Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 45 ~ Bocil Tua


__ADS_3

"Whaaaattt...? Minta lagi?" pekik Claudia terkejut.


"Iya, emang kenapa? Kamu gak mau ya?" tanya Hermawan balik.


"Bu-bukan nya gak mau, Om. Ta-tapi kan semalam sudah, kenapa sekarang minta lagi?" balas Claudia tergagap.


"Semalam itu kan jatah untuk malam, sayang. Naaahhh, kalau sekarang ya untuk jatah pagi. Trus nanti siang, ya untuk jatah siang. Dan begitu seterusnya, hehehehe..." jelas Hermawan cengar-cengir.


"APAAA...?" pekik Claudia dengan mata terbelalak lebar.


Ia semakin terkejut dengan perkataan Hermawan, yang semakin tidak masuk akal menurut nya.


"Ssstttt, jangan berisik dong, sayang! Entar kalau si tua bangka itu dengar, bisa gawat urusan nya," oceh Hermawan sembari menutup mulut Claudia dengan telapak tangan nya.


"Ups... Sorry, Om. Aku kebablasan, hehehe..." balas Claudia nyengir kuda.


"Ya udah, gak papa. Tapi lain kali jangan gitu lagi ya, malu tau!" ucap Hermawan mencubit manja hidung Claudia.


"Siap, bos!" balas Claudia sambil memberi hormat kepada Hermawan.


"Dasar, anak nakal!" umpat Hermawan.


Ia tersenyum manis, lalu mengacak-acak rambut pirang Claudia dengan gemas.


"Jadi gimana? Om boleh minta jatah lagi gak?" tanya Hermawan mengulang pertanyaan nya.


"Hmmmm, boleh-boleh aja sih. Tapi nanti ya, setelah selesai sarapan," jawab Claudia.


"Ooooh, gitu. Hmmmm, ya udah deh. Om nurut saja, dari pada tidak sama sekali," ucap Hermawan sedikit kecewa.


Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, Hermawan pun mulai melepaskan pelukan nya dari tubuh Claudia.


"Ya sudah, kamu lanjutin lagi nyuci piring nya! Om mau mandi dulu," ucap Hermawan lalu melangkah pergi menuju kamar.


"Oke, Om." Claudia tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arah suami nya.


Setelah kepergian Hermawan, Claudia pun melanjutkan tugas nya kembali. Setelah selesai, ia menyusun piring-piring dan alat-alat masak lain nya ke dalam rak, lalu lanjut membersihkan dapur.

__ADS_1


"Huh, capek nyaaaa..." gumam Claudia menghembuskan nafas kasar, dan mengusap keringat yang mulai bermunculan di dahi nya.


Claudia duduk di kursi meja makan. Sambil menunggu kedatangan Hermawan dan Roy, ia pun mengedarkan pandangan nya ke seluruh sudut ruangan dengan mata berembun.


Claudia kembali mengingat masa-masa indah sewaktu bersama almarhumah ibu nya dulu. Tanpa sadar, air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata nya pun mulai menetes membasahi kedua pipi nya.


"Bu, Claudia kangen, hiks hiks hiks..." gumam nya.


Claudia mulai menangis sesegukan, sambil memandangi bingkai foto keluarga kecil nya, yang menempel di dinding ruang tamu.


"Kamu kenapa, Clau? Kok mewek gitu? Apa jangan-jangan Hermawan sudah menyakiti mu?" cecar Roy yang tiba-tiba muncul di samping nya.


Claudia yang sedang hanyut dalam kesedihan nya pun langsung menoleh, dan reflek menghapus air mata dengan punggung tangan nya.


"Eh, bapak. Tidak kok, Pak. Om Hermawan tidak seperti yang bapak pikirkan," balas Claudia.


"Lah trus, kenapa kamu menangis seperti itu?" selidik Roy sembari menatap manik mata putri nya dalam-dalam.


"Clau hanya teringat dengan almarhumah ibu, Pak." Claudia menunduk dan kembali menangis.


Melihat kesedihan yang mendalam di raut wajah Claudia, Roy pun langsung mengulurkan kedua tangan nya, untuk memeluk tubuh mungil putri kesayangan nya.


"Baik, Pak." Claudia mengangguk menyetujui ucapan orang tua tunggal nya.


Suasana haru pun mulai menyelimuti hati kedua nya. Roy berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata nya, agar tidak tumpah di depan Claudia.


Ia tidak ingin menambah kesedihan anak semata wayang nya, karena melihat dirinya juga ikut menangisi mantan istri nya tersebut.


Sedang asyik menikmati kesedihan nya, tiba-tiba mereka berdua di kejutkan dengan kehadiran Hermawan.


"E e e e eh, lepasin! Jangan peluk-peluk sembarangan gitu dong, Roy. Dia itu istri ku, hanya aku yang boleh memeluk nya, paham!" tegas Hermawan sembari melepaskan pelukan Roy dari tubuh Claudia.


Roy menatap sinis kepada Hermawan, lalu mendudukkan bokong nya di kursi kosong yang berada di sebelah kanan Claudia. Dengan wajah masam, Roy pun mulai menjawab ucapan pedas Hermawan.


"Ck, kau ini apa-apaan sih, Her? Masa sama mertua sendiri pake acara cemburu segala sih? Benar-benar sudah gila nih orang!" umpat Roy.


Lelaki tua itu tampak sangat kesal dengan kelakuan menantu nya, yang semakin lama semakin aneh menurut nya.

__ADS_1


"Ya, aku memang sudah gila. Kenapa emang nya, hah?" tantang Hermawan ketus, lalu ikut mendudukkan bokong nya di sebelah kiri Claudia.


Kedua lelaki itu saling pandang-pandangan dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Mereka berdua seperti layak nya Tom and Jerry yang tidak pernah akur jika sudah bertemu muka.


Sementara Claudia, ia hanya tersenyum-senyum sendiri, melihat kedua lelaki tua yang ada di samping nya.



Ia melirik sekilas ke arah Hermawan, kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah Roy.


"Sudah sudah, kok malah jadi berantem sih? Sudah pada tua juga, tingkah nya masih saja kayak bocil, heran!" omel Claudia.


"Suami mu tuh yang kayak bocil. Masa bapak di cemburui juga? Kan aneh nama nya," bantah Roy.


Hermawan yang tidak terima dengan perkataan Roy pun, langsung mengoceh panjang lebar. Ia menajamkan tatapan nya, dan kembali berkata...


"Enak aja bilangin aku bocil. Kau tuh yang bocil, bukan aku!" balas Hermawan tak mau kalah.


"Heh heh heh, kalau ngomong itu yang sopan. Aku ini mertua mu. Jadi kau harus menghormati ku, seperti kau menghormati kedua orang tua mu, ngerti!" tegas Roy.


Hermawan mendengus kesal mendengar ucapan Roy yang benar ada nya. Karena tidak ingin memperpanjang masalah, akhirnya Hermawan pun mengalah, dan membiarkan mertua sekaligus sahabat nya itu memenangkan perdebatan pagi ini.


"Iyaaaa, aku ngerti kok. Ya sudah, tidak usah di bahas lagi. Ayo kita makan, perut ku sudah lapar nih!" ujar Hermawan menutup percakapan.


"Naaahhh, gitu dong. Itu baru nama nya menantu yang baik, hahahaha..." canda Roy sembari tertawa ngakak.


"Ya ya ya, terserah kau saja lah mau bilang apa?" balas Hermawan memutar bola mata malas mendengar ledekan mertua jahil nya.


Claudia hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah kocak kedua lelaki yang sangat berarti dalam hidup nya itu.


Setelah perdebatan sengit selesai, Claudia pun mulai menyendokkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring Hermawan dan Roy. Kemudian meletakkan nya di depan mereka.


"Ayo di makan, Om, Pak! Mumpung masih anget," ucap Claudia.


"Ya, sayang." Hermawan dan Roy tampak kompak menjawab seruan Claudia.


Setelah itu, mereka bertiga pun mulai menyantap makanan masing-masing, tanpa perbincangan apa pun lagi. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang saling bersahutan, memecah keheningan di antara mereka.

__ADS_1


🌺 Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya man teman 🌺


__ADS_2