sangat syok dan terpukul atas kepergian tuan dan nyonya. Bahkan, bukan itu saja. Dia juga sempat depresi, dan mengurung diri di kamar sampai berhari-hari," lanjut mbok Saripah.
"Ya Allah, kasihan nya..." gumam Claudia lirih.
Mbok Saripah kembali terdiam. Ia mengusap air mata nya yang semakin lama semakin mengalir deras.
Begitu pun dengan Claudia, ia juga ikut meneteskan air mata, mendengar kenyataan pahit yang sudah di alami suami dingin nya.
"Trus, gimana kabar orang yang sudah melenyapkan nyawa kedua orang tua Om Hermawan, mbok? Apakah mereka sudah mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatannya?" tanya Claudia.
"Tidak, Non. Mereka tidak mendapatkan hukuman apa pun," jawab mbok Saripah.
"Loh, kok bisa gitu? Masa sudah melenyapkan nyawa orang lain, tidak di hukum sih?" tanya Claudia sedikit terkejut, setelah mendengar jawaban mbok Saripah yang tidak masuk akal menurut nya.
__ADS_1
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman, jangan lupa tinggalkan jejak sesudah membaca ya 🌺