Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 47~ Menyelidiki


__ADS_3

"CLAUDIAAAA...!"


Hermawan dan Roy bergegas menghampiri tubuh lemah Claudia yang sedang tergeletak di tengah jalan, dengan kepala yang bersimbah darah.


"Claudia bangun, nak! Buka mata mu, sayang! Jangan tinggalkan bapak sendirian seperti ini, nak!" ucap Roy sambil menepuk-nepuk pipi anak semata wayangnya yang sudah berada di atas pangkuan nya.


Roy berusaha menyadarkan Claudia dari pingsan nya. Ia terus menepuk-nepuk kedua pipi Claudia dan mengguncang-guncang tubuh nya.


Begitu pun dengan Hermawan. Ia juga tak kalah panik melihat keadaan istri kecil nya. Ia duduk kelesotan di samping tubuh Claudia dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang... Bangun, sayang! Tolong buka mata mu. Jangan tinggalkan Om sendirian, sayang. Please, buka mata mu!" ucap Hermawan.


Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata nya, kini berhasil lolos dan membasahi kedua pipi nya. Hermawan begitu sangat terpukul melihat ketidakberdayaan istri tercinta nya.


"Her, siap kan mobil mu! Kita bawa Claudia ke rumah sakit sekarang!" ujar Roy tanpa menoleh kepada lawan bicara nya.


Ia masih terus fokus memandangi wajah putri nya yang masih setia menutup mata nya. Mendengar perintah dari bapak mertua nya, Hermawan pun langsung berdiri dan menyiapkan kendaraan nya.


Roy dan Hermawan pun langsung membopong tubuh Claudia sampai ke dalam mobil, lalu tancap gas menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya di tujuan, Claudia pun langsung di bawa ke dalam ruang UGD oleh beberapa perawat dan dokter.


"Tolong selamat kan nyawa putri saya, Dok!" ucap Roy dengan lelehan air mata di kedua pipi nya.


"Iya, Pak. Bapak tenang saja ya, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan nyawa putri bapak," jawab sang Dokter laki-laki.


Ia memberi semangat kepada Roy sambil menepuk pelan bahu nya. Sedangkan Hermawan, ia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia hanya mematung di depan pintu ruang UGD sambil terus meneteskan air mata.


Setelah itu, sang Dokter pun kembali masuk ke dalam ruangan dan langsung melaksanakan tugas nya.


"Istri ku pasti akan selamat kan, Roy? Istri ku pasti akan sehat dan kembali ceria seperti semula," ucap Hermawan sambil terus memusatkan pandangan nya ke arah pintu yang ada di depan nya.


"Ya, dia pasti akan selamat, percaya lah!" jawab Roy sembari merangkul pundak menantu nya.


"Ayo kita duduk disana, Her!" seru Roy menunjuk ke arah kursi besi yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Hermawan tidak menyahut. Ia hanya mengikuti langkah Roy dan duduk di sebelah nya. Hermawan mengusap kasar wajah nya, sambil sesekali menghela nafas panjang. Ia tampak begitu frustasi dengan keadaan Claudia.


Sedangkan Roy, ia juga tak beda jauh dengan Hermawan. Roy juga sangat bersedih atas apa yang menimpa putri kesayangan nya.


Setelah beberapa saat saling berdiam diri, Hermawan pun mulai merogoh saku celana nya untuk mengambil ponsel. Setelah mendapatkan nya, ia pun langsung menghubungi Jeky, sekretaris sekaligus sahabat baik nya.


Tut tut tut...


"Halo, Jek. Kamu dimana sekarang?" tanya Hermawan.

__ADS_1


"Ya halo, Her. Aku lagi di kantor, emang nya ada apa?" tanya Jeky balik.


"Istri ku kecelakaan, Jek. Sekarang, aku dan mertua ku sedang berada di rumah sakit X," jawab Hermawan dengan suara parau.


"APAAA...? Kecelakaan...?" pekik Jeky dengan mata membulat.


Lelaki brewok itu tampak begitu terkejut, setelah mendengar kabar duka dari sahabat karib sekaligus bos nya tersebut.


"Iya, Jek. Dan seperti nya itu bukan kecelakaan biasa, tapi ada seseorang yang memang sengaja melakukan nya," ucap Hermawan menduga-duga.


Mendengar penuturan Hermawan, Jeky pun langsung manggut-manggut dan kembali berkata...


"Apa jangan-jangan, itu ulah Nadia?" tebak Jeky sepemikiran dengan isi kepala Hermawan.


"Bisa jadi, aku juga memikirkan hal yang sama dengan mu. Siapa lagi yang membenci istri ku, kalau bukan dia?" balas Hermawan membenarkan dugaan sahabat nya.


"Hmmmm, bener juga sih! Ya sudah, kamu tenang saja ya. Serahkan saja semua nya pada ku. Aku pasti akan menyelidiki masalah ini sampai ke akar-akarnya," ucap Jeky berusaha meyakinkan Hermawan.


"Oke, lakukan lah! Aku percaya kan semua nya pada mu," balas Hermawan menyetujui ucapan Jeky, lalu menutup panggilan nya.


"Oke, sip!" jawab Jeky mantap.


Setelah panggilan berakhir, Jeky pun langsung menghubungi Arman dan teman-teman nya. Ia meminta bantuan kepada mereka semua, untuk menyelidiki masalah yang sedang menimpa sahabat nya.


Tut tut tut...


"Di rumah, emang kenapa tanya-tanya, hah?" jawab Arman ketus.


"Jangan judes-judes kali jadi orang, entar gak laku loh!" ledek Jeky.


"Helehh, kayak yang ngomong udah laku aja!" balas Arman tak mau kalah.


"Hehehehe, iya juga sih." Jeky terkekeh mendengar cibiran Arman.


Arman yang sedang tiduran di atas sofa pun langsung memutar bola mata malas, saat mendengar ucapan Jeky.



"Udah, gak usah pake acara cengengesan segala. Cepat katakan, ada perlu apa kau menghubungi ku?" desak Arman.


"Oiya, hampir saja aku lupa." Jeky menepuk jidat nya sendiri.


"Huuuuu, dasar pikun!" cibir Arman.


"Jangan sembarangan kalo ngomong! Siapa juga yang pikun? Aku cuma lupa bukan pikun, ngerti!" tegas Jeky tidak terima dengan ucapan Arman.

__ADS_1


"Ya ya ya, terserah kau saja lah!" balas Arman.


Jeky hanya tersenyum miring mendengar suara Arman. Setelah itu, ia pun langsung mengutarakan niat nya untuk meminta bantuan Arman dan teman-teman nya.


"Jadi begini, Man. Bos Hermawan sedang terkena musibah. Istri nya baru saja mengalami kecelakaan..." jelas Jeky.


Belum sempat Jeky melanjutkan kata-katanya, Arman pun langsung memotong nya dengan cepat.


"Trus, apa hubungan nya dengan ku?" tanya Arman masih dengan nada ketus.


"Maka nya dengerin dulu dong! Jangan asal nyerobot aja. Kamu mau kan membantu ku untuk menyelidiki masalah ini. Soal nya ini bukan kecelakaan biasa, tapi ada unsur kesengajaan," jelas Jeky lagi.


"Oooohhh, gitu." Arman manggut-manggut mendengar ucapan Jeky.


Ia menatap langit-langit ruang tamu sambil memegangi dagu nya. Arman tampak sibuk memikirkan tawaran Jeky yang sudah pasti akan menguntungkan buat nya.


Hening...


Jeky dan Arman sama-sama terdiam dan larut dalam lamunan masing-masing. Setelah beberapa saat saling bungkam, Jeky pun kembali melontarkan pertanyaan nya.


"Jadi gimana, Man? Kamu mau tidak?" tanya Jeky memastikan.


Bukan nya menjawab, Arman malah balik bertanya.


"Emang nya kapan?" tanya Arman.


"Sekarang," jawab Jeky.


"Oke, aku mau. Tapi ingat, ini tidak cuma-cuma," tegas Arman mewanti-wanti.


Jeky yang langsung mengerti akan maksud perkataan Arman pun, langsung menjawab nya dengan santai.


"Iya iya, aku aku paham kok. Kamu tenang saja, aku pasti akan memberikan bonus untuk mu," ucap Jeky.


"Oke, god. Itu lah yang aku mau, hehehehe..." balas Arman girang.


"Ya sudah, kita ketemuan di jalan M ya. Aku tunggu disana," ujar Jeky lagi.


"Oke siap, bos! Aku otewe sekarang," balas Arman menutup panggilan sepihak.


Setelah panggilan terputus, Jeky pun langsung menenteng tas hitam, dan bergegas keluar dari ruangan kerja nya dengan langkah cepat.


Setibanya di parkiran, Jeky langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankan nya menuju tempat kejadian.


๐ŸŒบ Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya untuk mendukung karya tulis Author ya ๐Ÿ™๐Ÿ™ ๐ŸŒบ

__ADS_1


__ADS_2