
Claudia terus memfokuskan pandangannya ke arah luar pagar. Ia memperhatikan gerak-gerik Nadia yang sedang di halau oleh security dengan wajah kesal.
"HERMAWAN... KELUAR KAMU! SELESAIKAN DULU URUSAN DI ANTARA KITA. JANGAN JADI PENGECUT KAU HERMAWAN. CEPAT KELUAR HADAPI AKU!" teriak Nadia dengan suara yang sangat memekakkan telinga.
"Ck, ada urusan apa lagi sih di antara mereka berdua? Bukan nya mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi ya? Trus, apa nya yang mau di selesai kan?" gumam Claudia bingung.
"Ssstttt, jangan berisik, Nona! Tadi kan sudah saya bilang kalau Pak Hermawan sudah pergi ke kantor. Kenapa masih ngeyel aja sih di bilangin," omel Yanto security yang bertugas menjaga kediaman Hermawan.
"Bohong, aku tidak akan begitu saja percaya dengan ucapan mu itu. Cepat panggilkan Hermawan! Kalau tidak, jangan salah aku jika aku akan semakin nekat nantinya," ancam Nadia dengan wajah geram.
Mendengar ancaman receh Nadia, wajah Claudia pun memerah seketika. Ia tampak semakin kesal dan jengkel dengan kelakuan mantan kekasih dari suami nya itu.
"Wah wah wah, makin ngelunjak aja nih nenek sihir. Harus di beri pelajaran dulu kayak nya nih, biar dia mau angkat kaki dari sini," gumam Claudia lagi.
Claudia mengakhiri intipan nya, lalu berjalan ke arah dapur dengan langkah terburu-buru. Tak lama kemudian, ia pun kembali keluar dengan membawa satu tong air di tangan nya.
Claudia bergegas keluar dari rumah, lalu melangkah menghampiri Nadia yang masih betah bercekcok ria dengan Yanto.
Melihat kedatangan Claudia, wanita dewasa itu pun langsung menghentikan pertengkaran nya. Ia tersenyum miring dan melipat kedua tangan di atas perut. Nadia memandangi penampilan rival nya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan meledek.
"Akhirnya kamu keluar juga, bocah tengik. Dimana Hermawan? Cepat, suruh dia keluar sekarang! Ada yang ingin aku bicarakan dengan nya," perintah Nadia dengan sombong nya.
"Emang nya kamu siapa, berani nyuruh-nyuruh aku sembarangan, HAH?" bentak Claudia tak mau kalah.
Nadia mengepalkan tangan dan membulatkan mata lebar-lebar. Ia tidak menduga jika wanita muda yang ada di depan nya itu, berani berkata kasar dengan nya.
"Heh, bocah ingusan! Berani-beraninya kau membentak ku seperti itu, hah! Sudah bosan hidup kau ya?" bentak Nadia dengan suara yang semakin menggelegar.
"Hahahaha, nenek sihir... nenek sihir... Yang bosan hidup itu sebenarnya kau atau aku, hah?" tawa Claudia pecah seketika.
__ADS_1
Nadia semakin tersulut emosi. Ia menajamkan pandangan nya, lalu melangkah mendekati Claudia yang berada di dalam pagar. Nadia berusaha menggapai rambut pirang Claudia dan ingin menjambak nya dengan kuat.
Namun, semua itu tidak bisa ia lakukan. Karena Claudia langsung sigap menangkap tangan wanita itu, lalu memelintirnya dengan sekuat tenaga. Dan itu berhasil membuat Nadia memekik kuat sambil meringis kesakitan.
"Auw, sakiiiiit...! Lepaskan tangan ku, bocah gila! Kalau tidak, kau akan tanggung sendiri akibatnya!" ancam Nadia lagi.
"Coba saja kalau bisa, hahahaha..." ledek Claudia sembari tertawa terbahak-bahak.
Setelah puas memberi pelajaran kepada Nadia, ia pun mulai melepaskan tangan nya, lalu menyiram kan air yang ia bawa ke tubuh wanita itu.
Byuuuurrrrrr...
Satu tong air kran pun mendarat indah di tubuh semampai Nadia. Dan itu membuat nya semakin bertambah emosi dan mencak-mencak, seperti layak nya orang yang sedang kesurupan.
"Aaaaaaaaaa...!" teriak histeris Nadia menggema dengan nyaring, hingga membuat gendang telinga Claudia sedikit berdengung.
Yanto yang sedari tadi menjadi penonton setia pun hanya terbengong-bengong di tempat nya berdiri. Ia sama sekali tidak menyangka, jika majikan muda nya yang terlihat kalem dan lembut, ternyata bisa berubah menjadi singa ganas juga.
"Waduhhh, ternyata Nona Claudia bisa garang juga rupa nya, hahahaha..." gelak Yanto dalam hati.
"Kurang ajar kau bocah sialan! Awas kau ya, tunggu saja pembalasan ku. Aku akan pastikan, kalau kau akan menyesal dengan perbuatan mu ini, camkan itu baik-baik!" ucap Nadia dengan penuh peringatan.
"Ya ya ya, kamu tenang saja nenek sihir. Aku tidak akan lari kok, aku akan menunggu pembalasan mu disini, hahahaha..." balas Claudia kembali mentertawai wanita seksi yang ada di hadapannya.
Nadia menatap sinis ke arah Claudia, dan kembali mengepalkan kedua tangan nya. Ia tampak sangat murka atas perlakuan yang sudah ia terima hari ini.
"Sudah lah, Nona Nadia. Sebaik nya anda pergi saja dari sini. Dari pada nanti anda kena cakaran maut majikan saya, kan sayang tuh muka jadi rusak gara-gara racun yang ada di kuku majikan saya, hihihihi" bujuk Yanto cekikikan.
Claudia tersenyum miring, mendengar penuturan Yanto. Sedangkan Nadia, ia reflek menoleh ke arah jari-jemari rival nya dengan, dengan alis yang saling bertautan.
__ADS_1
Mata Nadia langsung melotot ketika melihat kuku-kuku tajam Nadia. Ia menelan ludah dengan kasar, lalu kembali menoleh ke arah Yanto.
Nadia berusaha menenangkan pikiran dan menetralkan ekspresi nya kembali seperti semula. Ia tidak ingin memperlihatkan ketakutan nya di depan Claudia dan juga Yanto.
"Hahahaha, jangan coba-coba mengancam ku satpam bod*h. Kau pikir aku bakalan takut, hah?" bentak Nadia.
"Kau dengar baik-baik ya, dan jangan lupa kau buka juga kuping mu itu lebar-lebar. Dia itu cuma bocah ingusan yang tidak tau diri. Dia itu bukan lawan seimbang untuk ku, paham!" tegas Nadia lalu melenggang pergi begitu saja ke dalam mobil nya.
"Helehh, alasan. Bilang saja kau takut, ya kan?" cibir Claudia memutar bola mata malas.
Karena merasa bosan dengan celotehan Nadia, akhirnya Claudia pun memutuskan untuk mengakhiri percekcokan nya. Ia menendang tong kosong itu ke arah Nadia dengan kuat, dan....
Pletok...
Tong itu pun melayang ke luar pagar dan berhasil mengenai kepala Nadia, hingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras.
"ADOOOOH, SAKIT BANGET KEPALA KU...!" teriak Nadia sambil memegangi kepala, yang baru saja terbentur kuat oleh tong pemberian Claudia.
"Hahahaha, kapok! Siapa suruh kegatalan terus sama suami orang? Sekarang, rasakan lah akibat nya," cibir Nadia kembali tergelak.
Selesai berucap, Claudia pun langsung melenggang pergi meninggalkan musuh baru nya. Ia meninggalkan Nadia begitu saja, tanpa memperdulikan wajah horor wanita tersebut.
"Awas kau, bocah gila! Aku akan membuat mu menyesal karena sudah mempermainkan ku seperti ini," gumam Nadia geram dan kembali mengepalkan tangan.
Dengan keadaan basah kuyup, Nadia pun akhirnya pergi dari kediaman Hermawan dengan menggunakan mobil sport nya. Ia langsung tancap gas meninggalkan Yanto yang masih berdiri tegak di depan pagar, dengan senyum aneh di wajah nya.
Setelah bayangan Nadia hilang dari pandangan mata nya, Yanto kembali melangkah menuju pos penjagaan dan menyeruput kopi nya kembali.
"Hufff, akhirnya selesai juga perang dunia nya," gumam Yanto menghela nafas lega.
๐บ Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian sesudah membaca ya man teman makasih ๐๐บ
__ADS_1