Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 42 ~ Calon Cucu


__ADS_3

Hermawan dan Claudia berjalan beriringan menuju lantai dasar sambil bergandengan tangan. Ketika berpapasan dengan mbok Saripah, Claudia pun menghentikan langkah nya.


"Mbok, malam ini kami tidak makan di rumah. Makanan yang kita masak tadi, boleh mbok makan bersama Yanto ya!" ucap Claudia.


"Baik, Non." Mbok Saripah mengangguk.


"Ya sudah, kami pergi dulu ya, mbok. Assalamualaikum," pamit Claudia lalu mencium punggung tangan wanita renta itu dengan takzim.


"Iya, Non. Wa'laikum salam," jawab mbok Saripah sembari menyunggingkan senyum.


Selesai berpamitan, Claudia kembali menggandeng lengan Hermawan dan melanjutkan langkah nya.


"Ayo, Om! Kita berangkat sekarang," seru Claudia.


"Oke, sayang."


Mereka berdua melangkah keluar dari rumah, lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Setelah memasang sabuk pengaman ke tubuh masing-masing, Hermawan pun mulai melajukan kendaraan nya ke jalan raya menuju ke kediaman Roy.


Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir setengah jam, mereka berdua pun sudah tiba di depan rumah bertingkat dua itu dengan selamat.


Sesudah memarkirkan mobil, Hermawan dan Claudia pun bergegas keluar dan berjalan menuju pintu utama.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum," salam Claudia sembari mengetuk-ngetuk pintu.


Mendengar suara anak semata wayang nya, wajah Roy pun langsung berbinar-binar.


Dengan senyum mengembang di bibir nya, Roy pun langsung menyahuti salam Claudia, dan bergegas membuka kan pintu untuk anak dan menantu nya tersebut.


"Wa'laikum salam, ya tunggu sebentar, Clau!" pekik Roy.


Ceklek...


Setelah pintu terbuka lebar, Roy pun langsung memeluk tubuh anak kandung nya itu dengan sangat erat. Ia tampak begitu merindukan putri kesayangan nya, yang sudah beberapa hari tidak kelihatan batang hidung nya.


"Bapak kangen banget dengan mu, Clau." Roy berbisik sambil membelai rambut pirang Claudia.


"Sama, Pak. Clau juga kangen banget sama bapak," balas Claudia dengan mata berkaca-kaca.


Ia membalas pelukan Roy, dan menenggelamkan wajah nya di dada bidang orang tua tunggal nya itu.

__ADS_1


Hermawan yang merasa di abaikan pun langsung memanyunkan bibir nya. Ia merasa sedikit cemburu melihat kedekatan anak dan bapak yang ada di depan nya.


Karena merasa risih dengan pemandangan yang ada di hadapannya, akhir nya Hermawan pun berinisiatif untuk melerai kemesraan anak beranak tersebut.


"Ekhem ekhem..."


Ia berdehem dua kali, lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Hermawan menatap sinis kepada Roy yang masih terus memeluk wanita kesayangan nya, tanpa menghiraukan kehadiran nya sedikit pun.


"Kalian berdua ini sudah kayak Teletubbies saja, pake acara pelukan segala. Risih mata ku lihat nya, tau gak?" sindir Hermawan ketus.


Mendengar sindiran pedas dari mulut suami nya, Claudia pun langsung melepaskan pelukan nya dari tubuh Roy, lalu menoleh ke samping.


"Hehehehe, maklum aja, Om. Nama nya juga lagi kangen," ucap Claudia nyengir kuda.


Hermawan tidak menggubris perkataan istri nya, ia masih terus memasang wajah dingin dan menatap tajam ke arah mertua nya.


"Halah, alasan. Pakai bilang risih segala lagi, bilang saja kalau kau cemburu dengan ku, ya kan?" cibir Roy sembari tersenyum miring.



"Cih, pede sekali kamu! Untuk apa juga aku harus cemburu dengan lelaki tua bangka seperti mu, hah? Buang-buang energi saja," bohong Hermawan.


Mendengar kata-kata "tua bangka" dari mulut Hermawan, tawa Roy pun langsung pecah seketika. Ia merasa lucu dengan candaan receh menantu yang ada di hadapan nya.


Hermawan memutar bola mata malas. Ia merasa mati kutu, saat mendengar ledekan Roy yang benar ada nya.


"Ya ya ya... Terserah kau saja lah..." balas Hermawan pasrah, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Claudia yang sedari tadi hanya terdiam melihat perdebatan mereka pun, hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengekori langkah suami nya dari belakang.


Pasangan pengantin baru itu duduk bersebelahan di atas sofa panjang. Sedangkan Roy, ia kembali mendudukkan bokong nya di depan mereka berdua.


"Mau minum apa, Om? Kopi atau teh?" tanya Claudia.


"Teh hangat saja, sayang. Om lagi malas minum kopi," jawab Hermawan.


"Oh, oke."


Setelah itu, Claudia mengalihkan pandangannya kepada Roy, dan mempertanyakan hal yang sama kepada nya.


"Kalau bapak, mau minum apa?"

__ADS_1


"Sama kan saja dengan suami mu, sayang. Biar adil," jawab Roy sembari tersenyum lebar, hingga menampilkan deretan gigi putih bersih nya.


"Oke, Pak. Tunggu sebentar ya, Clau buatkan minuman nya dulu!" ucap Claudia.


Ia segera beranjak dari tempat duduk nya, lalu melangkah menuju dapur untuk membuatkan dua gelas teh hangat untuk mereka berdua.


"Bagaimana, Her? Apakah semua nya baik-baik saja?" tanya Roy membuka percakapan.


"Ya, seperti yang kau lihat sendiri. Kami berdua baik-baik saja," jawab Hermawan sembari menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan.



"Oh, syukur lah kalau begitu. Aku ikut senang mendengar nya," lanjut Roy lega.


"Kau tidak usah khawatir, aku pasti akan menjaga putri mu dengan sebaik mungkin, percaya lah!" tutur Hermawan meyakinkan.


"Ya, aku percaya pada mu. Kau pasti akan menyayangi dan mencintai berlian ku itu dengan sepenuh hati mu," balas Roy dengan senyum sumringah di wajah nya.


Hening...


Mereka berdua kembali terdiam dan sibuk dengan isi kepala masing-masing. Beberapa detik kemudian, Roy pun kembali membuka suara.


"Gimana kabar tentang calon cucu ku? Kira-kira kapan kalian akan mewujudkan keinginan ku itu?" tanya Roy penuh harap.


"Ya, sabar dulu lah. Kau kira buat anak itu gampang apa? Semua nya butuh waktu, butuh proses juga. Bukan kayak beli ikan di pasar, pergi beli langsung dapat. Aneh-aneh saja!" oceh Hermawan panjang lebar.


"Ya... Siapa tahu saja sudah jadi, hehehehe..." balas Roy cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


Hermawan tidak membalas, ia tetap memasang wajah dingin, sambil sesekali menghisap rokok yang ada di tangan nya.


Tak lama berselang, Claudia pun muncul dengan membawa dua nampan di tangan nya. Ia meletakkan minuman dan cemilan itu ke atas meja, lalu kembali duduk di sebelah Hermawan.



"Ayo, di cicipi cemilan nya, Om, Pak!" ucap Claudia.


"Iya, sayang." jawab Hermawan dan Roy bersamaan.


Kedua lelaki itu mulai mengangkat gelas masing-masing, lalu menyeruput nya. Setelah itu, mereka pun mulai memakan makanan ringan yang sudah di masak oleh Claudia dengan santai.


"Apakah kalian berdua akan menginap disini malam ini?" tanya Roy kembali membuka perbincangan.

__ADS_1


🌺Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya bestie. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya untuk mendukung karya tulis Author ya 🌺


__ADS_2