
Hermawan dan Jeky keluar dari ruangan kerja, dan melangkah masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai dasar gedung pencakar langit tersebut.
Sampai di tempat parkir, mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil masing-masing, dan melajukan nya menuju kediaman Hermawan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir satu jam, Hermawan dan Jeky pun tiba di halaman rumah mewah bertingkat dua tersebut.
Kedua lelaki tampan itu segera keluar dari mobil, lalu berjalan beriringan menuju pintu utama.
Ting tong ting tong...
Hermawan memencet bel beberapa kali. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar dan nampak lah sesosok wanita cantik yang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Sudah pulang, Om?" tanya Claudia lalu mencium punggung tangan Hermawan, dan mengambil tas kerja dari tangan suami nya tersebut.
"Sudah," jawab Hermawan singkat.
Setelah itu, Hermawan pun beralih kepada Jeky yang sedari tadi terbengong menatap Claudia.
"Ayo masuk, Jek!" seru Hermawan lalu melangkah masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah.
Masih dengan wajah syok, Jeky pun hanya mengangguk dan mengekori langkah atasan nya dari belakang.
Ia tidak menyangka jika sahabat sekaligus atasan nya itu sudah menikah, dengan gadis yang usia nya terpaut jauh dengan nya.
Sampai di ruang tengah, Hermawan dan Jeky duduk berhadapan di atas sofa.
Penampakan ruang tengah
Setelah meletakkan tas kerja Hermawan ke dalam kamar, Claudia pun kembali turun ke lantai bawah, lalu membantu mbok Saripah untuk membuat kan minuman.
Setelah selesai, ia pun segera membawa minuman dan cemilan ringan itu ke ruang tengah dan menghidangkan nya di atas meja.
"Silahkan, om-om!" ucap Claudia mempersilahkan Hermawan dan Jeky, untuk menikmati hidangan yang sudah ia sediakan.
"Oke, terima kasih," jawab Hermawan masih dengan wajah datar seperti triplek.
Sementara itu, Jeky kembali plonga-plongo memandangi Claudia dengan tatapan menyelidik. Karena penasaran, akhirnya Jeky pun bertanya kepada Claudia.
"Apa benar kamu adalah istri Hermawan?" tanya Jeky.
"Ya benar, om. Saya istri om Hermawan," jawab Claudia mengangguk, lalu melirik ke arah Hermawan dengan ekor mata nya.
Melihat tatapan aneh Jeky pada Claudia, Hermawan pun langsung menoleh kepada istri kecil nya, lalu menyuruh nya untuk duduk di sebelah nya.
"Sini, sayang!" panggil Hermawan sambil menepuk-nepuk tempat kosong di samping nya.
Claudia yang langsung mengerti pun kembali mengangguk, dan duduk di samping suami nya.
__ADS_1
"Apakah kamu masih tidak percaya kalau aku sudah menikah, Jek?" tanya Hermawan kepada Jeky sambil merangkul pundak Claudia, lalu mengecup mesra pipi nya.
Degh...
Dada Claudia langsung berdegup kencang mendapat perlakuan mendadak seperti itu dari suami tua nya.
"Haduuuh, si beruang kutub ini apa-apaan sih? Bikin malu aku saja," gerutu Claudia dalam hati, lalu menundukkan kepala. Ia merasa malu atas perbuatan suaminya barusan.
"Iya iya, aku percaya kok. Tapi ya nggak gitu juga kali. Masa mesra-mesraan di tempat umum seperti itu sih? Ngeselin banget, bikin jiwa jomblo ku meronta-ronta saja," oceh Jeky mendengus kesal.
Ia menyandarkan punggung ke bahu sofa, lalu melipat kedua tangan di atas perut. Jeky tampak sangat dongkol melihat aksi nyeleneh sahabat nya tersebut.
"Loh, emang apa salah nya mesra-mesraan dengan istri sendiri?" tanya Hermawan dengan kening mengkerut.
"Toh, kami juga sudah sah sebagai suami istri, dan tidak ada satu orang pun yang bisa melarang, apa pun yang kami lakukan, termasuk kau!" lanjut Hermawan tidak terima dengan perkataan Jeky.
"Iya, aku tahu. Tapi ya, jangan manas-manasi gitu lah! Jangan mentang-mentang aku masih jomblo, trus kau seenaknya saja berbuat mesum di depan ku. Sakit mata ku lihat nya, tahu nggak?" gerutu Jeky tak mau kalah.
Mendengar ocehan Jeky, tawa Hermawan pun langsung pecah seketika. Ia merasa lucu melihat wajah kesal sahabat nya.
"Hahahaha, sukurin! Siapa suruh ngejomblo lama-lama?" gelak Hermawan.
Jeky semakin menekuk wajah nya. Ia semakin dongkol dengan ledekan Hermawan yang benar ada nya.
"Maka nya cepetan nikah, agar kau juga bisa mesra-mesraan seperti kami, hahahaha!" tutur Hermawan sambil terus mentertawai Jeky.
Gadis itu hanya tersenyum-senyum mendengar celotehan kedua lelaki yang ada di dekat nya. Karena merasa canggung, akhirnya Claudia pun pamit untuk kembali ke dalam kamar.
"Om, aku ke kamar dulu ya!" ucap Claudia.
"Ya, pergilah! Nanti Om nyusul," jawab Hermawan.
Setelah mendapatkan izin, Claudia pun segera beranjak dari sofa dan melangkah pergi menuju kamar yang berada di lantai atas.
Hermawan dan Jeky memandangi kepergian Claudia dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Mereka sama-sama terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Setelah bayangan Claudia hilang dari pandangan, Hermawan pun kembali membuka perbincangan.
"Gimana?" tanya Hermawan sambil mengangkat gelas, dan menyeruput kopi milik nya.
"Gimana apa nya?" tanya Jeky bingung lalu menyalakan rokok.
"Gimana menurut mu tentang istri ku tadi?" tanya Hermawan lagi.
"Oh, itu." Jeky terdiam sejenak. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Hmmmm, cantik. Kira-kira ada lagi nggak yang seperti itu?" tanya Jeky dengan wajah serius.
__ADS_1
"Emang kenapa?" selidik Hermawan.
"Kalau ada, aku juga mau. Biar langsung aku nikahi secepatnya," jawab Jeky dengan santai nya.
"Nggak ada. Itu barang langka, limited edition. Stok nya cuma ada satu di dunia." Hermawan menjawab dengan asal celotehan Jeky yang tidak masuk akal menurut nya.
"Ah, kamu ini. Masa sama teman sendiri seperti itu sih? Nggak asik banget," omel Jeky dengan wajah masam.
Hermawan hanya tersenyum miring melihat wajah sahabat nya. Setelah meletakkan gelas kopi itu ke atas meja, Hermawan pun kembali bersuara.
"Maka nya jangan nanya yang aneh-aneh. Kamu ini kan ganteng, macho, ya walaupun tidak seganteng aku sih," oceh Hermawan dengan sombongnya.
"Cih, pede sekali kamu! Ngaca dulu bro, baru ngomong!" gerutu Jeky sembari memutar bola mata malas.
"Hahahaha, emang kenyataan nya gitu kok. Lagian nih ya, masa kamu nggak bisa cari cewek sendiri sih? Malu-maluin saja," cibir Hermawan kembali tertawa ngakak.
"Bukan nggak bisa, Her. Tapi nggak sempat," bantah Jeky.
"Halah, alasan. Bilang saja kau sudah tidak laku lagi, dan tidak ada wanita yang mau dengan mu, ya kan?" cibir Hermawan sembari tersenyum meledek.
"Heh, kamvret! Jangan sembarangan kalo ngomong. Enak saja bilangin aku nggak laku lagi." Jeky melempar bantal sofa ke arah Hermawan.
Mendapat serangan mendadak, Hermawan pun langsung sigap menangkis lemparan Jeky dengan tangan nya. Alhasil, bantal sofa itu jatuh ke atas meja dan...
Praaaanggg...
Dua gelas kopi itu pun langsung jatuh dan berserakan di lantai.
"Waduhhh, bisa gawat nih urusan. Kabooorrr..." ucap Jeky dengan mata membulat melihat hasil perbuatan nya.
Ia langsung berlari dengan cepat menuju pintu utama. Setelah keluar dari rumah Hermawan, Jeky pun bergegas masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas.
Sementara itu, Hermawan hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kocak sahabat resek nya tersebut.
"Dasar, kutu kupret nggak ada akhlak!" umpat Hermawan lalu bangkit dari sofa dan melangkah menuju dapur.
"Mbok, tolong bersih kan ruang tengah ya! Saya mau ke kamar dulu," ucap Hermawan kepada mbok Saripah, asisten rumah tangga nya.
"Baik, pak." Mbok Saripah mengangguk mengiyakan ucapan majikan nya.
Setelah itu, Hermawan pun kembali melangkah menuju kamar pribadi nya. Ia nyelonong masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ceklek...
Mata Hermawan pun langsung membulat sempurna, ketika melihat Claudia yang sedang tertidur pulas di atas ranjang empuk milik nya, hanya dengan menggunakan daster pendek. Hingga membuat paha mulus nya terekspos dengan sangat jelas.
Glek...
Hermawan menelan ludah dengan susah payah, karena melihat pemandangan yang sangat menggiurkan di depan mata nya.
__ADS_1
"Duuuhh, kenapa dada ku jadi deg-degan gini sih?" gerutu Hermawan dalam hati.
๐บ Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya, tengkyu ๐๐บ