Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 51 ~ Membalas


__ADS_3

Sementara itu di tempat yang berbeda, Hermawan terus saja merasa gelisah dengan keadaan istri tercinta nya.


Kring kring kring...


Hermawan sedikit tersentak saat mendengar deringan ponsel yang memekik kuat dari dalam saku celana nya. Tanpa pikir panjang lagi, lelaki tampan itu pun langsung mengambil ponsel nya lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan nya.


"Halo, ada apa, Jek?" tanya Hermawan dengan nada dingin.


"Aku sudah berhasil menangkap kedua kecoa ini, Bos."


"Oke, bawa mereka ke markas! Aku akan segera meluncur kesana," titah Hermawan kepada sekretaris sekaligus sahabat baik nya tersebut.


"Siap laksanakan, Bos!" balas Jeky lalu menutup panggilan nya.


Setelah menerima laporan dari Jeky, Hermawan pun langsung beranjak dari kursi besi yang sedari tadi ia duduki, lalu bergegas melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah lebar dan sedikit tergesa-gesa.


Sesampainya di halaman parkir rumah sakit, Hermawan pun langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin kendaraan nya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, lelaki tampan itu pun langsung tancap gas menuju lokasi yang sudah ia tetapkan kepada Jeky.


"Bagaimana, Jek? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arman penasaran sambil terus mengarahkan senjata api nya kepada Nadia.


"Bos Hermawan menyuruh kita untuk segera membawa mereka ke markas," jawab Jeky sembari menyimpan ponsel nya kembali ke dalam saku celana nya.


"Oh, oke." Arman mengangguk lalu menyuruh Nadia untuk segera masuk ke dalam mobil milik nya.


"Heh, perempuan gila. Ayo, buruan masuk! Atau aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkan nyawa mu sekarang juga," ancam Arman dengan nada tegas dan sorot mata tajam.


Nadia yang sedari tadi sibuk dengan pikiran nya pun, langsung tersentak kaget mendengar ancaman Arman yang terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapan nya.


Karena tidak ingin memperpanjang masalah, akhirnya wanita seksi itu pun langsung menurut dan berjalan masuk ke dalam mobil, tanpa ada nya perlawanan sedikit pun.


Sedangkan Marcho, ia juga tak kalah panik seperti Nadia. Keringat dingin yang sedari tadi membasahi dahi nya, kini semakin mengucur deras dan di tambah lagi dengan jantung yang dag-dig-dug tidak karuan.

__ADS_1


Melihat ketakutan Marcho yang semakin menjadi-jadi, Jeky pun hanya tersenyum miring lalu berkata...


"Kenapa wajah mu bisa basah kuyup seperti itu? Apakah ada hujan lokal yang sedang mengguyur mu?" ledek Jeky sembari melipat kedua tangan di atas perut.


Mendengar ucapan Jeky, Marcho pun langsung menoleh dan memasang wajah masam. Ia segera mengusap keringat yang ada di dahi dan wajah nya dengan punggung tangan nya sendiri. Setelah itu, ia pun memberanikan diri untuk menjawab perkataan Jeky.


"Tidak usah meledek ku seperti itu, laki-laki bodoh. Aku pastikan kalau kau akan menyesal karena sudah berani memperlakukan ku seperti ini, ingat itu!" ucap Marcho dengan rahang mengeras dan mengepalkan kedua tangan nya.


Bukan nya merasa takut atau pun gentar, Jeky malah tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan lelaki bule yang ada di depan nya.


"Hahahaha...! Marcho... Marcho... Kau kira aku akan takut dengan ancaman receh mu itu, hah? Cuih, jangan harap! Seujung kuku pun aku tidak akan pernah takut dengan kecoa kecil seperti mu itu, hahahaha..." balas Jeky dengan sombong nya.


Lelaki brewok itu terus saja meledek dan tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perut nya. Sementara Marcho, ia menelan ludah dengan kasar, sambil terus menatap wajah lelaki yang ada di hadapan nya.


Setelah puas mentertawai Marcho, Jeky pun langsung memboyong tubuh kekar musuh nya itu ke dalam mobil, sambil menodongkan senjata api ke arah nya.


"Ayo, cepetan masuk! Bos ku ingin bertemu dengan mu," titah Jeky dengan wajah serius.


Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Jeky pun langsung menginjak pedal gas dan segera melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi menuju markas.


Begitu pun dengan Arman, ia juga menjalankan mobil hitam nya dengan kecepatan penuh, sambil sesekali tersenyum jahat kepada Nadia yang sedari tadi masih setia duduk di sebelah nya.


Karena merasa di perhatikan, Nadia pun menoleh dan berkata...


"Jangan melirik ku seperti itu, karena kau bukan tipe ku. Dan jangan pernah berharap kalau aku mau menjalin hubungan dengan laki-laki miskin seperti mu, paham!" ucap Nadia dengan kepedean tingkah dewa.


Mendengar ucapan Nadia yang semakin ngelantur, tawa Arman pun langsung pecah seketika. Ia tertawa ngakak sambil terus memegang setir kemudi nya.


"Hahahaha... Dasar, perempuan aneh! Kau pikir aku akan semudah itu tergoda dengan wajah keriput mu itu, hah? Cih, ora sudi!" balas Arman tak mau kalah dan kembali menyunggingkan senyum jahat nya.


"Heh heh heh...! Sembarangan bilangin muka orang keriput. Apa jangan-jangan mata mu sudah katarak ya, sampai-sampai kau tidak bisa membedakan mana yang masih mulus dan mana yang sudah keriput?" ledek Nadia ketus.

__ADS_1


"Yupz, betul sekali. Mata ku mendadak katarak karena melihat muka mu yang jelek itu, hahahaha..." jawab Arman kembali mentertawai wanita cantik yang ada di sebelah nya.


Nadia yang semakin geram dan kesal dengan perkataan Arman pun mulai mengayunkan telapak tangan nya ke arah pipi lelaki itu.


Namun, sebelum tangan halus Nadia mendarat di pipi nya, Arman langsung menangkap pergelangan tangan Nadia, lalu menghempaskan nya dengan cukup kuat.


Hingga membuat si empunya tangan pun langsung memekik kesakitan, sambil memegangi pergelangan nya yang tampak sedikit memerah akibat perbuatan Arman.


"AUW, SAKIIIIIT...!" pekik Nadia sembari meringis kesakitan.


Bukan nya merasa kasihan, Arman malah semakin meledek Nadia dengan ocehan-ocehan nya.


"Sokor, siapa suruh kau berbuat nakal dengan ku? Sekarang, rasakan lah akibat nya, hahahaha..." ucap Arman kembali mentertawai wajah masam Nadia yang terlihat semakin aneh menurut nya.


Mendengar ucapan Arman yang semakin menjadi-jadi kepada nya, Nadia pun semakin bertambah kesal dan memalingkan wajah, sembari merutuki perbuatan lelaki yang ada di samping nya.


"Awas kau, laki-laki gila...! Lihat saja nnti, aku pasti akan membalas perbuatan mu ini," gumam Nadia dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus.


Arman hanya tersenyum miring mendengar gumaman Nadia yang terdengar begitu jelas di telinga nya. Ia sama sekali tidak berminat untuk terus meladeni ocehan wanita jahat dan licik seperti Nadia.


Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir satu jam, akhirnya Jeky pun menghentikan laju kendaraan nya tepat di depan sebuah rumah yang berada di tengah-tengah hutan, dan sangat jauh dari keramaian.


Begitu pula dengan Arman, ia juga menghentikan kendaraan roda empat nya tepat di sebelah mobil milik Jeky.


Glek...


Nadia menelan ludah kasar sambil mengedarkan pandangan nya dengan perasaan was-was.


"Tempat apa ini? Kenapa sepi sekali?" gumam Nadia mulai di hantui rasa takut, sambil terus memandangi keadaan yang ada di sekitar nya.


🌺 Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan favorit nya sesudah membaca ya bestie 🥰🥰 Terima kasih sudah mampir 🌺

__ADS_1


__ADS_2